Oleh Dr. Suwardi,M.Pd.I (Wakil Rektor 2 Universitas Muhammadiyah Madiun)
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Hadirin yang dirahmati Allah, setiap manusia pada hakikatnya memiliki dua jenis usia. Pertama adalah umur biologis, yakni rentang waktu pendek antara tangisan kelahiran hingga helaan napas terakhir yang rata-rata hanya 60 hingga 70 tahun saja. Namun, seorang mukmin yang cerdas tidak akan membiarkan dirinya terkunci dalam keterbatasan waktu tersebut. Ia akan berjuang keras untuk menciptakan umur kedua, sebuah masa di mana raga telah menyatu dengan tanah, namun catatan pahalanya terus mengalir, namanya tetap disebut dalam doa-doa penduduk bumi, dan kebermanfaatannya tetap dirasakan oleh generasi setelahnya. Strategi utama dalam membangun umur kedua ini telah dirumuskan secara sempurna oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadits shahih:
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Jika manusia mati, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: Sedekah jariyah, ilmu yang diambil manfaatnya, atau anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim).
Hadits ini adalah “cetak biru” investasi akhirat kita. Sedekah jariyah, seperti wakaf, ibarat mesin pahala yang terus bekerja saat kita telah terlelap di alam barzakh. Ilmu yang kita ajarkan akan terus beranak-pinak setiap kali dipraktikkan, dan anak shalih adalah perpanjangan tangan kita untuk terus mengetuk pintu rahmat Allah melalui doa tulus mereka. Selain itu, kita bisa memperpanjang “usia” ketaatan kita dengan menjadi pelopor kebaikan. Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً، فَلَهُ أَجْرُهَا، وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ
Barangsiapa yang memulai dalam Islam suatu tradisi yang baik, maka ia mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengerjakannya setelahnya.
Dengan menjadi inisiator program dakwah atau sosial, kita tetap “hidup” dalam setiap derap langkah kebaikan yang dilakukan orang lain karena teladan yang pernah kita tinggalkan.
Allah SWT sendiri telah menegaskan pentingnya meninggalkan jejak kebaikan dalam firman-Nya di QS. Yasin ayat 12:
إِنَّا نَحْنُ نُحْيِ الْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ
“Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan.”
Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “Atsar” atau bekas-bekas adalah dampak dari setiap perbuatan kita. Lihatlah bagaimana Sahabat Utsman bin Affan RA masih memiliki “umur kedua” hingga 1400 tahun lamanya melalui wakaf sumur yang kini berkembang menjadi aset produktif bagi umat. Atau perhatikan bagaimana Imam An-Nawawi yang meski wafat di usia muda, namun melalui kitab Riyadhus Shalihin, beliau seolah-olah masih hidup dan mengajar di jutaan mimbar masjid setiap harinya. Maka hadirin, jangan biarkan nama kita terhapus begitu saja saat tanah menutupi jasad. Mulailah menulis ilmu, mewakafkan harta, atau mendidik anak dengan takwa, karena orang yang paling bahagia adalah ia yang napasnya telah berhenti, namun aliran pahalanya tidak pernah terhenti.
Kata Mutiara:
“Hiduplah sedemikian rupa sehingga saat kau wafat, dunia kehilangan seorang tokoh, namun akhirat menyambut seorang pemenang yang bekalnya terus datang tanpa putus.”
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.





