Oleh Dr. Suwardi,M.Pd.I (Wakil Rektor 2 Universitas Muhammadiyah Madiun)
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Hadirin yang dirahmati Allah, saat ini kita telah berada di pengujung bulan Ramadhan, sebuah fase krusial yang seringkali disebut sebagai “garis finis” dalam perlombaan amal saleh. Di sepuluh hari terakhir ini, Rasulullah SAW memberikan keteladanan yang luar biasa melalui ibadah I’tikaf, yaitu berdiam diri di masjid dengan niat murni untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. I’tikaf bukan sekadar berdiam diri secara fisik, melainkan sebuah upaya untuk memutus hubungan sementara dengan kesibukan duniawi agar ruhani kita bisa fokus bermunajat, berdzikir, dan bermuhasabah. Hal ini menjadi momentum bagi seorang hamba untuk benar-benar mengadu kepada Penciptanya, membersihkan noda di hati, dan menguatkan kembali komitmen ketaqwaan sebelum Ramadhan berpamitan.
Landasan syariat mengenai i’tikaf ini telah diabadikan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 187:
وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ ۗ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا
“…dan janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu ber-i’tikaf dalam masjid. Itulah batas-batas (hukum) Allah, maka janganlah kamu mendekatinya.”
Ayat ini menunjukkan bahwa i’tikaf memiliki kedudukan yang mulia di sisi Allah, sehingga bagi mereka yang melaksanakannya, terdapat aturan-aturan khusus guna menjaga kesucian ibadah tersebut.
Semangat dalam mengejar keridhaan Allah di penghujung Ramadhan ini tergambar jelas dalam sejarah kehidupan Baginda Nabi SAW. Sebagaimana diceritakan oleh Ummul Mukminin Aisyah RA dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim:
كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ
“Nabi SAW ber-i’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari Ramadhan sampai beliau wafat.” (HR. Bukhari No. 2026 dan Muslim No. 1172).
Hadits ini menjadi bukti bahwa i’tikaf bukanlah sekadar anjuran biasa, melainkan sunnah yang sangat ditekankan (muakkadah). Rasulullah SAW sengaja “mengencangkan ikat pinggang” dan menjauh dari tempat tidur di hari-hari terakhir tersebut semata-mata untuk memburu kemuliaan Malam Lailatul Qadar—malam yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan.
Para sahabat Nabi pun memahami betul bahwa i’tikaf adalah sarana terbaik untuk menggapai puncak keberkahan Ramadhan. Selama berada di dalam masjid, seorang muktakif (orang yang ber-i’tikaf) dianjurkan untuk mengisi setiap detiknya dengan aktivitas langit: menghidupkan shalat malam, melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an, memperbanyak doa ampunan, serta merenungi segala dosa yang telah lalu. Janganlah sampai kesibukan mempersiapkan perayaan Idul Fitri justru melalaikan kita dari hakikat utama Ramadhan, yaitu ampunan dan pembebasan dari api neraka. Ingatlah, bahwa kesempatan untuk berduaan dengan Allah di rumah-Nya adalah nikmat yang sangat besar yang tidak diberikan kepada semua orang.
Oleh karena itu, mari kita manfaatkan sisa waktu yang singkat ini untuk menjemput rahmat Allah melalui i’tikaf, baik secara penuh maupun di waktu-waktu yang kita mampu. Jangan biarkan malam-malam berharga ini berlalu begitu saja tanpa jejak ketaatan yang membekas di buku amal kita. Semoga dengan i’tikaf yang tulus, kita semua digolongkan sebagai pemenang yang berhasil meraih kemuliaan Lailatul Qadar.
Kata Mutiara:
“I’tikaf adalah cara seorang hamba mengetuk pintu langit dengan keheningan; di saat dunia terlelap, ia justru terjaga untuk memastikan namanya tertulis di antara mereka yang beruntung.”
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.





