Kultum Ramadhan hari ke-30:Gema Takbir Merayakan Kemenangan dan Kembali ke Fitrah

Oleh Dr. Suwardi,M.Pd.I (Wakil Rektor 2 Universitas Muhammadiyah Madiun)

Muqaddimah dan Syiar Takbir Segala puji bagi Allah SWT, Rabb semesta alam yang telah mempertemukan kita dengan hari kemenangan ini. Shalat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Baginda Nabi Muhammad SAW. Hari ini, jagat raya bergetar oleh lantunan takbir yang menggema dari lisan setiap mukmin. Takbir ini bukanlah sekadar rangkaian kata tanpa makna, melainkan proklamasi kemenangan atas hawa nafsu yang telah kita lalui selama sebulan penuh. Sebagaimana perintah Allah dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 185:

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“…Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah (bertakbir) atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”

Suara takbir yang kita kumandangkan adalah wujud syukur terdalam karena Allah telah membimbing kita menyelesaikan Madrasah Ramadhan. Kita membesarkan nama-Nya karena sadar bahwa tanpa taufik-Nya, tak mungkin kita sampai pada titik kemenangan ini.

Hakikat Kemenangan dan Kesucian Idul Fitri adalah momentum di mana kita kembali kepada “Fitrah” atau asal kejadian kita yang suci. Kemenangan sejati bukanlah pada pakaian yang baru atau hidangan yang mewah, melainkan pada hati yang telah dibersihkan melalui puasa, shalat malam, dan tilawah. Rasulullah SAW memberikan kabar gembira bagi mereka yang bersungguh-sungguh dalam ibadahnya melalui hadits shahih:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari & Muslim).

Dengan diampuninya dosa-dosa tersebut, kita melangkah di hari raya ini seperti bayi yang baru lahir, putih bersih tanpa noda. Inilah kemenangan spiritual yang sesungguhnya; saat kita berhasil meruntuhkan ego dan kesombongan, lalu menggantinya dengan kerendahan hati di hadapan Sang Khalik.

Kemenangan Sosial dan Silaturahmi Namun, kesucian hubungan dengan Allah (Hablum minallah) tidaklah lengkap tanpa kesucian hubungan antar sesama manusia (Hablum minannas). Idul Fitri adalah saat yang paling tepat untuk meruntuhkan tembok permusuhan dan menyambung tali persaudaraan yang sempat merenggang. Kemenangan ini menuntut kita untuk menjadi pribadi yang pemaaf, melapangkan dada, dan menebar kasih sayang. Mari kita hiasi hari ini dengan saling mendoakan “Taqabbalallahu minna wa minkum” (Semoga Allah menerima amal kami dan amal kalian).

Penutup dan Kata Mutiara Sebagai penutup, mari kita ingat bahwa Idul Fitri adalah garis “start” menuju perjalanan sebelas bulan ke depan, bukan garis “finish” untuk berhenti beribadah. Pertahankan pancaran cahaya Ramadhan dalam perilaku kita sehari-hari. Sebagaimana kata mutiara Islam yang bijak:

“Hari Raya bukanlah bagi orang yang berpakaian baru, tetapi Hari Raya adalah bagi orang yang ketaatannya terus bertambah. Bukan pula bagi orang yang tampilannya mempesona, melainkan bagi orang yang dosanya telah diampuni oleh Yang Maha Kuasa.”

Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah kita dan menjadikan kita termasuk golongan orang-orang yang meraih kemenangan sejati. Minal Aidin wal Faizin, mohon maaf lahir dan batin.

Bagikan

Baca juga

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Trending

Scroll to Top