Kultum Ramadhan Hari Ke-5: Meraih Berkah melalui semangat berbagi

Oleh Dr. Suwardi, M.Pd.I (Wakil rektor 2 Universitas Muhammadiyah Madiun)

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Segala puji bagi Allah SWT, Sang Pemilik Kehidupan, yang dengan kasih sayang-Nya telah menghidupkan kembali pelita iman di dalam hati kita, sehingga kita diberikan kesempatan emas untuk bersimpuh di haribaan bulan Ramadhan yang penuh maghfirah. Shalawat serta salam teriring doa semoga senantiasa tercurah kepada Baginda Nabi Muhammad SAW, pribadi agung yang kedermawanannya di bulan suci ini digambarkan para sahabat lebih cepat daripada hembusan angin yang dikirimkan.

Hadirin yang dirahmati Allah, penting bagi kita untuk memahami bahwa Ramadhan bukanlah sekadar ritual tahunan untuk menahan lapar dan dahaga dari terbit fajar hingga tenggelamnya matahari. Lebih dari itu, bulan ini adalah sebuah “madrasah spiritual” yang dirancang untuk mengikis sifat kikir dan mengasah kepekaan sosial kita terhadap sesama. Salah satu manifestasi iman yang paling menyentuh dan penuh kehangatan di bulan ini adalah semangat berbagi makanan berbuka atau takjil. Meski seringkali yang kita berikan tampak sederhana—mungkin hanya segelas air atau beberapa butir kurma—namun di sisi Allah, tindakan tersebut memiliki bobot pahala yang sangat berat di timbangan akhirat kelak.

Keutamaan memberi makan orang yang berpuasa bukanlah sekadar anjuran sosial biasa, melainkan sebuah peluang strategis bagi seorang mukmin untuk melipatgandakan pahalanya tanpa batas. Rasulullah SAW telah menjanjikan sebuah “keuntungan investasi” akhirat yang luar biasa bagi siapa saja yang mau menyisihkan sebagian rezekinya untuk saudaranya yang berbuka. Sebagaimana ditegaskan dalam hadits shahih:

 مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ

 “Siapa yang memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun.” (HR. Tirmidzi). Bayangkan betapa luasnya samudera rahmat Allah; dengan sedikit pemberian yang kita sampaikan kepada seorang musafir, tetangga, atau kaum dhuafa, kita berhak mendapatkan pahala puasa mereka secara utuh tanpa mengurangi jatah mereka sedikit pun. Inilah cara paling cerdas bagi seorang mukmin untuk memanen pahala di ladang Ramadhan yang sangat singkat ini.

Lebih jauh lagi, kedermawanan di bulan suci ini merupakan kunci pembuka bagi pintu-pintu surga yang eksklusif. Allah SWT sangat mencintai hamba-Nya yang memiliki empati terhadap urusan perut saudaranya, terutama di saat-saat mereka berada dalam puncak kelelahan setelah seharian beribadah. Karakter mulia ini telah diabadikan Allah dalam Al-Qur’an sebagai ciri utama penghuni surga dalam Surah Al-Insan ayat 8-9:

 وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا . إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا.

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. (Sambil berkata): ‘Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih’.”

 Ayat ini mengingatkan kita bahwa ketika kita berbagi takjil atau menyelenggarakan buka puasa bersama, pondasi utamanya haruslah keikhlasan yang murni. Kita memberi bukan karena ingin dipuji sebagai orang dermawan, bukan pula mengharap ucapan terima kasih atau balasan materi, melainkan semata-mata karena kita sedang memburu “Wajah” Allah dan ridha-Nya yang abadi.

Sebagai penutup yang indah untuk kita renungkan bersama, camkanlah sebuah kata mutiara ini: “Tangan yang memberi tidak akan pernah merasakan kekurangan, karena sesungguhnya ia tidak sedang membuang harta, melainkan sedang menanam benih di kebun Allah yang luasnya seluas langit dan bumi.” Jangan pernah merasa kecil atas apa yang mampu kita berikan, karena boleh jadi sekerat roti atau sebotol air yang kita bagikan dengan ketulusan hati akan menjadi pembela dan penolong kita yang paling setia di hadapan pengadilan Allah kelak. Semoga Ramadhan tahun ini benar-benar membentuk kita menjadi pribadi yang lebih lembut hati, dermawan, dan senantiasa peduli pada kebahagiaan orang lain.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Bagikan

Baca juga

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Trending

Scroll to Top