
Oleh Dr. Suwardi, M.Pd.I (Wakil rektor 2 Universitas Muhammadiyah Madiun)
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam yang telah memuliakan manusia dengan hidayah Al-Qur’an. Kita bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad SAW adalah utusan-Nya yang membawa rahmat bagi seluruh alam. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada beliau, keluarga, dan para sahabatnya yang telah memperjuangkan tegaknya kalimat Allah di muka bumi.
Hadirin yang dimuliakan Allah, semangat kita dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an, atau yang sering kita sebut dengan tadarus, adalah tanda hidupnya iman di dalam dada. Namun, perlu kita renungkan kembali bahwa esensi dari membaca Al-Qur’an bukan sekadar mengejar kecepatan atau jumlah khatam yang banyak dalam waktu singkat. Allah SWT telah memberikan panduan yang jelas dalam cara membaca kitab suci ini agar pesan-pesan langit tersebut meresap ke dalam sanubari. Sebagaimana firman-Nya dalam Surah Al-Muzzammil ayat 4:
وَرَتِّلِ الْقُرْاٰنَ تَرْتِيْلًاۗ
“Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan (tartil).”
Membaca secara tartil berarti memperhatikan makhraj huruf, hukum tajwid, serta memberikan jeda yang tepat agar kita sempat merenungi makna di balik setiap ayat. Tartil adalah bentuk penghormatan kita kepada kalam Allah yang agung.
Pentingnya menjaga rutinitas tadarus ini bukan tanpa alasan yang sia-sia. Al-Qur’an bukan sekadar barisan tulisan, melainkan entitas yang akan mengenali pembacanya di hari kiamat kelak. Di saat setiap manusia sibuk dengan urusannya masing-masing dan merasa ketakutan akan hisab, Al-Qur’an akan datang sebagai pembela yang setia. Rasulullah SAW bersabda dalam hadist riwayat Imam Muslim:
اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ
“Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat (penolong) bagi para pembacanya.”
Bayangkan, setiap huruf yang kita ucapkan dengan susah payah saat di dunia akan menjadi saksi yang meringankan beban kita di padang mahsyar. Inilah janji pasti bagi mereka yang meluangkan waktunya untuk bercengkerama dengan Al-Qur’an secara istiqamah.
Bagi saudara-saudaraku yang mungkin saat ini masih merasa kesulitan, terbata-bata, atau merasa lidahnya kaku dalam melafalkan ayat-ayat suci, janganlah sekali-kali rasa malu menghentikan langkah kalian untuk bertadarus. Islam adalah agama yang sangat menghargai proses dan usaha. Rasulullah SAW memberikan motivasi yang sangat indah bagi mereka yang sedang belajar melalui sabdanya:
الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ، وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ، وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ، لَهُ أَجْرَانِ
“Orang yang mahir membaca Al-Qur’an akan bersama para malaikat yang mulia. Sedangkan orang yang membaca Al-Qur’an dengan terbata-bata dan merasa kesulitan, maka baginya dua pahala.” (HR. Bukhari & Muslim)
Dua pahala tersebut adalah pahala atas bacaannya dan pahala atas kesungguhannya dalam berjuang melawan kesulitan. Oleh karena itu, semangat tadarus harus dibarengi dengan semangat belajar (talaqqi) agar kualitas bacaan kita semakin baik dari hari ke hari.
Sebagai penutup, mari kita camkan sebuah kata mutiara yang sangat menyentuh: “Jadikanlah Al-Qur’an sebagai imam dalam hidupmu, maka ia akan menuntunmu ke surga. Jangan jadikan ia hanya sebagai hiasan di lemari, karena ia akan menuntutmu di hadapan Ilahi.” Al-Qur’an adalah cahaya; ia menyinari hati yang gelap, menenangkan jiwa yang gelisah, dan memberikan arah pada hidup yang kehilangan kompas. Semoga kita semua termasuk golongan Ahlul Qur’an yang kelak mendapatkan syafaatnya yang agung.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.





