Oleh Dr. Suwardi, M.Pd.I (Wakil rektor 2 Universitas Muhammadiyah Madiun)
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT yang memberikan nikmat iman dan masa muda yang penuh energi. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada teladan abadi kita, Nabi Muhammad SAW, yang sangat mencintai para pemuda yang taat kepada Allah.
Hadirin yang dirahmati Allah, masa muda adalah masa keemasan yang akan dimintai pertanggungjawabannya secara khusus. Salah satu bukti keimanan yang paling nyata bagi seorang pemuda adalah ketika ia menambatkan hatinya di rumah Allah. Masjid bukan hanya tempat bagi orang tua atau mereka yang sudah pensiun, melainkan markas besar bagi pemuda untuk menempa diri. Allah SWT berfirman tentang kriteria orang yang benar-benar memakmurkan masjid dalam Surah At-Taubah ayat 18:
إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ
“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah.”
Ayat ini menegaskan bahwa mengelola dan memakmurkan masjid adalah tugas orang-orang beriman. Jika pemuda mengambil peran sebagai pengelola masjid, maka ia telah memproklamirkan imannya secara nyata.
Keuntungan bagi pemuda yang hatinya terpaut pada masjid sangatlah luar biasa. Di saat matahari didekatkan di padang Mahsyar dan tidak ada perlindungan apa pun, Allah akan memberikan naungan khusus bagi pemuda masjid. Rasulullah SAW bersabda dalam hadist muttafaq ‘alaih:
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ… وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ
“Ada tujuh golongan yang akan dinaungi Allah dalam naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya… (di antaranya) pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Rabb-nya, dan seseorang yang hatinya terpaut dengan masjid.” (HR. Bukhari & Muslim)
Terpaut hati berarti selalu merindu untuk kembali ke masjid, ikut serta menjaga kebersihannya, menghidupkan kajiannya, dan menjadi penggerak manajemen masjid agar lebih modern dan relevan dengan zaman.
Hadirin, sudah saatnya pemuda bukan lagi sekadar menjadi “tamu” di masjid, melainkan menjadi “tuan rumah” atau pengelola. Masjid membutuhkan inovasi, kreativitas, dan energi besar yang hanya dimiliki oleh kaum muda. Ingatlah sejarah Ashabul Kahfi, sekumpulan pemuda yang mempertahankan iman mereka dan Allah muliakan namanya dalam Al-Qur’an. Jika masjid dikelola oleh pemuda yang beriman, maka masjid akan menjadi pusat solusi bagi umat.
Sebagai penyemangat, mari kita renungkan kata mutiara berikut:
“Jika engkau ingin melihat masa depan suatu bangsa, lihatlah siapa yang mengisi shaf-shaf shalat subuhnya. Jika dipenuhi oleh pemuda, maka jayalah bangsa itu.” “Jangan menunggu tua untuk dekat dengan masjid, karena syarat mati tidak harus tua. Jadilah pemuda yang dicari-cari di dunia karena karyanya, dan dicari-cari malaikat di langit karena sujudnya.”
Sebagai penutup, mari kita ajak rekan-rekan muda kita untuk kembali ke masjid. Mari kita jadikan masjid sebagai tempat yang ramah, asyik, dan penuh manfaat. Semoga Allah SWT melembutkan hati kita untuk selalu mencintai rumah-Nya.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.





