Kultum Ramadhan Hari Ke-8:Syarat Berkumpul Bersama Keluarga di Surga (Reuni Abadi)

Oleh Dr. Suwardi, M.Pd.I (Wakil rektor 2 Universitas Muhammadiyah Madiun)

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Segala puji bagi Allah SWT yang telah menanamkan rasa cinta dan kasih sayang di antara anggota keluarga kita. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Baginda Nabi Muhammad SAW, yang telah mengajarkan kita bagaimana cara membimbing keluarga menuju ridha-Nya.

Hadirin yang dirahmati Allah, cinta sejati bukanlah cinta yang hanya bersemi di dunia, lalu terputus oleh kematian. Cinta sejati adalah cinta yang membawa kita dan seluruh anggota keluarga—ayah, ibu, pasangan, dan anak-anak—untuk kembali berkumpul di dalam surga Allah SWT. Namun, reuni abadi ini memiliki syarat utama yang tidak bisa ditawar, yaitu kesamaan dalam landasan iman dan amal shaleh. Allah SWT memberikan janji indah ini dalam Al-Qur’an Surah At-Thur ayat 21:

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ

“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka.”

Ayat ini menegaskan bahwa syarat mutlak untuk berkumpul kembali adalah “Iman”. Meskipun tingkat amalan setiap anggota keluarga berbeda, Allah dengan kemurahan-Nya akan mengangkat derajat anggota keluarga yang amalannya lebih rendah untuk berkumpul bersama anggota keluarga yang derajatnya lebih tinggi di surga, selama mereka semua memegang teguh tali keimanan.

Hadirin sekalian, selain iman, syarat kedua adalah peran aktif kita untuk saling menjaga dari kemaksiatan. Seorang kepala keluarga memiliki tanggung jawab besar untuk menjadi nakhoda yang mengarahkan bahtera keluarganya menjauhi api neraka. Hal ini sebagaimana perintah Allah dalam Surah At-Tahrim ayat 6:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”

Menjaga keluarga berarti memastikan setiap anggota keluarga melaksanakan kewajiban ibadah dan menjauhi larangan Allah. Saling mengingatkan dalam kebaikan (tawashau bil haq) adalah kunci agar ikatan kekeluargaan tidak terputus di hari kiamat. Rasulullah SAW juga bersabda tentang tanggung jawab ini:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari & Muslim)

Oleh karena itu, hadirin yang berbahagia, mari kita jadikan rumah kita sebagai taman surga sebelum surga yang sesungguhnya. Didiklah anak-anak dengan Al-Qur’an, hiasi rumah dengan shalat jamaah, dan penuhi interaksi antaranggota keluarga dengan akhlak mulia. Jika kita bersama-sama dalam ketaatan, maka Allah akan menyatukan kita kembali dalam kebahagiaan yang tak bertepi.

Sebagai penutup, mari kita renungkan kata mutiara berikut:

“Cinta yang paling tulus adalah saat seorang anggota keluarga tak hanya ingin melihatmu bahagia di dunia, tapi juga berjuang keras agar bisa memegang tanganmu lagi di pintu surga.”

“Jangan biarkan ada satu pun kursi kosong di surga nanti yang seharusnya diisi oleh keluargamu. Mari saling memaafkan dan saling membimbing dalam ketaatan sekarang juga.”

Semoga Allah SWT mengumpulkan kita semua bersama orang-orang tercinta kita di dalam Surga Firdaus-Nya. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Bagikan

Baca juga

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Trending

Scroll to Top