MADIUN – Selain menghadirkan narasumber pakar komunikasi dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Seminar Media dan Komunikasi yang dihelat Universitas Muhammadiyah Jawa Timur (UMJT) pada Senin, 12 Oktober 2026 juga menghadirkan narasumber “bintang tamu”
Ia adalah Elita Putri Pradipta, M.Medkom, The Best Student Program Study Media dan Komunikasi Program Magister Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Tahun 2024.
Wakil Rektor UMJT, Dr. Fajar Junaedi, M.Si mengatakan, Elita Putri diharapkan bisa mendorong mahasiswa UMJT menjadi mahasiswa yang berprestasi secara akademik.
Hal itu bisa dilakukan dengan membuat publikasi di jurnal-jurnal terakreditasi, ikut serta dalam konferensi ataupun menjadi pemakalah dalam konferensi.
“Elita adalah alumni dari S2 Medkom UMY yang berprestasi. Selama menjadi mahasiswa berhasil publikasi di berbagai jurnal terakreditasi Sinta dan juga Scopus. Aktif menjadi pemakalah dalam konferensi internasional serta lulus dengan IPK 4,” terang Fajar Junaedi.
Sementara itu, Dr. Senja Yustitia menyampaikan, Elita Putri menjadi lulusan terbaik, Best Student Program Studi Media dan Komunikasi Program Magister UMY dengan IPK 4.0 dan lulus tepat waktu.
“Dia lulus melalui jalur publikasi. Elita punya kualitas cukup baik. biasa mendesiminasikan pikirannya, biasa ikut conference, biasa menulis, wawasan kritisnya juga terasah. Kuliah itu kan seperti itu. Tempat untuk mendiskusikan banyak hal,” terang Senja.
Mengenai materi yang disampaikan Elita, Senja Yustitia mengatakan, Elita menghadirkan pembahasan mengenai kehadiran teknologi yang juga memiliki risiko-risiko yang harus menjadi perhatian juga disamping hal-hal bagus dari teknologi itu sendiri.
“Misalnya soal kelelahan digital bagi mereka yang bekerja di lingkungan digital. Hal itu juga perlu menjadi perhatian, perlu dilihat sebagai sesuatu yang penting,” terang Senja.
Materi
Dalam kesempatan tersebut, Elita Putri menerangkan dua penelitian lapangan yang ia lakukan yang dirangkum dalam Perspektif Studi Empiris Menatap Disrupsi Media melalui Praktik Khalayak: Fenomena Jastip dan Guru Gembul.
Mengenai penelitian fenomena Jastip atau jasa titip yang terbit di Jurnal ASPIKOM, Elita menemukan fenomena digital hustle berupa kebebasan kerja bagi pekerja namun ia mengalami kelelahan digital, ketergantungan algoritma, dan kehilangan batas jam kerja.
Mungkin mereka (pelaku jastip) ini bisa punya uang banyak, tapi ternyata mereka ini harus live 24 jam, kena red line di imigrasi, harus upload selama disana (diluar negeri), belum capeknya. Kenapa karena audience di media sosial,” terang Elita yang mewawancarai 5 pelaku usaha jastip dalam penelitiannya.
Mengenai penelitian fenomena Youtuber Guru Gembul, Elita menyampaikan dalam makalahnya dari fenomena Guru Gembul ini terjadi disrupsi pakar akademis dimana wacana publik kini dipandu oleh creator independen dengan memanfaatkan logika algoritma media sosial yang melampaui institusi formal.
“Beliau conten creator youtube yang tanpa kita tahu latar belakang pendidikan tapi dia share agama, politik. Setiap ada isu trend dia (ikut) upload. Dia menggunakan ciri khas peci, simbol yang membuat audience percaya kalau ia ahli agama, meski dia tidak mengklaim ahli agama,” ujar Elita.
Elita menyampaikan, fenomena Guru Gembul merupakan fenomena demokratisasi informasi versus misinformasi yang membuka ruang diskusi public baru sekaligus mengaburkan batas keahlian kepakaran.
“Khalayak menjadi penguji kritis melalui kolom komentar sebagai arena pertarungan diskursus (counter power) aktif warganet,” terang Elita. (*)





