MADIUN – Menjadi mahasiswa tingkat akhir sekaligus mengemban tanggung jawab sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) paruh waktu di Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Madiun tidak menyurutkan semangat Muklis Rifai (NIM 2272201019) untuk mandiri secara ekonomi. Mahasiswa Semester 8 Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial ini sukses mengembangkan usaha bengkel roda komprehensif bernama “Muklis Ban” yang dirintisnya sejak 4 Januari 2016.
Muklis Ban merupakan usaha jasa yang melayani pemeriksaan ban, tambal ban (baik tubeless, biasa, press, hingga ganti ban tip top), perawatan, ganti oli, hingga perbaikan segala hal yang berkaitan dengan roda kendaraan. Guna menjangkau masyarakat lebih luas, Muklis kini mengoperasikan dua cabang strategis di Kota Madiun, yaitu Muklis Ban 1 di Jalan Imam Bonjol No. 38 dan Muklis Ban 2 di Jalan Setia Budi Timur. Bengkel ini beroperasional setiap hari dari Senin hingga Minggu mulai pukul 07.30 sampai 21.30 WIB.
“Muklis Ban hadir untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan ban kendaraan yang berkualitas, aman, dan terjangkau. Kami juga berkomitmen memberikan pelayanan yang cepat dan terpercaya bagi pengguna kendaraan di Kota Madiun dan sekitarnya,” tutur Muklis. Dalam menjalankan operasional sehari-hari, Muklis dibantu oleh tim karyawan yang solid berjumlah 5 orang. Pelayanan yang diberikan pun sangat profesional, mencakup penyediaan berbagai pilihan merek ban, konsultasi gratis, serta dukungan peralatan modern.
Keberhasilan Muklis ini menuai apresiasi tinggi dari dunia akademis. Kaprodi Ilmu Kesejahteraan Sosial, Bu Qoniah, menyampaikan rasa bangganya terhadap capaian sang mahasiswa. “Kami sangat bangga dengan dedikasi Mas Muklis. Sebagai mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial, ia tidak hanya belajar teori di kelas, tetapi benar-benar mempraktikkan pilar kemandirian ekonomi dan pemberdayaan masyarakat dengan membuka lapangan pekerjaan bagi lima orang karyawannya. Ini adalah wujud nyata dari jiwa sociopreneurship yang kami dorong di kampus,” ujar Bu Qoniah selaku Ketua Program Studi. Kisah Muklis menjadi bukti nyata bahwa kesibukan menyusun tugas akhir dan bekerja paruh waktu bukan penghalang untuk menciptakan dampak positif bagi kesejahteraan sosial masyarakat sekitar.