MADIUN – Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi UMMAD (Universitas Muhammadiyah Madiun) tengah mempersiapkan penyelenggaraan Madiun Martial Arts Carnival (MMAC) 2026, sebuah pagelaran seni bela diri pencak silat yang dirancang untuk memperkuat identitas Kota Madiun sebagai Kota Pendekar.
Kegiatan yang mengusung tema “Merawat Tradisi, Menguatkan Identitas Kota Pendekar” tersebut dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 13 Juni 2026 di kawasan Pahlawan Street Center. Acara akan digelar dalam dua sesi, yakni sore dan malam hari.
Ketua panitia MMAC, Muhammad Syaifudin, menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai ruang ekspresi budaya bagi perguruan pencak silat di wilayah Madiun Raya sekaligus memperkuat citra kota sebagai pusat tradisi bela diri di Indonesia.
“Selama ini identitas Kota Pendekar sudah sangat kuat di masyarakat. Melalui MMAC, kami ingin menghadirkan panggung kolaboratif yang mampu menampilkan kekayaan seni pencak silat secara lebih terstruktur dan atraktif,” ujarnya.
Menurut panitia, pencak silat bukan sekadar olahraga bela diri, tetapi juga warisan budaya yang sarat nilai filosofi, disiplin, dan kearifan lokal. Bahkan pencak silat telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh UNESCO, sehingga upaya pelestarian melalui event publik dinilai sangat penting.
Melalui konsep karnaval seni bela diri, MMAC akan menghadirkan berbagai pertunjukan seperti demonstrasi jurus, koreografi massal perguruan silat, hingga atraksi seni tradisional yang merepresentasikan karakter masing-masing perguruan di Madiun Raya.
Selain sebagai ruang ekspresi budaya, kegiatan ini juga diarahkan untuk mendukung pengembangan sektor pariwisata berbasis budaya lokal. Panitia berharap MMAC dapat menjadi agenda event tahunan yang mampu menarik kunjungan masyarakat sekaligus memperkuat sinergi antarperguruan silat.
“Kami ingin kegiatan ini menjadi momentum mempererat persatuan antarperguruan sekaligus memperkenalkan pencak silat sebagai kekuatan identitas budaya daerah kepada generasi muda,” tambahnya.
Sebagai kegiatan kolaboratif, panitia juga membuka peluang kerja sama dengan berbagai pihak melalui dukungan sponsorship, media partner, maupun kontribusi barang dan jasa guna mendukung kelancaran pelaksanaan acara.
Melalui dukungan berbagai stakeholder, mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Madiun berharap MMAC dapat menjadi salah satu ikon event budaya baru yang memperkuat posisi Kota Madiun sebagai pusat tradisi pencak silat di Indonesia.
Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi Latutik Mukhlisin menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk implementasi pembelajaran kolaboratif berbasis project yang menghubungkan kampus dengan kebutuhan sosial budaya masyarakat.
“MMAC bukan sekadar event mahasiswa, tetapi merupakan bagian dari project akademik yang dirancang sebagai ruang kolaborasi strategis antara Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Madiun dengan berbagai stakeholder di Madiun Raya. Melalui kegiatan ini, mahasiswa belajar membangun komunikasi publik, jejaring kemitraan, sekaligus berkontribusi dalam penguatan identitas Kota Madiun sebagai Kota Pendekar,” ujarnya.
Menurutnya, kegiatan berbasis kolaborasi seperti MMAC menjadi penting karena mempertemukan praktik akademik dengan kebutuhan nyata masyarakat, khususnya dalam penguatan diplomasi budaya lokal melalui pendekatan komunikasi strategis. ***





