Prestasi membanggakan di kancah internasional kembali ditorehkan oleh mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Jeryfer Rinda Salshabilla, mahasiswi Program Studi Kesejahteraan Sosial angkatan 2025 yang akrab disapa Jeje, sukses membawa pulang medali perunggu pada kategori FIGHT Dewasa Kelas D. Pencapaian tersebut diraih dalam ajang bergengsi tingkat Asia-Eropa, Paku Bumi Open Championship 2026 yang diselenggarakan di Gor Lembah UGM Yogyakarta, sekaligus semakin mengharumkan nama Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Tapak Suci UMM di gelanggang pencak silat internasional.
Di balik kilau medali yang berhasil dibawa pulang, Jeje mengungkapkan bahwa perjalanannya menuju podium tidaklah berjalan mulus. Berkompetisi di level yang mempertemukan atlet-atlet tangguh tentu membutuhkan kesiapan fisik dan taktik tingkat tinggi. Namun, Jeje harus menghadapi realita masa persiapan yang terbilang sangat singkat. Ia mengaku hanya menjalani pemusatan latihan secara intensif selama satu bulan menjelang pertandingan. Alhasil, ia merasa bahwa proses pembentukan fisik, daya tahan, serta kelincahannya di atas matras belum mencapai titik yang paling optimal.
Tantangan terberat yang harus dilewati Jeje nyatanya tidak hanya datang dari segi teknis dan fisik di tempat latihan, melainkan juga dari lingkungan terdekatnya. Keputusannya untuk menekuni olahraga tarung ini sempat terbentur tembok restu keluarga. Adanya pandangan konservatif bahwa bela diri adalah ranah maskulin sempat menjadi beban tersendiri.
“Orang tuaku sebenarnya menentang aku ikut beladiri. Menurut mereka, olahraga itu hanya untuk laki-laki, sedangkan bagi perempuan dinilai terlalu rawan,” ungkap Jeje.
Meski demikian, raihan posisi ketiga ini menjadi alat pembuktian yang valid untuk mematahkan stigma tersebut. Jeje berhasil membuktikan bahwa perempuan memiliki ruang yang sama untuk berprestasi di cabang olahraga dengan intensitas fisik yang tinggi.
Belum puas dengan medali perunggu pada kejuaraan kali ini, motivasi dan semangat tempur mahasiswi tersebut sama sekali tidak meredup. raihan ini justru dipandangnya sebagai bahan evaluasi klinis dan batu loncatan yang krusial untuk karier atletnya ke depan. Bermodalkan pengalaman berharga menghadapi gaya bertarung dari berbagai negara, Jeje kini langsung memfokuskan diri pada persiapan kejuaraan besar selanjutnya. Dengan komitmen untuk melipatgandakan porsi latihan dan memperbaiki ketahanan fisik, ia sangat percaya diri bisa berdiri di podium tertinggi pada kejuaraan yang akan datang.





