MADIUN – Ada yang berbeda dengan suasana berbuka puasa di Masjid Baiturrahim, Jl. Margobawero. Di saat banyak tempat ibadah menggunakan kemasan sekali pakai seperti kotak styrofoam atau plastik demi kepraktisan, masjid ini justru memilih jalan yang lebih ramah lingkungan dan penuh kehangatan.
Setiap harinya, pengurus masjid menyajikan hidangan berbuka puasa menggunakan piring dan mangkok kaca. Langkah ini diambil sebagai komitmen nyata masjid dalam mengurangi timbulan sampah plastik yang biasanya melonjak tajam selama bulan Ramadan.
Para jamaah tampak duduk berjajar dengan rapi, menikmati hidangan rumahan yang disajikan di atas piring layaknya di meja makan keluarga sendiri. Suasana ini menciptakan kedekatan antar warga yang jauh lebih terasa dibandingkan sekadar membagikan nasi kotak.
Hikmah di Balik Piring dan Mangkok
Keputusan menggunakan peralatan makan permanen ini mengandung hikmah yang mendalam:
- Keberkahan dalam Kebersihan: Mengurangi sampah adalah bentuk nyata dari iman. Dengan meminimalkan plastik, kita menjaga kelestarian bumi yang merupakan titipan Allah SWT.
- Memuliakan Tamu (Ikramul Tamu): Menyajikan makanan di piring memberikan rasa hormat yang lebih tinggi kepada jamaah. Makanan terasa lebih segar, layak, dan dinikmati dengan penuh martabat.
- Semangat Gotong Royong: Penggunaan piring melibatkan proses mencuci bersama. Di sinilah letak indahnya kebersamaan; para relawan dan remaja masjid bekerja sama, mempererat silaturahmi di balik dapur masjid.
Kesimpulan: Masjid sebagai Rumah Besar Kita
Masjid Baiturrahim telah membuktikan bahwa kepedulian terhadap lingkungan bisa dimulai dari piring berbuka. Ini bukan sekadar tentang teknis penyajian, melainkan tentang mengubah pola pikir: bahwa ibadah tidak hanya hubungan kita dengan Sang Pencipta, tapi juga tanggung jawab kita terhadap alam.
Pesan Hangat untuk Keluarga:
“Ramadan adalah saat yang tepat untuk membawa kebiasaan baik dari masjid ke dalam rumah. Mari ajarkan anak-anak kita bahwa kemuliaan sebuah hidangan bukan terletak pada praktisnya kemasan, melainkan pada keberkahan yang tersisa saat kita tidak meninggalkan sampah bagi bumi.”





