Menata Hati dan Adab Menuju Keberkahan Ramadan

kajian menjelang berbuka oleh Ust. Imam Sudiono Sie ibadah Masjid Baiturrshim

​Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Segala puji bagi Allah yang masih memberikan kita kesempatan untuk berbenah diri. Mengawali kajian ini, mari kita merenungkan kembali mutiara ilmu yang disampaikan oleh Ust. Prasetyo mengenai urgensi menyambut bulan suci Ramadan. Beliau menekankan bahwa Ramadan adalah momentum pembersihan dosa secara total. Sebagaimana janji Rasulullah ﷺ dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim: مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ yang artinya, “Barangsiapa yang berpuasa Ramadan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” Keutamaan ini tidak akan kita raih secara maksimal tanpa persiapan batin yang matang dan kerinduan yang tulus kepada ampunan Allah.

​Melengkapi persiapan spiritual tersebut, Ust. Rosyid mengingatkan kita tentang keberuntungan bagi hamba-hamba yang senantiasa didoakan oleh para malaikat. Amalan sederhana namun berbobot ini adalah dengan menjaga kesucian (wudhu) sebelum tidur dan meluangkan waktu untuk menunggu waktu shalat. Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa malaikat akan terus memohonkan ampun kepada Allah selama seseorang duduk tenang menunggu shalatnya tanpa membatalkan wudhu. Doa dari makhluk yang tidak bermaksiat kepada Allah ini merupakan jaminan ketenangan bagi seorang mukmin dalam menjalani kesehariannya.

​Namun, kesalehan ritual tersebut harus dibarengi dengan kesalehan sosial dan adab harian. Ust. Haryono memberikan penekanan khusus pada adab makan yang sering kali kita remehkan. Sebagai hamba yang bersyukur, kita dilarang keras mencela makanan, baik itu terlalu asin, hambar, atau tidak sesuai selera. Rasulullah ﷺ adalah teladan terbaik, sebagaimana diriwayatkan dalam hadis: مَا عَابَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم طَعَامًا قَطُّ yang berarti, “Nabi ﷺ tidak pernah mencela makanan sedikit pun.” Jika suka beliau makan, jika tidak suka beliau tinggalkan tanpa kata-kata yang menghina. Sikap ini adalah bentuk penghormatan tertinggi terhadap rezeki yang Allah berikan.

​Sebagai penutup, seluruh rangkaian ibadah dan adab tersebut bermuara pada pembentukan karakter pribadi yang diharamkan dari api neraka. Sesuai hadis riwayat At-Tirmidzi, ada empat sifat utama yang harus melekat pada diri seorang Muslim, yaitu: Hayyin (memiliki ketenangan lahir batin dan tidak temperamental), Layyin (bersikap lembut dan santun dalam bertutur kata), Qorib (ramah, mudah akrab, dan menyenangkan bagi sesama), serta Sahl (memudahkan urusan orang lain dan tidak berbelit-belit). Dengan menyatukan keutamaan Ramadan, doa para malaikat, adab yang santun, serta karakter yang lembut, insyaAllah kita akan menjadi pribadi yang bertaqwa dan dicintai oleh penduduk langit maupun bumi.

Bagikan

Baca juga

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Trending

Scroll to Top