Masa remaja sering disebut sebagai periode pencarian jati diri. Pada fase ini, seseorang mengalami berbagai perubahan. Perubahan bisa pada aspek fisik, tetapi juga pada dimensi psikologis dan sosial. Anak remaja mulai membangun identitas diri. Mereka mencoba berbagai pengalaman baru, misalnya memperluas jaringan pertemanan.
Saat proses tersebut, mereka juga dihadapkan pada berbagai tantangan. Salah satunya risiko terlibat dalam perilaku seksual yang tidak sehat. Biar dampaknya tidak berlarut-larut, maka perlu ada upaya pencegahan. Pencegahan itu menjadi penting agar remaja dapat tumbuh dan berkembang secara optimal (fisik, mental, dan sosial).
Fenomena perilaku seksual berisiko pada remaja menjadi isu yang semakin mendapat perhatian. Perubahan sosial sangat cepat. Lalu ada kemudahan akses informasi digital. Bahkan pengaruh media sosial telah membentuk lingkungan baru yang memengaruhi cara remaja memahami hubungan, seksualitas, dan pergaulan. Dalam banyak kasus, remaja mendapatkan informasi tentang seksualitas dari sumber yang kurang tepat. Konten pornografi di internet atau percakapan yang tidak terarah di antara teman sebaya beberapa sumbernya. Kondisi ini dapat memunculkan rasa penasaran yang tinggi tanpa diimbangi pemahaman yang memadai tentang kesehatan reproduksi dan konsekuensi dari perilaku seksual yang berisiko.
Perilaku seksual berisiko pada remaja dapat muncul dalam berbagai bentuk. Bentuknya ada soal hubungan seksual pranikah tanpa perlindungan, berganti-ganti pasangan, hingga keterlibatan dalam hubungan yang tidak sehat. Dampaknya tidak hanya berkaitan dengan kesehatan fisik, tetapi juga berdampak pada aspek psikologis dan sosial remaja. Kemudian muncul rasa bersalah atau tekanan sosial. Muncul juga gangguan pada proses pendidikan dan masa depan mereka.
Pentingnya Peran Teman Sebaya
Salah satu faktor yang sangat memengaruhi perilaku remaja adalah lingkungan sosial, terutama teman sebaya. Pada masa remaja, hubungan dengan teman menjadi sangat kuat karena mereka merasa lebih dipahami oleh individu yang memiliki pengalaman dan usia yang relatif sama. Remaja justru lebih nyaman berbagi cerita kepada sahabat dibandingkan kepada orang tua atau guru. Ikatan emosional inilah yang menjadikan kelompok sebaya memiliki pengaruh besar terhadap pola pikir dan keputusan remaja dalam kehidupan sehari-hari.
Pengaruh teman sebaya dapat membawa dampak positif maupun negatif. Ketika lingkungan pertemanan mendorong perilaku yang sehat dan produktif, remaja cenderung mengikuti arah tersebut. Sebaliknya, jika kelompok sebaya memiliki norma yang permisif terhadap perilaku berisiko, maka tekanan sosial dapat membuat remaja terlibat dalam perilaku yang sebenarnya tidak mereka inginkan. Oleh karena itu, penting adanya pendekatan yang melibatkan teman sebaya. Semua itu diharapkan menjadi bagian strategi yang relevan dalam upaya pencegahan perilaku seksual berisiko.
Konsep pemberdayaan sebaya atau peer empowerment hadir sebagai salah satu pendekatan yang dapat memperkuat peran positif remaja dalam lingkungan pertemanannya. Dalam pendekatan ini, remaja didorong untuk saling mendukung. Diharapkan mereka saling berbagi informasi yang benar, serta membantu teman yang sedang menghadapi masalah. Beberapa remaja bahkan dapat dilatih menjadi konselor sebaya yang mampu memberikan dukungan emosional dan edukasi sederhana kepada teman-temannya. Pendekatan ini memanfaatkan kedekatan emosional dalam kelompok sebaya sebagai sarana membangun kesadaran dan perilaku yang lebih sehat.
Perilaku Remaja dalam Theory of Planned Behavior
Selain itu, upaya pencegahan juga dapat diperkuat melalui pendekatan psikologis yang menjelaskan bagaimana perilaku manusia terbentuk. Salah satu kerangka yang sering digunakan adalah Theory of Planned Behavior (TPB) yang dikembangkan oleh Icek Ajzen (2005). Teori ini menjelaskan bahwa perilaku seseorang tidak muncul secara tiba-tiba, tetapi dipengaruhi oleh niat atau tujuan yang terbentuk dari tiga faktor utama, yaitu sikap terhadap perilaku, norma subjektif, dan persepsi kontrol terhadap perilaku tersebut.
Sikap terhadap perilaku berkaitan dengan bagaimana seseorang menilai suatu tindakan. Apakah dianggap baik atau buruk. Jika remaja memiliki pemahaman yang baik mengenai risiko perilaku seksual bebas, maka mereka cenderung memiliki sikap yang lebih berhati-hati. Norma subjektif berkaitan dengan tekanan sosial dari lingkungan sekitar (termasuk teman sebaya, keluarga, maupun masyarakat). Sementara itu, persepsi kontrol perilaku berkaitan dengan keyakinan seseorang terhadap kemampuannya untuk mengendalikan situasi atau menolak ajakan yang berisiko. Ketiga faktor tersebut saling berinteraksi dan membentuk niat yang pada akhirnya memengaruhi perilaku seseorang.
Dalam konteks kehidupan remaja, teori ini menunjukkan bahwa perubahan perilaku tidak cukup hanya dengan memberikan informasi. Remaja juga perlu didukung oleh lingkungan sosial yang positif dan diberikan kepercayaan diri untuk membuat keputusan yang sehat. Di sinilah peran teman sebaya dan lingkungan sosial menjadi sangat penting. Ketika lingkungan mendukung nilai-nilai positif, remaja akan lebih mudah membangun sikap protektif terhadap dirinya sendiri.
Pendekatan pemberdayaan remaja juga menekankan pentingnya membangun perilaku pro-sosial dan interaksi yang sehat. Remaja yang aktif dalam kegiatan positif, memiliki komunikasi terbuka dengan orang tua, serta terlibat dalam komunitas yang mendukung biasanya memiliki kemampuan lebih baik dalam menghadapi tekanan sosial. Mereka juga cenderung memiliki kontrol diri yang lebih kuat dalam mengambil keputusan yang berkaitan dengan hubungan dan pergaulan.
Dengan kata lain, pencegahan perilaku seksual berisiko pada remaja tidak hanya berkaitan dengan larangan atau aturan. Upaya ini perlu dilakukan melalui proses edukasi (penguatan nilai, pembentukan lingkungan sosial yang mendukung). Remaja perlu dilibatkan sebagai bagian dari solusi, bukan hanya sebagai objek pembinaan. Ketika mereka diberi ruang untuk saling mendukung dan belajar bersama, potensi positif dalam diri remaja dapat berkembang dengan lebih optimal.
Pelibatan Aktif
Masa remaja merupakan periode penting dalam pembentukan identitas dan perilaku seseorang. Di tengah berbagai perubahan dan pengaruh lingkungan, remaja rentan terlibat dalam perilaku seksual berisiko jika tidak memiliki pemahaman dan dukungan sosial yang memadai. Pendekatan pemberdayaan sebaya menjadi strategi yang efektif karena memanfaatkan kedekatan emosional antar remaja sebagai sarana edukasi dan dukungan.
Dengan memperkuat sikap positif, norma sosial yang sehat, serta kepercayaan diri remaja sebagaimana dijelaskan dalam Theory of Planned Behavior, remaja dapat lebih mampu mengendalikan pilihan perilakunya. Pada akhirnya, upaya pencegahan yang melibatkan remaja secara aktif akan membantu menciptakan generasi muda yang lebih sadar, bertanggung jawab, dan mampu menjaga kesehatan reproduksinya secara bijak.
Ririn Harini.,S.Kep.Ns.M.Kep, dosen Prodi Keperawatan, Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), sekretaris PCA Cabang khusus UMM. Saat ini sedang menempuh studi doktoral di Unair.





