Oleh Dr. Suwardi, M.Pd.I (Wakil rektor 2 Universitas Muhammadiyah Madiun)
KHOTBAH PERTAMA
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ الإِيمَانَ شُعَبًا وَمَرَاتِبَ، وَأَمَرَنَا بِالْإِحْسَانِ إِلَى الْخَلْقِ وَتَفْرِيجِ الْكُرَبِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، خَيْرُ مَنْ دَعَا إِلَى الْخَيْرِ وَأَدَّى الْأَمَانَةَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ.
فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
Jamaah Jumat yang Dimuliakan Allah, Marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT, sebuah ketakwaan yang tidak hanya berhenti di atas sajadah, namun juga membumi dalam interaksi sosial kita. Islam adalah agama yang tegak di atas dua pilar agung: Hablun minallah (hubungan dengan Allah) dan Hablun minannas (hubungan dengan sesama manusia). Kesalehan sejati dalam pandangan Islam adalah ketika dahi yang sujud di tengah malam sejalan dengan tangan yang peduli menyingkirkan gangguan di tengah jalan.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah, Seringkali kita terjebak dalam pemikiran bahwa ibadah hanyalah shalat, puasa, dan zakat. Padahal, Rasulullah SAW menegaskan bahwa iman memiliki dimensi sosial yang sangat nyata. Dalam sebuah hadits shahih, beliau bersabda:
الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ
“Iman itu ada tujuh puluh cabang lebih, atau enam puluh cabang lebih. Yang paling utama adalah ucapan ‘Laa ilaha illallah’, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan, dan malu adalah salah satu cabang iman.” (HR. Bukhari & Muslim)
Para ulama menjelaskan bahwa penyebutan “cabang terendah” bukan berarti nilainya remeh, melainkan merupakan ambang batas minimal pembuktian iman. Jika seseorang melihat paku, batu, atau sampah yang membahayakan di jalan namun hatinya tidak tergerak untuk menyingkirkannya, maka hal itu menunjukkan adanya “anemia spiritual” atau lemahnya sensitivitas iman dalam dirinya.
Jamaah yang Berbahagia, Menyingkirkan gangguan di jalan adalah bentuk Ibadah Muta’addiyah, yaitu ibadah yang manfaatnya meluas kepada orang banyak. Dalam timbangan Allah, ibadah yang manfaatnya dirasakan publik seringkali memiliki kedudukan yang sangat istimewa. Mari kita renungkan kisah seorang lelaki yang diampuni dosanya hanya karena sepotong dahan berduri:
بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي بِطَرِيقٍ وَجَدَ غُصْنَ شَوْكٍ عَلَى الطَّرِيقِ فَأَخَّرَهُ، فَشَكَرَ اللَّهُ لَهُ فَغَفَرَ لَهُ
“Ketika seorang laki-laki sedang berjalan di suatu jalan, ia menemukan dahan berduri di jalan tersebut, lalu ia menyingkirkannya. Maka Allah bersyukur kepadanya dan mengampuni dosa-dosanya.” (HR. Bukhari & Muslim)
Sebaliknya, Islam sangat melarang tindakan “membangun gangguan” di jalan. Parkir kendaraan yang sembarangan hingga menutup akses publik, membuang sampah ke selokan yang memicu banjir, atau meletakkan material bangunan tanpa tanda pengaman adalah bentuk kezaliman. Jika menyingkirkan gangguan mendatangkan ampunan, maka menciptakan gangguan di jalan umum dapat mendatangkan “dosa jariyah” selama orang lain merasa terganggu atau celaka karenanya.
Ma’asyiral Muslimin, Rasulullah SAW bersabda: خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ (“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya”). Marilah kita jadikan jalan-jalan yang kita lalui sebagai ladang pahala. Jangan biarkan mata kita buta terhadap paku atau batu yang bisa mencelakai saudara kita. Ingatlah, surga tidak hanya dicari melalui rakaat shalat malam yang panjang, tapi juga bisa ditemukan pada setiap gangguan yang kita singkirkan demi keselamatan sesama.
Jamaah Jumat yang Dirahmati Allah, Sebagai penutup khotbah ini, marilah kita berkomitmen untuk memuliakan hak-hak jalan (Haqqut Thariq). Sebagaimana pesan Rasulullah SAW, jalanan memiliki hak untuk tidak diganggu, hak agar mata kita menunduk dari yang haram, dan hak bagi para penggunanya untuk merasa aman.
Bumi yang kita bersihkan dan jalan yang kita amankan hari ini akan menjadi saksi di hadapan Allah pada hari kiamat kelak. Jangan remehkan satu kerikil yang Anda singkirkan, karena barangkali itulah amalan ikhlas yang akan menyelamatkan kita dari api neraka.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
KHOTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوَانِهِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيمًا كَثِيرًا. فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ. اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.




