Menjaga Keseimbangan dan Menjemput Rahmat Allah

alam, trees, water, waterfall, sungai, nature, outdoors, travel, exploration, alam, alam, alam, alam, alam

Dr.Suwardi, M.Pd.I (Wakil Rektor 2 Universitas Muhammadiyah Madiun)

​Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam yang telah memberikan kita nikmat iman, Islam, serta kesempatan untuk bersujud di waktu Subuh yang disaksikan oleh para malaikat. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada baginda Nabi Muhammad SAW, uswah hasanah kita dalam bersikap kepada khaliq maupun makhluk. Jamaah yang dirahmati Allah, pada kesempatan yang penuh berkah ini, mari kita sejenak menundukkan hati untuk mentadabburi firman Allah dalam Surat Al-A’raf ayat 56, yang memberikan tuntunan komprehensif tentang etika hidup di bumi dan rahasia mengetuk pintu langit.

Dalam ayat ini, Allah SWT memulai dengan sebuah larangan yang sangat tegas: “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya.” Pesan ini mengingatkan kita bahwa dunia ini diciptakan oleh Allah dalam keadaan yang sudah tertata, seimbang, dan sempurna ( ishlah ). Kerusakan ( fasad ) yang dilarang di sini tidak hanya terbatas pada kerusakan ekologis seperti eksploitasi alam yang serakah, tetapi juga kerusakan maknawi berupa kemaksiatan, kedzaliman, dan pengabaian terhadap syariat. Setiap kemaksiatan yang dilakukan manusia hakikatnya adalah polusi bagi keberkahan bumi. Oleh karena itu, tugas kita sebagai khalifah bukanlah mengubah tatanan Allah, melainkan merawat keharmonisan yang telah ada agar kehidupan tetap berjalan sesuai dengan fitrahnya.

​Selanjutnya, Allah SWT mengajarkan kita “seni” dalam berinteraksi dengan-Nya melalui untaian doa. Allah berfirman, “Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (khauf) dan harapan (thama’).” Ayat ini memberikan psikologi ibadah yang luar biasa. Seorang mukmin tidak boleh merasa terlalu aman sehingga menjadi sombong, namun tidak boleh pula merasa terlalu berdosa sehingga berputus asa. Rasa takut (khauf) hadir agar kita waspada terhadap dosa dan kekurangan amal kita, sementara rasa harap (thama’) hadir agar kita selalu optimis akan kemurahan hati Allah yang tak terbatas. Doa yang dipanjatkan dengan keseimbangan dua perasaan ini adalah doa yang lahir dari ketulusan dan pengakuan akan kefakiran kita di hadapan Sang Pencipta.

​Sebagai penutup yang sangat indah, Allah memberikan kunci utama bagi siapa saja yang ingin hidupnya dimudahkan: “Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik (muhsinin).” Kalimat ini adalah janji sekaligus motivasi. Jika kita merasa hidup sedang sempit atau doa-doa terasa lambat dikabulkan, maka periksalah kualitas kebaikan kita. Menjadi seorang muhsin berarti melakukan segala sesuatu—baik itu ibadah ritual maupun hubungan sosial—dengan standar terbaik, seolah-olah kita melihat Allah. Dengan menjadi orang baik yang bermanfaat bagi sesama dan lingkungan, kita secara otomatis sedang memosisikan diri di bawah guyuran rahmat Allah yang maha luas. Semoga kita termasuk hamba-hamba yang mampu menjaga bumi dan senantiasa menjadi pribadi yang muhsin.

​Wabillahi taufiq wal hidayah, Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Bagikan

Baca juga

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Trending

Scroll to Top