Nestapa Abadi di Negeri Kehancuran

Oleh : Dr. Suwardi, M.Pd.I (Wakil Rektor Universitas Muhammadiyah Madiun)

Muqoddimah

Segala puji bagi Allah, Dzat yang Maha Adil dalam memberi pembalasan. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Baginda Nabi Muhammad ï·º, sang pemberi peringatan agar manusia tidak terjerumus ke dalam jurang kebinasaan. Kehidupan dunia seringkali menjadi fatamorgana yang memikat, menipu mata, dan memperbudak syahwat. Banyak manusia yang menjadikan dunia sebagai obsesi utama, mengumpulkan harta tanpa peduli halal dan haram, serta merasa bangga dalam gelimang dosa. Mereka cerdas dalam urusan dunia, namun “buta” dalam urusan akhirat. Inilah materi tentang kesudahan mereka yang terpedaya, sebuah potret penderitaan yang tak berujung bagi jiwa-jiwa yang berpaling dari cahaya petunjuk-Nya.

1. Akhir dari Fatamorgana Dunia: Terlempar dalam Belenggu

Bagi mereka yang menjadikan dunia sebagai tuhan dan syahwat sebagai pemimpin, kematian bukanlah akhir dari masalah, melainkan awal dari penderitaan yang sempurna. Habis sudah masa berleha-leha dan foya-foya; yang tersisa hanyalah siksa tanpa jeda. Mereka memasuki neraka bukan dengan berjalan atau terjatuh secara tidak sengaja, melainkan dilemparkan dalam keadaan terbelenggu. Allah Ta’ala berfirman: “Dan apabila mereka dilemparkan ke tempat yang sempit di neraka itu dengan dibelenggu, mereka di sana mengharapkan kebinasaan” (QS. Al-Furqaan: 13). Sebagaimana mereka bebas melampiaskan nafsu di dunia, maka di akhirat mereka terkekang oleh rantai sepanjang tujuh puluh hasta (QS. Al-Haaqqah: 32) yang membuat mereka tak berdaya untuk berontak sedikit pun.

2. Jurang yang Dalam dan Api yang Menggelegak

Kengerian neraka dimulai bahkan sebelum penghuninya menyentuh dasarnya. Mereka dilemparkan ke jurang yang sangat dalam, yang jarak antara mulut jurang dengan dasarnya harus ditempuh selama tujuh puluh tahun perjalanan jatuh (HR. Muslim). Suara neraka terdengar mengerikan dan menggelegak, hampir-hampir pecah karena kemarahan dan kegeraman terhadap orang-orang kafir (QS. Al-Mulk: 7-8). Panasnya pun tak terbayangkan; api dunia yang paling panas sekalipun hanyalah sepertujuh puluh dari api Jahannam (HR. Bukhari). Di sana terdapat neraka Saqar yang bersifat “laa tubqii wa laa tadzar”—tidak membiarkan dan tidak meninggalkan. Logam terkuat atau berlian terkeras sekalipun akan hancur tak berbekas dilalap apinya, apalagi sekadar kulit dan daging manusia.

3. Siksa Tanpa Jeda: Kulit yang Berganti dan Ingatan yang Sirna

Penderitaan di neraka tidak mengenal titik henti. Setiap kali kulit mereka hancur terbakar, Allah menggantinya dengan kulit yang baru agar mereka merasakan kepedihan azab secara berulang-ulang (QS. An-Nisa’: 56). Sesaat setelah tubuh tercelup ke dalam api, sirnalah seluruh ingatan tentang kenikmatan dunia. Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa penduduk neraka yang paling bahagia sewaktu di dunia akan merasa tidak pernah melihat kebaikan sedikit pun setelah sekali saja dicelupkan ke neraka (HR. Tirmidzi). Kalung permata berganti belenggu, dan kemewahan berganti kehinaan yang absolut.

4. Hidangan Penderitaan: Zaqqum, Ghassaq, dan Hewan Melata

Di neraka, rasa lapar dan haus pun menjadi sarana penyiksaan. Makanan mereka adalah pohon berduri yang tidak mengenyangkan (QS. Al-Ghasyiyah: 6-7), serta buah Zaqqum yang mengerikan. Nabi ﷺ bersabda bahwa setetes saja cairan Zaqqum jatuh ke bumi, niscaya akan merusak seluruh tatanan kehidupan manusia. Minuman mereka pun berupa air yang mendidih serta ghassaq, yakni nanah dan kotoran yang keluar dari tubuh penghuni neraka (QS. An-Naba’ 24-25). Penderitaan ini ditambah dengan keberadaan hewan-hewan mengerikan seperti ular sebesar leher unta yang bisanya terasa selama 70 tahun, serta kalajengking sebesar keledai yang sengatannya terasa selama 40 tahun. Bahkan, akan muncul leher dari api yang bisa melihat dan berbicara untuk menghukum orang-orang sombong, penyembah selain Allah, dan para pembuat gambar (perupa yang menandingi ciptaan Allah).

5. Siksa Paling Ringan: Simbol Dahsyatnya Jahannam

Sebagai penutup yang paling menggetarkan, cukuplah kita merenungi sabda Nabi ï·º mengenai siksa teringat di neraka. Seseorang yang hanya diletakkan bara api di bawah lekukan telapak kakinya, namun mampu membuat otaknya mendidih seketika (HR. Bukhari). Jika siksa yang dianggap “paling ringan” saja sudah sedemikian dahsyat, lantas bagaimanakah dengan siksa yang paling berat? Inilah tempat bagi mereka yang sombong, yang memperdaya diri dengan dunia, dan yang berpaling dari peringatan Allah. Tak ada jeda, tak ada hiburan, hanya penyesalan yang tak lagi berguna.

Penutup dan Ibrah

Kajian ini bukanlah untuk menakut-nakuti tanpa alasan, melainkan sebagai sarana bagi kita untuk kembali menghitung bekal. Jangan sampai kecerdasan kita dalam urusan dunia justru membuat kita bodoh dalam urusan keselamatan abadi. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjauhkan kita, keluarga kita, dan seluruh kaum muslimin dari pedihnya siksa neraka, serta senantiasa membimbing kita untuk tetap istiqamah di jalan ketaatan hingga ajal menjemput. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.

Bagikan

Baca juga

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Trending

Scroll to Top