Agus Triyono, Dosen Ilmu Komunikasi Dosen Ilmu Komunikasi
Menjelang Ramadhan berakhir, jalan penghubung antar provinsi semakin ramai dengan kendaraan pribadi dan umum. Aktivitas pada sektor transportasi publik seperti stasiun, bandara, pelabuhan dan terminal juga meningkat dengan signifikan. Fenomena pulang kampung, atau juga dikenal dengan istilah mudik, menjadi pelengkap menjelang Syawal. Tujuannya sama, bertemu dengan keluarga, mempererat silaturahmi.
Pada dasarnya, mudik bukan sekadar perpindahan geografis, melainkan sebuah kepulangan eksistensial. Bagi masyarakat Indonesia, Idul Fitri adalah momentum untuk rekonsiliasi sosial pasca beraktivitas di rantau. Secara konseptual, mudik bertujuan untuk memulihkan modal sosial yang sempat tergerus jarak. Ada harapan bahwa pertemuan tatap muka akan menghasilkan pertukaran emosi, validasi kasih sayang, dan pembaruan ikatan batin yang tidak bisa digantikan oleh panggilan video.
Ironisnya, justru yang kita saksikan dan rasakan adalah kemunculan kehadiran semu. Yakni, seseorang menempuh perjalanan ratusan kilometer hanya untuk memindahkan raga dari kota ke kampung halaman, namun pikiran tetap tertawan dalam layar gawai. Dalam psikologi sosial, fenomena ini dikenal sebagai Phubbing (phone snubbing), yaitu perilaku mengabaikan orang di sekitar demi ponsel. Riset menunjukkan bahwa perilaku ini merupakan pembunuh senyap bagi kualitas hubungan.
Sebagaimana kita ketahui, bahwa jumlah pemilik ponsel di Indonesia melebih jumlah penduduk yang ada. Tercatat, sebanyak 354 juta perangkat pada 2024, melebihi total penduduk yang sekitar 280 juta jiwa. Ini menunjukkan penetrasi >100%, di mana rata-rata penduduk memiliki lebih dari satu ponsel. Penetrasi ini terus meningkat, didukung oleh penggunaan smartphone yang dominan dan penetrasi koneksi seluler mencapai 116% pada 2025.
Dari aspek penggunaan, laporan Indonesia Digital Report 2025 mencatat pengguna aktif media sosial di Indonesia telah mencapai 143 juta orang (lebih dari 50% populasi). Data yang lain menunjukan bahwa Generasi Z dan Milenial di Indonesia kini menghabiskan rata-rata 4 hingga 6 jam per hari di media sosial. Di momen Lebaran, durasi ini sering kali tidak menurun, melainkan berpindah bentuk menjadi aktivitas pamer momen.
Paradoks Kedekatan: Dekat di Mata, Jauh di Hati
Pepatah jauh di mata tapi dekat di hati kini berubah menjadi dekat di mata, jauh di hati. Sebuah studi tentang komunikasi interpersonal menyebutkan bahwa kehadiran ponsel di atas meja, apapun kondisinya, sudah cukup untuk menurunkan kualitas percakapan dan empati antar individu. Ketika kita lebih sibuk membalas komentar di Instagram atau menonton TikTok di tengah kumpul keluarga, kita sedang melakukan “Digital Distraction”. Penelitian oleh Chotpitayasunondh & Douglas (2018) mengungkapkan bahwa phubbing secara signifikan menurunkan kepuasan hubungan dan menciptakan perasaan dikucilkan bagi lawan bicara.
Dalam konteks mudik, ini menciptakan luka emosional bagi orang tua atau kerabat senior yang mengharapkan perhatian penuh, namun justru hanya mendapatkan “puncak kepala” anak-cucunya yang terus menunduk menatap layar.Pada kasus yang lain, sering kali gawai digunakan sebagai mekanisme pertahanan diri terhadap kecemasan sosial. Generasi muda yang merasa canggung dengan pertanyaan-pertanyaan khas Lebaran (kapan lulus, kapan menikah, kapan punya anak) cenderung menggunakan gawai sebagai “pelarian”. Tentunya, ini adalah solusi jangka pendek yang merusak. Dengan menghindar ke dunia digital, kita kehilangan kesempatan untuk membangun ketahanan sosial dan kedewasaan emosional yang seharusnya didapat dari interaksi langsung.
Mudik adalah tentang hadir secara utuh (being present). Jika kita tetap sibuk dengan dunia maya saat berada di hadapan keluarga, maka perjalanan mudik kita sebenarnya gagal secara esensi. Teknologi seharusnya memperpendek yang jauh, bukan menjauhkan yang sudah dekat.
Jangan biarkan Idul Fitri hanya menjadi ajang pindah tempat untuk bermain ponsel. Pulangkanlah jiwa Anda sebagaimana Anda memulangkan raga Anda ke kampung halaman. Karena pada akhirnya, kenangan yang akan bertahan bukanlah jumlah likes di foto Lebaran, melainkan kehangatan tatapan mata dan ketulusan jabat tangan yang kita berikan secara nyata dan kenyaman ketika kita sedang mendengar maupun berbicara.





