Muhammadiyah di Madiun memiliki Rumah Sakit Islam Aisyah Madiun yang menjadi pilihan warga Madiun dan sekitarnya. Lalu bagaimana Muhammadiyah berperan di masa kolonial dalam bidang kesehatan? Sebuah berita di koran Soerabaijasch handelsblad tanggal 4 November 1935 menarasikan rencana pendirian poliklinik Muhammadiyah di Madiun. Judulnya adalah Sebuah Poliklinik. Berikut terjemahannnya, dan konteks untuk memudahkan pemahaman.

Sebuah Poliklinik. Vereniging Moehammaddijah di Madioen kembali mendirikan sebuah poliklinik untuk orang-orang pribumi yang tidak mampu (oververmogen) di sebuah bagian dari perumahan residen. Pembukaan ini berlangsung pada Sabtu malam di gedung masyarakat Inheemsche. Pada pertemuan pembukaan ini hadir Regent, Asisten-Residen, dan Controleur dari Madioen, sementara semua dokter-dokter hadir pula.Dokter-dokter: Roesoekandar, Bostoeraprawiro, Soedirman, dan Djojohoeseodo telah dengan sukarela menyatakan diri untuk merawat secara gratis. Pengobatan akan dilakukan secara bergantian dari berbagai dokter tersebut.Regent dari Madioen menyampaikan harapannya bahwa inisiatif indah dari Moehammaddijah ini akan sepenuhnya berhasil mencapai tujuannya. Kata-kata yang sama diucapkan oleh Asisten-Residen.

Penjelasan untuk memudahkan pemahaman
Berita ini menceritakan pembukaan poliklinik (klinik luar/rawat jalan) oleh cabang Muhammadiyah di Madiun (ditulis sebagai “Madioen” dalam ejaan Belanda lama) pada masa Hindia Belanda. Layanan ini ditujukan khusus untuk masyarakat pribumi (Inheemsche = pribumi) yang tidak mampu membayar pengobatan. Acara dihadiri pejabat Belanda seperti Regent (Bupati), Asisten-Residen, dan Controleur, serta dokter-dokter lokal yang bersedia melayani secara gratis alias tidak menerima imbalan sebagai bentuk komitmennya. Ini mencerminkan salah satu bentuk amal usaha Muhammadiyah di bidang kesehatan sejak awal berdirinya organisasi tersebut.





