Prof. Syafiq Mughni: Ekoteologi Adalah Panggilan Iman untuk Selamatkan Bumi

JEMBER– Dalam suasana khidmat Kajian Ramadhan 1447 H pada Ahad (22/2), Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Syafiq A. Mughni, MA, menyampaikan orasi ilmiah yang menggugah kesadaran ekologis para peserta. Beliau menegaskan bahwa krisis lingkungan hidup yang melanda dunia saat ini bukan sekedar masalah teknis, melainkan masalah teologis fundamental yang menuntut peran aktif umat beragama.

​Signifikansi Ekoteologi di Era Kontemporer

  • Otoritas Keagamaan: Agamawan memiliki pengaruh besar dan otoritas kuat dalam mengajarkan nilai-nilai pelestarian alam kepada masyarakat.
  • Infrastruktur Gerakan: Jumlah lembaga agama dan lembaga pendidikan berbasis agama yang sangat besar di Indonesia merupakan modal sosial utama untuk menggerakkan perubahan perilaku yang ramah lingkungan.

​Landasan Al-Qur’an: Larangan Berbuat Kerusakan

​Dalam sesi yang mendalam, Prof. Syafiq membedah berbagai ayat Al-Qur’an yang secara eksplisit memperingatkan manusia tentang bahaya kerusakan alam. Beliau menekankan bahwa misi manusia sebagai khalifah seringkali tercederai oleh perilaku mufsidun (perusak).

​Beberapa rujukan Al-Qur’an yang beliau ulas antara lain:

  • QS. Al-Baqarah (30, 60, 205): Mengingatkan potensi manusia untuk merusak alam dan penegasan bahwa Allah tidak menyukai kerusakan.
  • QS. Al-A’raf (56, 74): Larangan keras berbuat kerusakan di bumi setelah Allah memperbaikinya.
  • QS. Al-Rum (41): Menjelaskan bahwa kerusakan di darat dan di laut adalah akibat langsung dari tangan manusia, agar mereka kembali ke jalan yang benar.

​Integrasi Hablum Minallah, Hablum Minan Naas, dan Maqashid Syariah

​Prof. Syafiq menjelaskan bahwa menjaga lingkungan adalah manifestasi dari ketaatan kepada Allah (Hablum Minallah) dan tanggung jawab sosial kepada sesama (Hablum Minan Naas). Beliau menghubungkan hal ini dengan lima tujuan dasar syariah (Maqashid asy-Syariah):

  1. Hifzh ad-Din (Menjaga Agama): Alam yang bersih mendukung kesucian ibadah.
  2. Hifzh an-Nafs (Menjaga Jiwa): Lingkungan sehat adalah syarat utama keselamatan nyawa manusia dari bencana.
  3. Hifzh al-Aql (Menjaga Akal): Alam menyediakan sumber daya nutrisi yang mendukung kesehatan otak generasi mendatang.
  4. Hifzh an-Nasl (Menjaga Keturunan): Kelestarian ekosistem menjamin kehidupan layak bagi anak cucu.
  5. Hifzh al-Maal (Menjaga Harta): Mencegah bencana ekologis berarti menyelamatkan aset ekonomi umat.

​Prof. Syafiq mengawali paparannya dengan menyoroti betapa krusialnya peran agama dalam menghadapi tantangan kehidupan kontemporer. Beliau memaparkan beberapa alasan mengapa ekoteologi menjadi sangat signifikan saat ini:

​Peran Muhammadiyah ke Depan

​”Muhammadiyah melalui jaringan sekolah, masjid, dan organisasinya harus menjadi pelopor dakwah hijau,” tegas Prof. Syafiq. Beliau mengajak seluruh warga persyarikatan untuk tidak hanya berhenti pada retorika, tetapi memulai aksi nyata seperti pengurangan plastik, konservasi air, dan penanaman pohon sebagai bentuk ibadah nyata di abad ini.

Bagikan

Baca juga

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Trending

Scroll to Top