Sebuah berita di Bataviaasch nieuwsblad, 13 Februari 1929, mengabarkan tentang keberadaan sekolah Muhammadiyah Madiun. Isi berita tersebut secara kontekstual adalah sebagai berikut. Pada masa itu, di berbagai wilayah Hindia Belanda, sejumlah sekolah khusus (particuliere scholen) mendapat pengakuan atau dukungan resmi. Di Madiun, misalnya, terdapat sekolah yang dikelola oleh Vereenigingsschool setempat. Selain itu, cabang Muhammadiyah di Madiun juga memiliki sekolah miliknya sendiri, begitu pula cabang Muhammadiyah di Surakarta yang mengelola sekolah serupa.
Di Medan, Vereeniging Hollandsch-Inlandsche School yang beralaskan Kristen mulai beroperasi secara mandiri per 1 Januari 1920. Sekolah ini termasuk dalam daftar sekolah-sekolah khusus yang diakui, bersama beberapa lembaga pendidikan lain, seperti Sekolah Dasar Eropa Khusus di Weltevreden, yang berlokasi di Sluisstraat nomor 11, Sekolah-sekolah khusus yang dikelola oleh Vereeniging Batavia di Malang, khususnya di daerah Tjilaket; Sekolah Dasar Eropa St. Jozef yang berada di bawah Yayasan Sekolah Dasar Malang; Sekolah Dasar Eropa Khusus Alloe-Alloe Noord; serta sekolah-sekolah Kristen yang dikelola oleh Vereeniging Malang.
Semua lembaga pendidikan tersebut merupakan bagian dari jaringan sekolah swasta atau khusus yang berkembang pada masa kolonial, banyak di antaranya didirikan atas inisiatif kelompok masyarakat, organisasi keagamaan, atau perkumpulan untuk memenuhi kebutuhan pendidikan tertentu di luar sistem sekolah pemerintah.





