Oleh: Agus Setiyono (Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jambi)
Ada masa ketika rumah tua itu menjelma semesta kecil yang riuh. Dinding-dindingnya yang kusam mendadak hidup oleh tawa, oleh langkah-langkah kecil yang berlarian, oleh suara panggilan yang saling bersahutan dari dapur ke ruang tengah. Dalam beberapa hari yang singkat namun penuh makna, waktu seakan dipadatkan menjadi kebahagiaan yang utuh, oleh sebab anak-anak pulang, menantu datang, cucu dan bahkan cicit menambah gemuruh kehidupan yang lama tak singgah.
Hari-hari itu seperti mimpi yang dipinjamkan Tuhan kepada seorang ibu yang telah renta. Tangannya yang mulai gemetar tetap sibuk menata hidangan, matanya yang mulai kabur tetap jernih memandangi wajah-wajah yang dulu ia besarkan dengan doa dan air mata. Ia tidak banyak bicara, tetapi hatinya penuh, penuh syukur, penuh rindu yang akhirnya terbayar, meski hanya sekejap.
Namun, seperti semua pertemuan yang telah ditakdirkan, perpisahan adalah konsekuensi yang tak bisa ditawar.
Pagi ini, satu per satu mereka pamit. Ada yang berangkat lebih awal, mengejar waktu dan pekerjaan yang telah menunggu. Ada yang menunda beberapa jam, sekadar memperpanjang kebersamaan yang terasa begitu singkat. Pelukan-pelukan menjadi lebih erat, doa-doa dipanjatkan lebih khusyuk, dan kata “hati-hati di jalan” diucapkan dengan beban yang tak biasa.
Rumah tua itu kembali menjadi saksi.
Kursi reot di sudut ruangan kini kosong, tidak lagi menjadi tempat bercengkerama. Lantai yang kemarin dipenuhi jejak kaki kecil kini kembali bersih, terlalu bersih bahkan, seolah menyimpan kesunyian yang pekat. Hanya tersisa gema, yaitu tawa yang tertinggal di ingatan, canda yang menggantung di udara, dan kenangan yang perlahan-lahan mengendap di relung hati.
Sang ibu berdiri di ambang pintu, melepas kepergian mereka dengan mata yang berkaca-kaca. Ia tidak menangis dengan suara, tetapi kesedihan itu nyata, mengalir pelan di sudut matanya yang keriput. Ia memahami betul: anak-anaknya punya kehidupan, punya tanggung jawab, punya dunia yang tak lagi berpusat di rumah ini. Dan ia, dengan segala keikhlasan yang dipelajari dari usia panjangnya, belajar kembali untuk merelakan.
Lebaran, dengan segala kemeriahannya, memang selalu membawa dua wajah: kegembiraan yang meluap saat pertemuan, dan kesunyian yang mengendap setelah perpisahan. Ia adalah siklus rasa yang datang membawa cahaya, lalu pergi meninggalkan hening yang dalam.
Kini, rumah tua itu kembali sunyi.
Namun sunyi ini bukan tanpa makna. Di dalamnya tersimpan jejak cinta yang tak pernah benar-benar pergi. Di setiap sudutnya, ada cerita yang masih hangat, ada doa yang terus mengalir, dan ada harapan sederhana yang selalu hidup dalam hati seorang ibu: semoga suatu hari nanti, langkah-langkah itu kembali pulang, mengetuk pintu yang sama, dan menghidupkan kembali rumah yang tak pernah berhenti menunggu.
Sebab bagi seorang ibu, rumah bukan sekadar bangunan. Ia adalah tempat pulang, meski dunia telah membawa anak-anaknya jauh ke mana-mana.
Cilacap, 24 Maret 2026






