MADIUN – Pemahaman mengenai ibadah muamallah berupa silaturahmi yang dikorelasikan dengan konsep wal’aafiina ‘anin-naas disampaikan oleh Rektor UMMAD (Universitas Muhammadiyah Madiun), Prof.Dr.Sofyan Anif,M.Si dalam Halalbihalal Keluarga Besar UMMAD, Selasa, 31 April 2026.
Prof. Sofyan Anif menyampaikan bahwa silaturahmi merupakan aktifitas ibadah luar biasa yang tidak hanya sekedar mempersatukan tapi juga memberikan barokah.
Rektor menyampaikan bukan hanya orang Islam saja yang melakukan silaturahmi, orang-orang dari agama lain juga percaya bahwa dengan silaturahmi bisa mendatangkan rejeki serta memanjangkan umur (sehat).
“Rasulullah mengatakan Man sarrahu an yubsata lahu fii rizqihi, wa an yunsa’a lahu fii atsarihi, falyashil rahimahu. Barang siapa yang ingin Allah memanjangkan umur melapangkan rizki maka kuncinya dua taqwa kepada allah dan memperbanyak silaturahmi,” terang Rektor UMMAD.
Dalam konteks acara halalbihalal yang dilaksanakan keluarga besar UMMAD, Prof. Sofyan Anif menyampaikan bahwa intidari halalbihalal itu sebenarnya adalah silaturahmi.
“Inti halalbihalal itu apa? Silaturahmi sebetulnya, yang didalamnya ada kesadaran masing-masing sebagai manusia yang lemah pasti berbuat salah dan khilaf dan secara sadar saling memberikan maaf.Maka pasti ada kata-kata taqabbalallahu minna wa minkum. Itu doa yang wajib diucapkan oleh seseorang yang selesai menjalankan ibadah puasa,” terang Rektor UMMAD.
Berikutnya, pemahaman silaturahmi tersebut dikorelasikan dengan konsep wal ‘afina ‘anin naas atau memberi maaf sebelum dimintai maaf sebagai salah satu kepribadian Muhammadiyah yang diajarkan KH Ahmad Dahlan.
Disampaikan Prof. Sofyan Anif, memberi maaf kepada orang yang berbuat kesalahan bahkan menjad ideologi Muhammadiyah. Ada 10 kepribadian Muhammadiyah, salah satunya kesanggupan memberikan maaf kepada siapapun yang bersalah kepada kita.
“Inilah (wal ‘afina ‘aninnas) yang sering disampaikan KH Ahmad Dahlan. Kalau bicara Muhammadiyah tidak hanya soal mendirikan sekolah, rumah sakit, tapi juga termasuk (membangun) kepribadian Muhammadiyah,” kata Rektor UMMAD.
Konsep Al-‘aafiina ‘anin-naas
Dalam konteks meminta maaf serta memberi maaf tersebut, Rektor UMMAD menyampaikan, meminta maaf tidak harus saat bulan syawal, namun setiap kita melakukan salah harus minta maaf.
Allah memberi marwah berbeda. Jika kita salah lalu minta maaf itu punya satu marwah, kalau dinilai 7 atau 8. Tapi Allah memberikan marwah lebih tinggi, nilainya 10.
“Siapa itu, wal ‘aafiina ‘anin-naas. Nah sekarang mau cukup nilai 7 dan 8 atau mengejar yang 10. Itu tergantung hati kita,” terang Guru Besar bidang pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) tersebut.
Prof. Sofyan Anif menekankan agar jangan menjadikan permintaan maaf di hari raya sebagai kebiasaan (habit). Sebab manusia tidak pernah tahu hidup mereka sampai kapan waktunya. Sehingga tentu saja manusia akan merasa rugi bila melakukan kebiasaan tersebut.
“Maka Allah memberi nilai 7 atau 8 itu kalau kita langsung meminta maaf saat berbuat salah. Trapi yang lebih memberi jaminan marwah dengan dengan kata kata masuk syurga itu memberi maaf tanpa dimintai maaf. Kesadaran memberi maaf itu harus kita punyai,” tandas Rektor UMMAD. **





