MADIUN – Bidang akademik Universitas Muhammadiyah Jawa Timur (UMJT) menggelar workshop publikasi di jurnal terindeks Scopus secara online via Zoom, Jum’at, 4 September 2026.
Workshop tersebut menghadirkan narasumber dosen Program Studi Ilmu Pemerintahan, Universitas Muhammadiyah Buton, Dr.Herman Lawelai, S.IP., M.IP.
Dr Herman Lawelai telah menulis artikel ilmiah di jurnal bereputasi internasional terindeks Scopus sejak tahun 2022 dan hingga saat ini telah menghasilkan 15 jurnal dengan 7 diantaranya sebagai penulis tunggal serta 177 tulisan di Google Scholar.
Tema yang dihadirkan dalam workshop ini Strategi Memilih Jurnal Target Publikasi Scopus untuk Dosen UMJT.
Selain dari dosen dan pejabat struktural kampus di UMJT, workshop ini juga diikuti sejumlah dosen UM Buton.
Wakil Rektor I UMJT, Dr Fajar Junaedi menyampaikan workshop publikasi jurnal ini bertujuan untuk meningkatkan publikasi dosen di jurnal yang terindeks di Scopus dan berusaha mencari jurnal Scopus yang tidak berbayar dan bisa ditembus.
Publikasi di jurnal terindeks Scopus bukan hanya tentang menulis artikel yang berkualitas, tetapi juga tentang memilih jurnal target yang tepat, memahami scope jurnal, menilai reputasi dan kredibilitasnya, serta menyusun strategi publikasi yang realistis.
“Dan kita semua disini, mas dan mbak dosen bisa menyusul keberhasilan Bang Herman untuk meraih indeks yang tinggi dan publikasi yang banyak. Semoga kolaborasi UMJT dan UM Buton bisa berkelanjutan,” ujar Dr. Fajar Junaedi.
Sejumlah pokok bahasan workshop publikasi jurnal dihadirkan Dr. Herman Lawelai yang telah memiliki 15 tulisan di jurnal terindeks Scopus tersebut.
Yaitu pemetaan jurnal yang sesuai dengan tulisan kajian dosen, cara memilih jurnal yang free access atau tidak berbayar yang sesuai dengan keahlian dosen.
Berikutnya juga dibahas cara memanfaatkan berbagai alat data base untuk mencari jurnal yang sesuai kepakaran dosen misalnya dengan menggunakan jurnal finder dan alat lainnya.
Pokok bahasan lainnya adalah mengenai ciri-ciri jurnal predator yang keberadaannya dapat memberi reputasi buruk bagi dosen.
“Kita akan belajar menggali ciri jurnal predator. Jangan sampai menerbitkan naskah di jurnal tersebut tetapi tidak memberi dampak bahkan memberi reputasi jelek bagi kita,” ujar Dr Herman Lawelai.
Pemetaan jurnal
Mengenai pemetaan jurnal, Herman Lawelai menyampaikan peta kepakaran dosen berbasis rumpun ilmu dan homebase kepakaran yang ada di UMJT yang dapat dilihat dari tiga fakultas yang dikelola yaitu Sains dan Teknologi, Ilmu Kesehatan serta Sosial Humaniora, Pendidikan.
Fokus kepakaran di Sains dan Teknologi bisa terkait tentang rekayasa teknologi, model risiko, dan keberlanjutan.
Di rumpun ilmu kesehatan fokus kepakarannya bisa mengenai asuhan klinis, kebijakan dan manajemen layanan.
“Untuk Sosial, Humaniora dan Pendidikan fokus kepakarannya di perilaku, regulasi, modal sosial serta pedagogi,” ujar Herman.
Syarat pemilihan jurnal
Herman Lawelai juga menyampaikan pemahaman mengenai beberapa hal penting dalam memilih jurnal publikasi ilmiah.
Pertama mengenai kualitas artikel, kedua kesesuaian scope, ketiga reputasi jurnal dan ke empat strategi realistis.
“Kredibilitas penerbit ini diakui atau tidak, lalu harus punya indeksasi dan rekam jejak editorial. Bukan hari ini submit bulan depan di publish. Itu sudah predator,” ujar Herman Lawelai.
Jurnal Scopus tidak berbayar
Mengenai publikasi jurnal Scopus yang tidak berbayar, Herman Lawelai menyampaikan ada langkah langkah verifikasi yang harus dilakukan dosen.
Hal ini harus dilakukan agar jangan sampai mengandalkan satu daftar atau label “free publication” serta memeriksa status indeksasi dan biaya langsung dari sumber resminya.
Langkah-langkah verifikasi tersebut adalah pertama mencari di Scopus Sources dengan melakukan penelusuran berdasarkan bidang, judul atau ISSN sertakan memastikan jurnal masih aktif dan cakupan tahunnya sesuai.
Kedua saring melalui DOAJ (Document of Open Access Journals) dengan cara mencari jurnal open access dengan informasi “no publication fees” atau tanpa biaya pemrosesan artikel.
Ketiga memeriksa situs jurnal dengan membaca author guideline (petunjuk penulis, article processing price (APC) atau harga proses penulisan artikel, publication fees (biaya publikasi), page charge (biaya halaman), dan kebijakan open access (baca terbuka).
Ke empat melakukan konfirmasi sebelum submit. Apabila ada informasi tidak tegas saat konfirmasi, kirim email pihak editorial jurnal serta simpan jawaban tertulis sebagai bukti,” terang Herman.
Herman Lawelai juga menyampaikan tiga model biaya publikasi jurnal bereputasi yang bisa dikenali oleh dosen.
Pertama Diamond Open Access tanpa APC dan artikel dapat dibaca terbuka. Kedua Subscription Journal yang biasanya tanpa APC tetapi artikel tidak otomatis bisa dibaca terbuka.
Lalu yang ketiga adalah Hybrid Journal yang memberlakukan APC apabila penulis memilih opsi open access (membaca terbuka).
Jurnal predator
Mengenai keberadaan jurnal predator, Herman Lawelai menyampaikan ada beberapa aspek yang harus dipahami dosen.
“Agar tidak terkecoh dengan tampilan profesional jurnal atau klaim indeksasi yang bukan merupakan bukti proses editorial kredibel,” ujar Herman Lawelai memberi pemahaman.
Aspek pertama adalah adanya undangan submit yang ditandai dengan adanya email yang agresif yang isinya diluar bidang keahlian.Lalu peer review dengan janji accept (diterima) atau review yang hanya beberapa hari.
Kemudian biaya dimana APC tidak jelas atau muncul setelah accept (diterima). Bisa juga dilihat dari identitas jurnal terkait ISSN , alamat, editor, atau penerbit yang sulit diverifikasi.
Berikutnya beri perhatian aspek indeksasi dimana biasanya jurnal predator ini memakai logo indeks tanpa bukti resmi. Berikutnya soal etika terkait kebijakan koreksi dan retraction yang tidak tersedia.
Pemilihan jurnal bereputasi
Herman Lawelai menyampaikan, transformasi UMMAD menjadi UMJT melalui pengembangan publikasi jurnal internasional bereputasi yang merupakan langkah branding yang tepat.
Dengan jurnal bereputasi internasional dapat mengangkat reputasi akademik dosen, kemudian Prodi melalui akreditasi juga kepada universitas.
“Tantangannya kalau sudah masuk perangkingan internasional yang dilihat jumlah sitasi jurnal bereputasi yang dirujuk.Jumlahnya, bukan lagi jumlah paper terindeks Scopus tapi pengakuan atau recognisi itu disitasi oleh internasional,” terang Herman Lawelai. (*)






