Sore itu saya terjebak macet di Bundaran Serayu, Madiun. Dan tanpa saya rencanakan, macet itu mengajarkan saya lebih banyak soal toleransi.
Sore itu saya terjebak macet. Bukan macet biasa.
Bundaran Serayu, Madiun, sekitar pukul 16.30 menjelang Maghrib di minggu pertama Ramadan. Motor saya maju selangkah, berhenti. Maju selangkah, berhenti lagi. Di depan, bukan kecelakaan, bukan pula konvoi pejabat. Yang bikin macet adalah lapak-lapak takjil yang tumpah ruah ke tepi jalan, dan lautan manusia yang berdesak dari trotoar.
Saya mulai kesal. Lalu saya mulai memperhatikan.
Di sebuah lapak, kolak pisang dan es buah dalam wadah panci dan termos es, antrean mengular. Yang antre: perempuan berjilbab rapi, bapak-bapak berpeci, dan, ini yang membuat saya berhenti sesaat, sekelompok anak muda, tertawa-tawa sambil saling dorong berebut duluan. Salah satu dari mereka merasa menang, dan dengan bangga mengangkat bungkusan kolaknya ke atas kepala seperti mengangkat trofi Piala Dunia, lalu berteriak: “Aku dapat, bro! Kali ini aku yang menang!”
Teman-temannya, dan bahkan beberapa orang yang sedang antre di belakang mereka, ikut tertawa. Saya juga ikut tertawa. Dan dalam tawa itu, macet yang membuat saya kesal tiba-tiba terasa seperti hadiah.
Karena dalam sepuluh menit terjebak di Bundaran Serayu, saya menyaksikan sesuatu yang jarang sekali terlihat di era Indonesia yang gemar berdebat di medsos ini: kebersamaan yang tidak dibuat-buat. Toleransi yang tidak perlu dikhotbahkan.
Dari Istilah Viral ke Realitas Sosial
Istilah “War takjil” telah menjadi fenomena budaya dalam ranah digital Indonesia pada Ramadan beberapa tahun terakhir. Esensi pertanyaan ini tidak hanya soal definisi kata-kata, melainkan juga konteks sosial, nilai-nilai kultural, dan dinamika kompetisi berkehidupan di antara berbagai kelompok komunitas pada bulan suci.
Kata takjil berasal dari bahasa Arab ta’jil, yang berarti menyegerakan, sebagaimana arti kata tersebut dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Ia merujuk pada hadis Nabi Muhammad SAW yang menganjurkan umat Islam agar tidak menunda-nunda berbuka puasa. Dalam perjalanan panjangnya masuk ke bahasa Indonesia, maknanya bergeser menjadi nama bagi jajanan atau hidangan berbuka, terutama yang manis dan ringan: kolak, es buah, gorengan, kurma.
Lalu datanglah kata war, bahasa Inggris untuk perang, yang dalam slang internet Indonesia dipakai untuk menggambarkan kompetisi berebut sesuatu yang langka atau diperebutkan banyak orang. Gabungkan keduanya, dan Anda mendapat: War takjil. Perang paling manis yang pernah ada.
Fenomena ini meledak di TikTok sekitar 2022–2023. Konten-konten video pendek memperlihatkan orang-orang non-Muslim yang dengan semangat berapi-api, kadang bahkan lebih berapi-api dari yang berpuasa, memborong takjil di pasar Ramadan. Tagar #wartakjil di TikTok Indonesia viral dan menjadi fenomena yang meningkatkan visibilitas Ramadan serta membentuk narasi humor serta kompetisi massa secara viral. Namun, konten ini tidak hanya bersifat hiburan; ia memantik diskursus mengenai dinamika konsumsi Ramadan, aksesibilitas takjil, serta bagaimana identitas keagamaan dipetakan dalam konsumsi publik.
Fenomema War takjil ini terus tumbuh dan berkembang dari tahun ke tahun. Sekarang ini, di kota-kota besar, sebagai tempat War takjil banyak terjadi, kita akan menjumpai tidak lagi hanya antara muslim dan non muslim tapi juga wisatawan dari luar negeri yang ikut berebut takjil.
Pertanyaan pentingnya adalah kenapa konten ini begitu disukai orang. Dan jawabannya, saya rasa, jauh lebih dalam dari sekadar humor.
Toleransi yang Turun ke Trotoar
Sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi, ada satu hal yang paling saya pelajari dari fenomena ini, adalah bahwa pesan yang paling kuat bukan selalu yang paling keras.
Kita terbiasa melihat toleransi dikemas dalam format yang megah: seminar kerukunan umat beragama di hotel bintang lima, iklan BNPT tentang moderasi, baliho besar bergambar pemuka agama bersalaman. Semua bagus. Semua perlu. Tapi jujur saja, berapa banyak dari kita yang benar-benar tergerak oleh baliho?
War takjil bergerak dengan cara yang berbeda. Ia tidak meminta Anda setuju dengan suatu ideologi. Ia tidak menghakimi. Ia hanya mengajak Anda ikut antre, tertawa, dan pulang dengan bungkusan kolak di tangan. Bahkan yang awalnya mau beli dua, pulangnya beli lima.
Ini yang oleh sosiolog Robert Putnam disebut bridging social capital, modal sosial yang membangun jembatan antar kelompok yang berbeda. Bukan sekadar mempererat yang sudah dekat, tapi benar-benar menjangkau pihak lain. Bridging social capital tidak hanya menguatkan kohesi di antara kelompok yang sudah dekat, tetapi juga menjembatani kelompok yang berbeda melalui interaksi rutin, saling percaya, dan norma-norma saling menghormati. War takjil, dengan formatnya yang non-kampanye, non-konfrontatif, dan berorientasi pada berbagi pengalaman. Dan War takjil melakukannya tanpa pidato, tanpa agenda, dan tanpa anggaran.
Istilah War takjil sendiri seolah seperti sindiran akan sisi intoleran yang masih ada di Indonesia. Tapi kemudian saya ingat tawa di Bundaran Serayu. Saya ingat video-video yang ramai di media sosial itu. Dan saya berpikir: mungkin masalahnya bukan bangsa ini tidak bisa toleran. Mungkin masalahnya adalah selama ini kita terlalu sering membicarakan toleransi di tempat yang salah, dengan format yang salah, kepada orang yang sudah setuju sejak awal.
War takjil membawa diskusi itu turun ke trotoar. Dan di trotoar itulah ia bekerja.
Penekanan pada humor, rasa kebersamaan, dan aktivitas antre dan berebut beli makanan tanpa agenda politik menjadikan War takjil sebagai media komunikasi yang inklusif dan non-konfrontasional, sehingga berpotensi menurunkan hambatan sosial yang sering muncul dalam wacana toleransi berbasis doktrin. Praktik budaya dan interaksi sehari-hari dapat menjadi pendorong toleransi melalui jaringan sosial yang lebih luas dan beragam.
Si Penjual Kolak Adalah Pemenangnya
Tapi ada sudut pandang yang sering luput dari perbincangan War takjil: sudut pandang si penjual.
Saya ingin bicara soal Ibu yang punya lapak kolak dan es buah di Bundaran Serayu itu.
Saya tidak tahu namanya. Tapi saya tahu bahwa sore itu, ia berhasil menjual kolak pisang dan es buah dalam jumlah yang lumayan. Pembeli pertamanya mungkin non-Muslim yang ikut War takjil karenasudah beli makanan meskipun Maghrib masih lama. Pembeli berikutnya, orang yang berpuasa dan ingin berbuka. Bagi beliau, tidak ada bedanya. Uang lima ribu tetap berbunyi sama dari siapapun yang membeli dagangannya.
Ini bukan hanya cerita yang menyentuh. Ini adalah fakta ekonomi yang penting.
Data Kementerian Perdagangan RI menunjukkan bahwa selama Ramadan, perputaran uang di sektor makanan dan minuman meningkat rata-rata 30–40% dibandingkan bulan biasa. Mayoritas lonjakan ini terjadi di segmen UMKM, pedagang kaki lima, ibu rumah tangga yang jualan dari dapur, warung musiman.
War takjil memperluaspasar itu. Ia menarik konsumen baru, orang-orang non-Muslim yang mungkin sebelumnya tidak pernah kepikiran untuk jajan di pasar Ramadan, untuk masuk dan berpartisipasi. Tidak ada biro iklan yang merancang kampanye ini. Tidak ada anggaran promosi. Hanya jutaan konten TikTok yang, tanpa disadari penciptanya, sedang mempromosikan UMKM lokal ke audiens yang jauh lebih luas dari jangkauan manapun.
Dosen Departemen Ekonomi FEB Universitas Indonesia, Zahra Kemala Nindita Murad, menunjukkan bahwa momen buka puasa selama Ramadan menjadi salah satu faktor penting dalam perputaran uang UMKM, karena buka puasa sering dijadikan ajang berkumpul kerabat, teman, hingga mitra bisnis yang turut mendongkrak penjualan pedagang kecil. War takjil adalah amplifier-nya. Pengeras suaranya. Dan suara yang paling dikeraskan adalah suara para pedagang kecil yang selama ini paling sering tidak terdengar.
Islam Rahmatan Lil Alamin
Ada pertanyaan yang lebih dalam dari sekadar “mengapa War takjil viral?” yaitu: mengapa Ramadan, bulan ibadah milik umat Islam, justru melahirkan ruang paling inklusif di Indonesia setiap tahunnya?
Jawabannya, saya kira, ada dalam DNA Islam itu sendiri. Allah SWT berfirman dalam Al-Qurʼan:
“Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiyaʼ: 107)
Ayat ini bukan sekadar klaim teologis. Ia adalah visi. Bahwa kehadiran Islam, termasuk momentum Ramadan yang datang setiap tahun, seharusnya menjadi berkah yang dirasakan oleh semua, tanpa sekat agama. Rahmat tidak mengenal batas keyakinan. Dan Ramadan, dengan seluruh semarak tradisinya, adalah salah satu wujud paling nyata dari rahmat itu di bumi Indonesia.
Prinsip ini diperkuat oleh sabda Nabi Muhammad SAW Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Barangsiapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa itu tanpa mengurangi pahala orang tersebut sedikit pun.”
(HR. Tirmidzi)
Hadis ini bukan hanya dorongan spiritual, tetapi juga menciptakan ekosistem ekonomi. Banyak orang membeli takjil bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi untuk dibagikan di masjid, ke tetangga, atau kepada pekerja jalanan. Di sinilah konsumsi bertemu dengan kepedulian sosial.
Pintu pahala kebaikan dibuka lebar, dan di sinilah spirit Ramadan bertemu langsung dengan semangat War takjil: siapapun yang menyediakan takjil, ia sedang turut memuliakan bulan yang mulia ini.
Maka fenomena War takjil bukan anomali. Ia adalah bukti bahwa Islam sebagai rahmatan lil ʾalamin bukan slogan semata, ia hidup dan bernapas di trotoar-trotoar Indonesia setiap kali Ramadan tiba. Ketika non-Muslim berebut kolak bersama Muslim yang berpuasa, tanpa ada yang merasa terganggu, tanpa ada yang merasa dilanggar haknya, di situlah rahmat itu nyata adanya.
Ekonom pembangunan Hernando de Soto pernah menyebut bahwa ekonomi informal adalah tulang punggung banyak negara berkembang. Di Indonesia, Ramadan memperlihatkan betapa ekonomi informal, yang sering dipandang sebelah mata, justru menjadi penopang daya tahan masyarakat.
War takjil adalah ekspresi ekonomi solidaritas. Ia bukan kapitalisme yang dingin. Ia lebih menyerupai pasar rakyat yang hangat.
War takjil, secara tak sengaja, adalah praktik nyata dari nilai-nilai ke-Islaman. Pedagang kecil yang menjual makanannya memberi manfaat kepada semua pembeli, dan pembeli yang turut berpartisipasi memberi manfaat kepada pedagang tersebut. Saling menguntungkan. Tanpa agenda.
Saya Tahu ada Yang Tidak Setuju
Beberapa teman saya ada yang skeptis. “Ini cuma tren media sosial,” kata satu. “Besok juga hilang.” “Toleransi permukaan doang,” kata yang lain. “Yang di dalam tetap saja intoleran.” Saya dengarkan keduanya. Dan saya tidak sepenuhnya tidak setuju.
Benar bahwa ada bahaya komersialisasi iman—ketika Ramadan yang sakral berubah menjadi bahan konten tanpa kedalaman. Benar bahwa seseorang bisa ikut tertawa di video War takjil di pagi hari, lalu bersikap diskriminatif kepada tetangga beda agama di sore hari, tanpa merasa ada kontradiksi. Tapi saya tetap pada posisi saya: War takjil lebih banyak manfaatnya daripada mudharatnya. Dan alasan saya bukan sentimentil.
Dalam komunikasi, ada yang disebut agenda setting theory, teori yang mengatakan bahwa media tidak hanya memberitahu kita apa yang harus dipikirkan, tapi juga membentuk apa yang terasa normal. Ketika jutaan orang, berbulan-bulan, melihat konten yang memperlihatkan lintas-agama itu menyenangkan, wajar, dan lucu, perlahan-lahan itu menjadi norma. Dan norma itu jauh lebih sulit dihancurkan daripada yang dikira.
Jonathan Haidt, psikolog sosial penulis The Righteous Mind, berargumen bahwa humor bersama adalah salah satu perekat sosial paling kuat yang dimiliki manusia. Karena humor mengandaikan sebuah pemahaman bersama, perspektif yang sama, dan, yang paling penting, kepercayaan bahwa pihak lain tidak akan menyerang Anda meski Anda sedang tidak berjaga.
Ketika Muslim dan non-Muslim melakukan War takjil dan semua tertawa, itu bukan toleransi yang dibuat-buat. Itu kepercayaan yang sedang tumbuh. Pelan. Tapi nyata.
Pelajaran Dari Bundaran
Hari itu saya akhirnya berhasil lolos dari macet di Bundaran Serayu. Tapi sebelum pergi, saya menepi sebentar. Saya beli satu bungkus kolak pisang. Dari ibu yang sama yang dagangannya dari tadi larisnya luar biasa. Beliau tersenyum. Saya tersenyum balik. Tidak ada percakapan panjang. Tidak ada deklarasi kerukunan. Hanya transaksi kecil yang selesai dalam sekitar tiga puluh detik. Tapi dalam tiga puluh detik itu, dan dalam seluruh keramaian sore itu, saya melihat Indonesia yang sering hilang dari halaman berita: Indonesia yang masih bisa tertawa bersama. Yang masih bisa antre bersama. Yang masih mau berbagi trotoar meski berbeda agama.
War takjil bukan solusi untuk semua masalah toleransi di negeri ini. Saya tidak naif. Tapi ia adalah bukti. Bukti bahwa di tengah semua polarisasi, semua hoaks agama, semua narasi tentang Indonesia yang terbelah, masih ada jalan lain. Jalan yang tidak perlu dimulai dari seminar atau kebijakan pemerintah, melainkan dari sebuah lapak kecil, panci kolak dan termos es buah, dan sekumpulan orang yang memutuskan untuk antre bersama.
Bukan karena rebutan kolak itu lucu, meski memang lucu. Tapi karena dalam tawa rebutan itu, kita sedang membuktikan satu hal yang tidak akan pernah cukup kita buktikan: bahwa kita masih bisa menjadi satu, bahkan ketika kita sedang bersaing.
Ramadan tahun ini, coba sekali pergi ke pasar takjil, bukan untuk beli, tapi untuk melihat. Perhatikan siapa yang ada di sana, siapa yang tertawa, dan siapa yang saling mengalah di antrean. Lalu tanya ke diri sendiri: apakah ini benar-benar bangsa yang tidak bisa rukun?
Oleh: Endy Setyawan, mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Madiun
Referensi & Sumber Data:
Putnam, R.D. (2000). Bowling Alone: The Collapse and Revival of American Community. Simon & Schuster.
Haidt, J. (2012). The Righteous Mind: Why Good People Are Divided by Politics and Religion. Pantheon Books.





