Suwardi: WR 2 Ummad
Dalam ilmu Ushul Fiqh, perintah atau Amar adalah keharusan untuk melakukan sesuatu dari pihak yang lebih tinggi kedudukannya kepada pihak yang lebih rendah.
Ada 4 bentuk (shighat) lafadz perintah yang umum digunakan dalam bahasa Arab beserta contoh penerapannya dalam kehidupan sehari-hari:
1. Fi’il Amar (Kata Kerja Perintah)
Ini adalah bentuk yang paling dasar dan langsung menunjukkan perintah.
- Pola: Kata kerja yang berubah bentuk menjadi instruksi langsung.
- Contoh Kalimat: “Aqimi-sholata!” (Dirikanlah shalat!).
- Dalam Kehidupan: Ketika seorang Ibu berkata kepada anaknya, “Berangkatlah sekolah sekarang!” atau instruksi bos kepada staf, “Selesaikan laporan ini sebelum jam lima!”
2. Fi’il Mudhari’ yang Disertai Lam Amar
Kata kerja bentuk sedang/akan (mudhari’) yang ditambahi huruf lam (l) di depannya, sehingga maknanya berubah menjadi perintah.
- Pola: Li + Fi’il Mudhari.
- Contoh Kalimat: “Falyaktub…” (Maka hendaklah ia menulis…).
- Dalam Kehidupan: Seorang guru yang memberikan pengumuman di kelas, “Hendaklah setiap siswa membawa buku gambar besok.” Kalimat ini tidak menggunakan kata “Bawalah!”, tapi maknanya tetap mewajibkan.
3. Isim Fi’il Amar (Kata Benda yang Bermakna Perintah)
Kata yang secara bentuk adalah kata benda (isim), namun secara fungsi bertindak sebagai perintah.
- Contoh Kalimat: “Hayya ‘alash-sholah” (Mari menuju shalat) atau “Alaykum…” (Wajib atas kalian…).
- Dalam Kehidupan: Saat melihat situasi bahaya, seseorang berteriak, “Awas!” atau “Hati-hati!”. Kata tersebut bukan kata kerja murni, tapi fungsinya memerintahkan orang lain untuk waspada.
4. Mashdar Pengganti Fi’il Amar
Kata benda turunan (mashdar) yang digunakan untuk menggantikan posisi kata kerja perintah agar terdengar lebih tegas atau halus.
- Contoh Kalimat: “Wabil-walidaini ihsana” (Dan kepada kedua orang tua, berbuat baiklah). Kata ihsana adalah mashdar, bukan kata kerja “berbuat baiklah” (ahsin).
- Dalam Kehidupan: Seorang petugas keamanan yang hanya meneriakkan satu kata, “Antre!” atau “Tenang!”. Secara tata bahasa itu adalah kata benda, namun dalam konteks tersebut, itu adalah perintah untuk berbaris rapi atau berhenti berisik.
Keempat bentuk ini memiliki satu tujuan: mewujudkan suatu perbuatan.





