Gelombang Simpati Mengalir ke Muhammadiyah, Media Sosial Ramai dengan Log in Muhammadiyah

Jakarta – Perbedaan penetapan Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah kembali menjadi perbincangan hangat di masyarakat Indonesia. Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah menetapkan 1 Syawal 1447 H jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026, sementara pemerintah melalui sidang isbat Kementerian Agama menetapkan Idulfitri pada Sabtu, 21 Maret 2026. Polemik ini memicu diskusi luas di media sosial, namun yang mengejutkan, Muhammadiyah justru menuai gelombang simpati yang luar biasa dari masyarakat.

Kontroversi sempat memanas ketika muncul narasi yang menuduh keputusan Muhammadiyah tidak taat kepada ulil amri, bahkan ada oknum yang secara gegabah menyatakan perayaan Idulfitri sesuai ketetapan Muhammadiyah sebagai sesuatu yang haram. Pernyataan provokatif tersebut langsung menuai kritik tajam dari warganet. Banyak yang menilai bahwa perbedaan metode penentuan awal bulan seharusnya menjadi ruang ijtihad ilmiah, bukan alat untuk saling menyalahkan dan memecah belah umat.Alih-alih terpuruk, serangan narasi tersebut justru memperkuat citra Muhammadiyah di mata publik. Di berbagai platform seperti X (Twitter), Instagram, dan TikTok, ribuan warganet menyatakan dukungan mereka.

Ungkapan seperti “mau login ke Muhammadiyah saja”, “semakin respect dengan cara Muhammadiyah”, “ini baru organisasi yang konsisten dengan ilmu”, hingga “Lebaran Muhammadiyah lebih damai” menjadi trending dan ramai dibagikan. Tak sedikit netizen yang menyatakan ketertarikan untuk lebih mendekat atau bahkan bergabung dengan Persyarikatan Muhammadiyah sebagai bentuk apresiasi atas sikap teguh dan ilmiah yang ditunjukkan.Muhammadiyah menggunakan metode Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) berbasis hisab astronomi yang cermat dan memberikan kepastian lebih awal. Metode ini dianggap banyak kalangan sebagai langkah maju yang sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan, sekaligus memberikan kemudahan bagi umat untuk mempersiapkan ibadah dan aktivitas dengan lebih baik.

Sementara pemerintah masih mengandalkan kombinasi hisab dan rukyatul hilal dengan kriteria visibilitas tertentu.Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, dan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ketua Muhadjir Effendy berulang kali menegaskan bahwa perbedaan ini murni persoalan metode ijtihad, bukan bentuk ketidakpatuhan terhadap pemerintah. Muhadjir Effendy bahkan menjelaskan dengan tegas bahwa baik yang merayakan pada 20 Maret maupun 21 Maret sama-sama memiliki argumen ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.“Perbedaan ini bukan soal taat atau tidak taat kepada pemerintah, melainkan hasil dari pendekatan keilmuan yang berbeda. Semua pihak sama-sama berusaha mencari kebenaran sesuai kapasitasnya,” ujar Muhadjir dalam pernyataannya.

Haedar Nashir pun mengajak seluruh umat Islam untuk menyikapi perbedaan ini dengan dewasa. Ia menekankan agar para tokoh agama menghindari ujaran yang justru memperkeruh suasana. Menurutnya, Idulfitri seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat silaturahmi, saling memaafkan, dan peduli sesama, bukan untuk saling vonis dan memecah belah.Gelombang simpati yang mengalir ke Muhammadiyah kali ini mencerminkan pergeseran kesadaran masyarakat. Banyak warganet yang semakin menghargai organisasi yang konsisten dengan prinsip tajdid (pembaruan), mengedepankan akal sehat, ilmu pengetahuan, dan tidak mudah terprovokasi oleh narasi ekstrem.

Sikap Muhammadiyah yang tenang, ilmiah, dan tetap mengedepankan persatuan umat di tengah perbedaan justru menjadi daya tarik tersendiri.Di tengah polemik yang berulang setiap beberapa tahun, Muhammadiyah kembali menunjukkan dirinya sebagai organisasi Islam modern yang mampu menjadi teladan dalam menjaga keberagaman sekaligus kemajuan berpikir. Bagi banyak orang, perbedaan Idulfitri 1447 H ini bukan lagi sekadar soal tanggal, melainkan cermin bagaimana sebuah organisasi besar tetap teguh pada prinsipnya tanpa harus merendahkan pihak lain.Hingga kini, diskusi di media sosial masih berlangsung. Namun satu hal yang jelas: sikap elegan Muhammadiyah dalam menghadapi polemik ini telah berhasil meraih hati banyak masyarakat Indonesia yang haus akan pendekatan keagamaan yang rasional, toleran, dan berbasis ilmu.

Kapan Anda akan login ke Muhammadiyah? (FJ)


Bagikan

Baca juga

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Trending

Scroll to Top