Oleh: Eko Budi Siswandoyo
Ada sesuatu yang perlahan menghilang dari kehidupan kita hari ini yakni kebiasaan tertawa bersama. Bukan tertawa karena video lucu yang lewat di layar telepon genggam. Bukan pula tertawa karena meme yang muncul di lini masa media sosial. Kita memang masih melakukan hal-hal itu hampir setiap hari.
Namun, yang semakin jarang kita temukan adalah duduk dalam satu ruang yang sama, mendengar cerita yang sama, lalu meledakkan tawa bersama orang-orang yang hidup di sekitar kita.
Padahal dahulu, tawa semacam itu adalah detak jantung kehidupan sebuah kampung. Ia hadir secara organik di gardu ronda, di teras rumah, di warung kopi, hingga di tengah riuhnya hajatan warga.
Tawa menjadi penanda bahwa hubungan antarmanusia masih terjaga, bahwa percakapan masih berlangsung, dan bahwa seseorang masih merasa menjadi bagian utuh dari lingkungannya.
Ketika Generasi Tua Menjadi “Tamu”
Perasaan hangat yang mulai langka itu justru ditemukan saat mengunjungi ruang latihan ludruk di Merjosari, Kota Malang, beberapa waktu lalu. Tidak ada artis terkenal di sana. Tidak ada panggung megah, apalagi pemain profesional yang sedang mempersiapkan pertunjukan besar.
Yang ada hanyalah anak-anak, remaja, ibu rumah tangga, pekerja, hingga para sesepuh kampung yang berkumpul setelah menyelesaikan urusan domestik dan pekerjaan masing-masing. Di ruang itu, warga duduk melingkar, membaca naskah, sesekali lupa dialog, lalu saling meledek dan tertawa bersama.
Dalam salah satu bagian naskah yang sedang mereka baca dalam latihan, sekelompok remaja berseru dengan lantang, “Jaman anda, dahulu kala. Sekarang anda, tamu saja. Setiap jaman ada orangnya, setiap orang ada jamannya.”
Semburan dialog itu seketika memancing tawa riuh di ruang latihan. Tetapi, seperti banyak guyonan yang baik, ia tidak berhenti pada kelucuan semata. Ada cerita tentang pergeseran zaman yang menohok di sana.
Kalimat itu terdengar jenaka, tetapi menyimpan kegelisahan yang akrab bagi banyak keluarga hari ini. Dunia bergerak begitu cepat hingga kadang-kadang orang tua dan anak seperti hidup di zaman yang berbeda. Anak-anak berbicara dengan bahasa yang asing di telinga orang tuanya.
Sebaliknya, nasihat yang dianggap penting oleh generasi tua sering terdengar usang bagi generasi muda. Di ruang latihan itu, perbedaan tersebut tidak dibahas melalui perdebatan panjang. Ia hadir sebagai guyonan yang membuat semua orang tertawa, lalu diam sejenak untuk berpikir.
Reresik Jaya Patirtan: Membersihkan Ego Masyarakat
Kritik sosial yang dibalut humor segar ini juga terlihat pada bagian lain dalam naskah. Seorang anak menegur kedua orang tuanya yang setiap hari bertengkar, “Aku gak isin dadi anake sampean. Tapi perkara sampean ben dina gegeran ae…”
Ludruk tidak sedang menggurui persoalan tersebut. Ia tidak menunjuk siapa yang benar dan siapa yang salah. Kebudayaan lokal ini hanya menghadirkan kenyataan sehari-hari ke atas panggung, lalu membiarkan penonton menertawakan ego mereka sendiri.
Melalui lakon berjudul Reresik Jaya Patirtan yang dipersiapkan untuk Festival Merjosarian 4 ini, humor menjadi instrumen paling ramah untuk mengkritik diri sendiri.
Dalam bahasa Jawa, reresik berarti membersihkan. Kata yang sederhana, tetapi terasa tepat untuk menggambarkan apa yang sedang dilakukan warga Merjosari melalui lakon ini. Yang dibersihkan tampaknya bukan hanya lingkungan fisik atau saluran air sebagaimana tema festival tahun ini. Ada juga prasangka, jarak antargenerasi, dan kebiasaan untuk terlalu sibuk dengan urusan masing-masing hingga lupa menyapa tetangga di sebelah rumah.
Dengan menghidupkan lakon ini, warga Merjosari di bawah arahan Dohir Sindu Herlianto tidak sedang sekadar bermain peran, melainkan sedang menciptakan ruang untuk bercermin bersama. Ruang yang memungkinkan masyarakat menertawakan kekurangannya sendiri tanpa merasa disalahkan.
Silaturahmi Organik di Era Ketukan Jempol
Kita sering kali mengira sebuah kampung dibangun oleh infrastruktur fisik seperti aspal jalan, saluran air, atau deretan perumahan baru. Tentu semua itu penting. Tetapi, sebuah kampung sesungguhnya diikat oleh sesuatu yang tidak terlihat. Percakapan yang hidup, kebiasaan berkumpul, dan kesediaan untuk saling mendengarkan.
Kampung tidak hilang ketika sawah berubah menjadi perumahan. Kampung tidak hilang ketika jalan-jalan menjadi lebih ramai atau bangunan-bangunan baru terus bermunculan.
Kampung mulai hilang ketika warganya tidak lagi memiliki alasan untuk saling berjumpa secara fisik. Yaitu ketika tetangga hanya menjadi nama mati di dalam grup percakapan digital, tanpa pernah tahu bagaimana rupa senyumnya saat disapa.
Di Merjosari, alasan untuk bertemu itu dirawat dengan sangat bersahaja. Sekitar 30 warga dari berbagai usia dan latar belakang berkumpul sejak pertengahan Juni demi mempersiapkan pertunjukan ini.
Di era ketika silaturahmi sering kali dipersempit sebatas ketukan jempol dan kiriman stiker di aplikasi WhatsApp, ruang latihan di Merjosari menawarkan bentuk ukhuwah atau kebersamaan yang sangat organik.
Mereka bertukar peluh, bertukar tawa, dan saling mengoreksi dialog. Di ruang latihan itu, orang-orang belajar sesuatu yang semakin jarang kita temukan hari ini: hadir sepenuhnya untuk orang lain. Mereka tidak hanya bertukar dialog, tetapi juga bertukar cerita, pengalaman, dan perhatian. Hubungan-hubungan sosial yang sering kali renggang oleh kesibukan perlahan menemukan ruangnya kembali.
Sebelum tirai panggung benar-benar dibuka, sebelum penonton memenuhi kursi pertunjukan, dan sebelum lampu sorot dinyalakan, sebuah kemenangan kecil sebenarnya sudah terjadi di Merjosari.
Warga telah meluangkan waktu untuk saling menyapa, menyediakan ruang untuk mendengarkan satu sama lain, dan menemukan alasan untuk berkumpul di tengah dunia yang semakin sibuk membuat manusia tenggelam dalam urusannya masing-masing.
Mungkin itulah makna paling penting dari seluruh proses ini. Bukan semata-mata pertunjukan yang akan disaksikan pada malam pementasan, melainkan kebersamaan yang tumbuh selama proses menuju panggung.
Sebab selama sebuah kampung masih bisa tertawa bersama, selalu ada harapan bahwa ia juga masih mampu menjaga kehangatan, kepedulian, dan rasa memiliki yang membuat sebuah kampung tetap hidup.
Eko Budi Siswandoyo, Penulis adalah Dosen Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Gajayana (Uniga) Malang.




