Sound Horeg dalam Gema Takbir, Kekerasan Suara yang Seharusnya Tidak Dinormalisasi

Fajar Junaedi, dosen Ilmu Komunikasi dan tim pengembang Universitas Muhammadiyah Madiun / Universitas Muhammadiyah Jawa Timur

Malam menjelang Idul Fitri di sebuah desa di Madiun Jawa Timur. Suasana seharusnya dipenuhi gemuruh “Allahu Akbar” yang khidmat. Namun yang terdengar justru dentuman bass menggelegar, lampu warna-warni berkedip liar, dan irama koplo yang memekakkan telinga.

Sound horeg raksasa berjalan mengelilingi kampung diangkut dengan truk atau mobil pick up. Takbir yang dulu suci kini berubah menjadi karnaval malam yang riuh.Saya berdiri di teras rumah, melihat adegan itu dengan dada sesak. Takbir seharusnya membesarkan nama Allah. Tapi malam itu, nama Allah seolah hanya menjadi backdrop bagi pesta duniawi. Suara “Allahu Akbar” tenggelam dalam bass yang memekakkan.

Ini takbir atau konser? Inilah pertanyaan yang menyeruak yang terjadi setiap tahun di banyak tempat di Jawa Timur. Sound horeg bukan lagi pelengkap, melainkan penguasa takbir keliling. Dan di balik kemeriahan yang dipaksakan itu, tersembunyi cerita yang tidak sehat.

Pertama, ia merusak jiwa. Takbir adalah ibadah pengagungan. Ketika diubah menjadi ajang pamer sound system dan dance, ruhnya hilang. Anak-anak dan remaja yang seharusnya belajar khusyuk justru belajar bahwa mengagungkan Allah boleh sambil “nge-beat”. Ibadah yang mestinya mendidik akhlak berubah menjadi hiburan murahan. Lambat laun, generasi ini akan terbiasa mencampuradukkan yang suci dengan yang profan.

Kedua, ia menyakiti tubuh. Setiap malam, sound horeg memuntahkan suara di atas 120 desibel. Paparan seperti itu bisa merusak sel-sel saraf di telinga secara permanen. Media massa mengabarkan tentang warga yangmengeluh pusing, tinnitus, bahkan ada yang harus ke IGD karena anaknya tidak bisa tidur dan kejang-kejang. Lansia dan bayi menjadi korban paling tak berdaya. Getaran bass yang kuat bahkan sempat meretakkan dinding rumah warga. Ini bukan lagi takbir, ini sudah kekerasan suara.

Ketiga, ia memecah belah masyarakat. Di kampung yang dulu rukun, kini muncul konflik. Ada warga yang protes karena tidak bisa tidur, ada yang marah karena merasa takbirnya “kalah ramai”. Lalu lintas macet, orang sakit tak bisa istirahat, dan ketenteraman malam Idul Fitri hilang. Yang seharusnya menjadi momen persatuan justru menjadi sumber perselisihan.

Saya ingat kontrasnya dengan takbir keliling di Yogyakarta yang dilakukan Angkatan Muda Muhammadiyah. Mereka berjalan rapi, suara takbir jelas, tidak ada bass menggelegar, tidak ada lampu disco. Kegembiraan tetap ada, tapi tidak mengorbankan kesehatan, ketertiban, dan khidmat. Dan hasilnya? Warga justru ikut keluar rumah, tersenyum, dan mengaminkan. Takbir itu terasa benar-benar membawa berkah.

Di Jawa Timur, sound horeg telah menjadikan takbir sebagai pertunjukan. Semakin besar sound-nya, semakin “sukses” takbirnya menurut ukuran mereka. Padahal takbir yang sehat adalah takbir yang bisa didengar jelas oleh hati, bukan yang memekakkan telinga. Takbir yang membawa kedamaian, bukan yang meninggalkan kerusakan.Malam itu, setelah rombongan sound horeg lewat, saya melihat anak kecil di depan rumah masih menutup telinga. Matanya bertanya: “Kenapa takbir harus seperti ini?”Pertanyaan itu yang harus kita jawab bersama. Sudah saatnya kita hentikan cerita yang tidak sehat ini. Kembalikan takbir pada hakikatnya: suara yang mengagungkan Allah, bukan yang mengganggu sesama makhluk-Nya.

Bagikan

Baca juga

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Trending

Scroll to Top