Fajar Junaedi, dosen Ilmu Komunikasi dan tim pengembang Universitas Muhammadiyah Madiun / Universitas Muhammadiyah Jawa Timur
Di era media sosial yang serba cepat, sarkasme adalah senjata favorit netizen. Satu dua komentar sinis, diramu dengan AI, lalu jadi lagu viral. Begitulah lahirnya MBG: Mas Bahlil Ganteng—atau yang lebih dikenal dengan refrain absurd nan lengket: “Buah apa yang paling manis? Buaahhlil… Tambah ganteng aja, my little bolu ketan.”
Awalnya, lagu ini jelas dibaca sebagai sarkasme. Di tengah isu energi, harga BBM, dan tanggung jawab seorang Menteri ESDM sekaligus Ketum Golkar, muncul jingle yang menggambarkan Bahlil Lahadalia seperti tokoh kartun imut yang “semakin ganteng”. Netizen tertawa, berpikir ini sindiran halus: mengubah kritik serius menjadi pujian berlebihan yang konyol. Sarkasme klasik Indonesia—menertawakan elite dengan cara yang seolah memuji.Namun, di sinilah letak ironi yang dalam.
Sarkasme yang direpetisi berulang-ulang justru melahirkan banalitas. Yang tadinya tajam, menjadi biasa. Yang tadinya menggigit, kini hanya jadi earworm yang muncul di kepala saat diam-diam: “MBG… Mas Bahlil Ganteng…” Lagu ini tidak lagi mengkritik; ia malah menghibur, membuat orang joget, dijadikan sound TikTok, remix jaranan, bahkan dinyanyikan anak kecil. Sarkasme mati karena terlalu sukses. Ia kehilangan giginya karena semua orang ikut menyanyikannya—termasuk pendukung Bahlil sendiri.
Apalagi MBG adalah kosakata yang mungkin paling populer di Indonesia saat ini. Singkatan awalnya adalah Makan Bergizi Gratis, program unggulan Presiden Prabowo. Anak-anak di sekolah menikmati sajian MBG, di media sosial mereka mendengar lagu MBG yang diplesetkan menjadi Mas Bahlil Ganteng.
Inilah kekuatan, dan sekaligus bahaya, algoritma media sosial. Platform seperti TikTok dan Instagram tidak peduli niat awal pembuat konten. Mereka hanya melihat engagement: like, share, watch time, duet, stitch. Semakin sering lagu ini diputar, semakin tinggi jangkauannya. Akhirnya, apa yang dimulai sebagai lelucon oposisi berubah menjadi konten organik massal yang justru memperkuat personal branding Bahlil.Bahlil sendiri merespons dengan santai—bahkan tertawa dan ingin bertemu pembuat lagunya.
Partai Golkar menyatakan ini sebagai “apresiasi netizen atas kerja keras”. Sikap itu cerdas. Alih-alih defensif atau marah (yang justru akan jadi bahan bakar sarkasme baru), mereka memeluk meme tersebut. Hasilnya? Citra Bahlil yang tadinya mungkin kaku atau teknokratis, kini terasa lebih manusiawi, dekat, bahkan “gemoy”. Mirip sekali dengan fenomena “joget gemoy” Prabowo dulu: sarkasme yang berbalik menjadi aset elektoral.
Fenomena ini mengingatkan kita pada teori banalitas kejahatan Hannah Arendt, tapi versi ringan dan digital: banalitas sarkasme. Ketika kritik berulang tanpa kedalaman, ia tidak lagi mengganggu kekuasaan—malah menjadi pelumasnya. Algoritma tidak punya ideologi; ia punya insentif. Dan insentif itu adalah perhatian. Sarkasme memberi perhatian, repetisi memberi lebih banyak perhatian, dan akhirnya perhatian itu jadi milik yang disarkasme.
Apakah ini buruk? Tidak selalu. Politik Indonesia memang semakin meme-driven. Figur publik yang bisa “main” dengan humor netizen cenderung lebih resilient. Tapi ada risiko: ketika segala hal direduksi menjadi “my little bolu ketan”, diskusi serius tentang kebijakan energi, transisi hijau, atau ketahanan stok BBM menjadi terasa kurang penting. Sarkasme yang banal menyapu bersih nuansa, menyisakan hanya vibe positif yang kosong.
Lagu viral MBG : Mas Bahlil Ganteng adalah pelajaran berharga tentang dinamika kekuasaan di era algoritma. Sarkasme netizen yang awalnya ingin menjatuhkan, justru mengangkat. Repetisi yang dimaksudkan untuk mengejek, malah menciptakan familiarity. Mesin algoritma, aktor tak terlihat itu, dengan cekatan mengubah lelucon menjadi branding politik yang ampuh.Netizen kira mereka sedang bercanda. Ternyata, mereka sedang bekerja untuk Mas Bahlil—gratis, massal, dan sangat efektif.
Pemilihan kata “mas” dalam judul dan lirik lagu menjadi mesin branding yang efektif untuk mengeruk dukungan dari pemilih di Pulau Jawa. Sebagai bukan orang Jawa, judul dan lirik lagu Mas Bahlil Ganteng menjadikan Bahlil akan lebih terlihat “Jawa”. Pemilih di Pulau Jawa bisa terpikat dengan pilihan kata “mas”.
Selamat datang di politik 2026: di mana yang paling viral menang, bukan yang paling benar. Dan lagu yang paling ngeselin justru yang paling berkesan.Buah apa yang paling manis?
Buaahhlil.





