Ketika Fajar Belum Sempurna, Seorang Guru Itu Pulang

Oleh: Agus Setiyono (Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jambi)

Langit dini hari, 23 Mei 2026, tampak lebih sunyi dari biasanya.
Seakan angin menahan desirnya, dan waktu berjalan lebih pelan di antara lantunan doa-doa yang belum selesai dipanjatkan. Di saat sebagian manusia masih terlelap dalam tidurnya, kabar itu datang seperti embun dingin yang jatuh tepat di relung dada:
Prof. Dr. Hamim Ilyas telah berpulang.
Allah SWT memanggil beliau kembali.

Innalillahi wa inna ilaihi raji‘uun.

Bagi warga Muhammadiyah, nama itu bukan sekadar gelar akademik yang panjang atau deretan jabatan intelektual yang mengagumkan. Ia adalah wajah keteduhan. Sosok yang hadir tanpa gaduh. Seorang alim yang tidak meninggikan suara untuk meninggikan dirinya.

Beliau adalah jenis manusia yang membuat orang merasa nyaman bahkan sebelum percakapan dimulai.

Ada ulama yang dihormati karena ilmunya.
Ada intelektual yang dikagumi karena pikirannya.
Namun Prof. Hamim Ilyas adalah keduanya sekaligus: ulama yang cerdas tanpa kehilangan kelembutan, dan intelektual yang dalam tanpa kehilangan adab.

Orang-orang menyebut beliau sebagai “ulama intelektual” dan “intelektual ulama”. Sebuah penyebutan yang tidak lahir dari pencitraan, melainkan dari perjalanan panjang ilmu, akhlak, dan pengabdian.

Beliau tidak hanya mengajar di ruang kuliah.
Beliau mengajar melalui sikap.

Tidak sedikit tokoh besar yang menjadi tinggi karena panggung, tetapi beliau justru semakin menunduk ketika namanya semakin dikenal. Dalam setiap forum, tutur katanya terukur. Dalam setiap diskusi, pikirannya tajam namun tetap menyejukkan. Dan dalam setiap perbedaan, beliau memilih jalan hikmah dibanding amarah.

Di zaman ketika banyak orang ingin terlihat paling benar, beliau hadir dengan kerendahan hati yang langka.

Barangkali itulah yang membuat kehilangan ini terasa begitu dalam.

Muhammadiyah kehilangan salah satu mata air intelektualnya.
Umat kehilangan seorang penjernih kegaduhan.
Dan bangsa ini kehilangan seorang guru yang tidak lelah menjahit ilmu dengan akhlak.

Namun begitulah sunnatullah.
Allah tidak pernah benar-benar mengambil orang baik dari dunia tanpa meninggalkan jejak cahaya.

Jejak itu kini tertinggal di ruang-ruang kajian, di lembar-lembar pemikiran, di murid-murid yang pernah disentuh ilmunya, dan di hati orang-orang yang pernah mengenalnya.

Mungkin jasad beliau telah berhenti berjalan, tetapi pikiran dan keteladanannya akan terus melanjutkan perjalanan.
Sebab orang berilmu tidak benar-benar wafat.
Bukankah Rasulullah SAW pernah bersabda:

“Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.”

Prof. Hamim Ilyas tampaknya meninggalkan ketiganya sekaligus.

Dan dini hari itu, ketika kabar kepergian beliau menyebar dari satu telepon ke telepon lain, dari satu grup ke grup lainnya, banyak orang terdiam. Sebagian kehilangan kata-kata. Sebagian lain hanya mampu mengirim doa.

Karena memang ada orang-orang yang terlalu baik untuk dilupakan dengan cepat.

Kepergian beliau mengingatkan kita bahwa hidup bukan tentang seberapa lama nama disebut manusia, melainkan seberapa besar manfaat yang tertinggal setelah tiada.

Di tengah dunia yang semakin riuh oleh perebutan pengaruh dan popularitas, Prof. Hamim Ilyas justru mengajarkan bahwa kemuliaan sejati tumbuh dari ilmu yang rendah hati.

Dan mungkin itulah sebabnya Allah memanggil beliau pada waktu yang begitu hening, agar langit menjadi saksi bahwa seorang hamba yang baik sedang pulang.

Selamat jalan, Guru.

Terima kasih telah mengajarkan bahwa kecerdasan tidak harus angkuh, bahwa ilmu harus melahirkan kasih sayang, dan bahwa menjadi besar tidak harus membuat seseorang kehilangan kesederhanaannya.

Semoga Allah SWT melapangkan kubur beliau, menerima seluruh amal ibadahnya, menjadikan ilmu-ilmunya sebagai cahaya yang terus mengalir, dan menempatkan beliau bersama orang-orang saleh, para ulama, syuhada, serta hamba-hamba pilihan-Nya.
Aamiin yaa Robbal ‘alamiin.

Bagikan

Baca juga

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Trending

Scroll to Top