109 Tahun ‘Aisyiyah: Menjahit Luka Dunia dengan Dakwah Kemanusiaan

Oleh: Agus Setiyono (Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jambi)

Di tengah dunia yang semakin bising oleh amarah, manusia modern justru tampak kehilangan kemampuan paling sederhana: memanusiakan manusia.
Kita hidup pada zaman ketika teknologi melesat seperti cahaya, tetapi hati banyak orang berjalan terseok-seok. Peradaban dibangun tinggi menjulang, namun kasih sayang sering kali runtuh bahkan sebelum sempat ditegakkan.

Di saat banyak orang sibuk memperebutkan panggung, ada perempuan-perempuan yang diam-diam memilih menyalakan pelita.

Mereka tidak selalu hadir di layar besar sejarah. Tidak pula gemar memukul genderang popularitas. Namun dari dapur-dapur sederhana, sekolah-sekolah kecil, ruang pengajian, rumah sakit, panti asuhan, hingga lorong-lorong sunyi tempat air mata rakyat kecil jatuh tanpa saksi, mereka bekerja dengan sunyi yang bernilai ibadah.

Mereka adalah perempuan-perempuan ‘Aisyiyah.

Seratus sembilan tahun bukan usia yang pendek.
Ia adalah perjalanan panjang tentang keteguhan merawat iman di tengah perubahan zaman. Tentang bagaimana perempuan Muslim tidak hanya menjadi penonton sejarah, tetapi juga penenun arah peradaban.

Dan mungkin di situlah letak keistimewaan ‘Aisyiyah di dalam tubuh Persyarikatan Muhammadiyah.
Ia bukan sekadar organisasi otonom yang hadir sebagai pelengkap administrasi pergerakan. ‘Aisyiyah adalah Ortom yang diberi keistimewaan, karena memang sudah layak. Sudah mampu berdiri dengan kaki sendiri, bahkan mulai berjalan dan berlari bersama arus besar dakwah untuk ikut memajukan sebuah pergerakan.

Tidak banyak organisasi perempuan yang mampu bertahan lebih dari satu abad sambil tetap relevan menjawab tantangan zaman. Lebih sedikit lagi yang mampu tumbuh bukan hanya dalam jumlah, tetapi juga dalam pengaruh sosial, pendidikan, kesehatan, dan kemanusiaan.

Dan kini, pada Milad ke-109, ‘Aisyiyah mengangkat tema yang terasa begitu agung sekaligus menantang:
“Memperkokoh Dakwah Kemanusiaan untuk Mewujudkan Perdamaian.”

Tema ini bukan sekadar rangkaian kata-kata yang dicetak di baliho acara lalu selesai setelah lampu panggung dipadamkan. Ia adalah panggilan moral. Sebuah keberanian untuk tetap berbicara tentang perdamaian di tengah dunia yang makin gandrung pada pertengkaran.

Hari ini, manusia terlalu mudah marah atas nama apa pun: politik, mazhab, pilihan, bahkan perkara-perkara remeh yang dahulu cukup diselesaikan dengan secangkir kopi dan saling memaafkan. Media sosial menjelma pasar besar tempat sebagian orang berlomba menjadi hakim tanpa ilmu dan algojo tanpa belas kasih.

Ironisnya, semakin religius simbol yang dipamerkan, terkadang semakin miskin kelembutan yang dipraktikkan.

Kita hidup di masa ketika sebagian orang lebih sibuk memperdebatkan panjang celana dibanding panjang antrean orang miskin yang membutuhkan bantuan. Lebih gaduh mempersoalkan perbedaan qunut daripada memikirkan anak-anak yang putus sekolah. Lebih rajin menghakimi perempuan daripada membantu mereka memperoleh pendidikan yang layak.

Padahal agama turun bukan untuk menambah kebencian manusia, melainkan untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.

Di titik inilah dakwah kemanusiaan menemukan relevansinya.

Sebab dakwah tidak selalu harus berdiri di atas mimbar yang tinggi dengan suara menggelegar. Kadang ia hadir dalam bentuk yang sangat sederhana: tangan yang mengusap kepala anak yatim, perempuan yang mengajar membaca Al-Qur’an di kampung terpencil, relawan yang menyeka air mata korban bencana, atau ibu-ibu yang tetap memasak untuk pengajian meski hidup mereka sendiri serba kekurangan.

Dan sejarah panjang ‘Aisyiyah telah menunjukkan itu.

Dari rahim organisasi ini lahir ribuan perempuan tangguh yang tidak hanya pandai berbicara tentang surga, tetapi juga bekerja agar dunia terasa lebih layak dihuni. Mereka memahami bahwa ibadah tidak berhenti di sajadah. Ia harus menjelma menjadi sekolah, rumah sakit, santunan sosial, pemberdayaan ekonomi, dan keberpihakan kepada kaum lemah.

Tentu, sebagaimana manusia dan organisasi lainnya, ‘Aisyiyah bukan kumpulan malaikat tanpa cela. Di usia yang ke-109 ini, masih ada kekurangan di sana-sini. Masih ada pekerjaan rumah yang belum selesai. Masih ada tantangan kaderisasi, dinamika internal, bahkan kadang terselip ego-ego kecil yang tumbuh di antara semangat besar.

Namun bukankah pohon yang terus berbuah memang tak pernah luput dari ranting yang patah?

Yang terpenting bukanlah menjadi sempurna, melainkan tetap setia berjalan di jalan pengabdian.

Dan di tengah arus zaman yang sering menjadikan perempuan hanya sebagai komoditas industri hiburan dan etalase kecantikan, ‘Aisyiyah terus berusaha mengingatkan bahwa perempuan adalah tiang peradaban. Bahwa rahim seorang ibu tidak hanya melahirkan anak, tetapi juga masa depan bangsa.

Mungkin karena itu gerakan ini mampu melampaui batas geografis Indonesia.
Ia tumbuh dari kampung-kampung sederhana, tetapi gaungnya terdengar hingga dunia internasional. Sebab bahasa kemanusiaan selalu lebih mudah dipahami dibanding bahasa kebencian.

Perdamaian memang tidak lahir dari pidato-pidato besar semata.
Ia lahir dari hati yang bersedia memahami. Dari tangan yang ringan membantu. Dari lisan yang memilih meneduhkan dibanding melukai.

Dan perempuan-perempuan ‘Aisyiyah tampaknya memahami benar satu hal penting itu:
bahwa dunia tidak sedang kekurangan orang pintar, dunia sedang kekurangan orang yang tulus.

Maka Milad 109 ini semestinya bukan hanya seremoni tahunan. Ia adalah momentum muhasabah bersama. Tentang sejauh mana dakwah telah menghadirkan kasih sayang, bukan sekadar keributan. Tentang sejauh mana agama menjadi pelukan bagi yang lemah, bukan cambuk bagi yang berbeda.

Karena pada akhirnya, peradaban tidak akan dikenang dari seberapa keras ia berteriak, tetapi dari seberapa dalam ia memuliakan manusia.

Dan selama masih ada perempuan-perempuan yang dengan ikhlas menyalakan cahaya di tengah gelap zaman, harapan itu belum benar-benar padam.
Wallahu a’ lam bishshawab

Bagikan

Baca juga

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Trending

Scroll to Top