UMJT: Transformasi Identitas dan Metafora “Milik Allah” dalam Pengembangan SDM

Refleksi teologis di balik transformasi UMJT

Lahirnya Universitas Muhammadiyah Jawa Timur (UMJT) merupakan momentum reflektif bagi seluruh elemen di dalamnya. Sebuah nama besar tidak pernah lahir dari kebetulan, melainkan akumulasi dari langkah-langkah kecil yang dilakukan dengan konsistensi tinggi. Dalam pengembangan SDM, kita memahami bahwa sebuah institusi besar mustahil terwujud jika dinamikanya hanya berhenti pada keinginan untuk terlihat besar tanpa diiringi transformasi kompetensi yang nyata. Setiap perubahan nama membawa konsekuensi pada perubahan tanggung jawab. Menjaga marwah UMJT berarti memastikan seluruh lini bergerak dalam satu frekuensi profesionalisme. Di sinilah metafora “Kampus ini Milik Allah” menjadi ruh utama. Kesadaran bahwa institusi ini adalah amanah ilahiyah mengharuskan kita meninggalkan pola-pola kerja statis. Tidak ada ruang bagi inkompetensi yang hanya “duduk manis”, sebab dalam sebuah ekosistem pendidikan, kemandekan di satu lini akan berdampak signifikan pada lini lainnya.

Visi UMJT menjadi ikon kampus terkemuka di Jawa Timur menuntut perjuangan kolektif di semua lini. Jika ada satu elemen yang tidak bergerak atau berjalan di luar mekanisme yang berlaku, maka kemajuan yang diimpikan hanya akan menjadi fatamorgana—terlihat indah dari jauh, namun kosong saat didekati. Transformasi ini membutuhkan SDM yang tidak hanya cakap secara administratif, tapi juga memiliki integritas Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) yang substantif. Sebagai pendidik di bidang Pengembangan SDM Penyelenggara Kesejahteraan Sosial, Mochtar menekankan pentingnya interaksi lapangan:

“Ilmu Kesejahteraan Sosial bukan duduk manis, harus sering turun lapangan. Sering ngopi, observasi dan banyakin mendengar, ketemu masyarakat biar gak tumpul ‘peka’ & ’empati’. 2 tool dasar yang membuka kotak Pandora kesejahteraan. Berbeda ya dengan keilmuan saintek dan kesehatan yang giatnya di laborat.”

Esensi “Peka dan Empati” ini harus ditarik ke dalam tata kelola internal. Profesionalisme adalah bentuk nyata dari empati terhadap masa depan institusi. Setiap prosedur yang kita jalankan dan setiap keputusan yang diambil harus didasarkan pada mekanisme yang kuat, bukan sekadar respons terhadap situasi genting atau perintah sesaat. Jadikan UMJT sebagai ladang amal yang dikelola dengan standar terbaik. Besar kecilnya langkah hari ini akan menentukan apakah UMJT akan benar-benar menjadi ikon keunggulan atau sekadar pergantian nama tanpa makna. Sebab pada akhirnya, semua yang kita kerjakan adalah bagian dari pengabdian, karena sejatinya, semua ini adalah milik Allah.

Oleh: M. Mochtar Mas’od, S.Sos.I., M.PSDM
Dosen S1 Ilmu Kesejahteraan Sosial
Kepakaran: Pengembangan Sumber Daya Manusia Kesejahteraan Sosial

Bagikan

Baca juga

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Trending

Scroll to Top