Oleh:
Aliffatullah Alyu RAJ, S.Psi., M.Psi.*
Sejauh ini media banyak berfokus pada anak sebagai korban pada kasus kekerasan di Daycare Little Aresha yang berlokasi di Umbulharjo kota Jogyakarta. Padahal dalam hal ini orang tua korban juga “terluka” hanya saja tidak terlihat secara fisik.
Hal ini sangat penting untuk dibahas karena jika dilihat dari sisi “psikologis orang tua” dari kejadian ini orang tua mengalami secondary trauma: syok, rasa bersalah, mimpi buruk setiap kali membayangkan anaknya diikat, orang tua menyalahkan diri sendiri, orang tua mengalami trust issue ekstrem: menjadi parno ke semua daycare.
Secondary Traumatic Stress adalah tekanan emosional dan perilaku yang timbul akibat paparan tidak langsung terhadap trauma orang lain, seperti mendengar cerita traumatis atau melihat dampak traumanya. Gejalanya mirip PTSD (kecemasan, mimpi buruk, menarik diri) meskipun tidak mengalaminya langsung.
Dalam kasus ini, bukan orang tua yang dianiaya tapi orang tua ikut merasakan sakitnya. Gejalanya: orang tua menjadi sering flashback: kebayang terus menerus CCTV/ rekonstruksi anaknya saat diikat, orang tua mengalami Mom/Dad Guilt ekstrem: menyalahkan diri sendiri seperti merasa menjadi ibu yang gagal, orang tua mengalami Hypervigilance: menjadi lebih overprotektif tidak berani meninggalkan anak walaupun hanya sesaat, orang tua mengalami mimpi buruk & insomnia: setiap ingin memejamkan mata teringat atau kebayang anak menangis.
Jumlah korban yang telah di konfirmasi pada kasus kekerasan di daycare Little Aresha berjumlah 53 anak yang artinya ada lebih dari 100 orang tua yang merasa syok dan ini bisa menjadi trauma kolektif. Hal ini berbeda dengan perasaan sedih biasa, ini trauma yang jelas butuh penanganan lebih lanjut.
Jika hal ini tidak segera ditangani maka akan berdampak pada pola asuh yang jadi rusak: orang tua menjadi anxious parenting yang akan mengakibatkan anak tidak mandiri, rumah tangga menjadi retak karena suami-istri saling menyalahkan, dan tentunya akan membentuk generasi trauma baru artinya kalau orang tua tidak mampu pulih akibat trauma ini maka anak yang sudah trauma melihat orang tuanya demikian anak akan semakin merasa hancur (double trauma).
Oleh karena itu, solusi yang bisa diberikan antara lain: pemkot wajib menyediakan layanan konseling gratis khusus orang tua korban, membuat support group agar orang tua penyintas Little Aresha tidak merasa sendiri, memberikan edukasi ke publik bahwasannya stop untuk menyalahkan orang tua (victim blaming), dan tentunya harus melibatkan Psikolog DP3AP2 untuk pendampingan hukum & psikologis.
*Penulis adalah Dosen Prodi Psikologi Universitas Muhammadiyah Madiun (UMMAD)





