BAD Mahasiswa UMMAD 2026 Hadirkan Materi Bahasan Mengenal Profil Kader dan Nilai Perjuangan Tokoh Muhammadiyah

Generasi penerus perjuangan Muhammadiyah harus menyontoh perjuangan tokoh Muhammadiyah pendahulu seperti pendiri Muhammadiyah, KH.Ahmad Dahlan serta Jenderal Sudirman.

Hal tersebut disampaikan Direktur Al Islam dan Kemuhammadiyahan Universitas Muhammadiyah Madiun (UMMAD), Drs. Suyono, M.Pd saat mengisi materi Baitul Arqam Dasar (BAD) mahasiswa UMMAD di SMK Muhammadiyah 3 Dolopo, Kabupaten Madiun, Sabtu, 2 Mei 2026.

Tema yang dihadirkan Suyono pada sesi ketiga pemberian materi BAD mahasiswa UMMAD tersebut adalah Profil Kader dan Nilai Perjuangan Tokoh Muhammadiyah.

“Contoh dari pendahulu Itu jadi tolok ukur kita bersama dalam mengembangkan Muhammadiyah ditengah tantangan jaman luar biasa,” ujar Suyono yang juga Sekretaris PDM Kota Madiun.

Tantangan itu salah satunya menurut Suyono berupa mendegradasi akidah Muhammadiyah yang secara sengaja dimunculkan sehingga hal ini perlu diwaspadai kader Muhammadiyah.

KaderSuyono menerangkan, secara tekstual, kader adalah anggota persyarikatan yang sudah mendapatkan pembinaan secara khusus tentang ideologi sehingga memiliki loyalitas terhadap organisasi persyarikatan.

“Kalau mahasiswa sudah mengikuti kuliah AIK 1-4 sudah luar biasa lengkap. sebagai bahan dasar pengkaderan sudah cukup tinggal prakteknya mengikuti proses pengkaderan yang ada,” ujar Suyono.

Lalu hal apa yang dapat menggerakkan perjuangan Muhammadiyah? Suyono menjelaskan dasar perjuangan dalam Muhammadiyah adalah QS.Ali Imran ayat 104.

Waltakun minkum ummatuy yad‘ūna ilal-khairi wa ya’murūna bil-ma‘rūfi wa yanhauna ‘anil-munkar, wa ulā’ika humul-mufliḥūn. `

“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung,”.

“Ayat ini dikenal dengan ayat Muhammadiyah. Pergerakan Muhammadiyah bersumber dari QS.Ali Imran Ayat 104,” ujar Suyono.

KH Ahmad DahlanTokoh Muhammadiyah pertama yang diperkenalkan Suyono adalah KH.Ahmad Dahlan sebagai pendiri Muhammadiyah pada tahun 1902.

“Beliau disebut juga tokoh tajdid, purifikasi, pemurnian aqidah ketika ajaran Islam sudah terkontaminasi adat Kejawen. Di kala itu memang satu sisi ingin memberantas tahayul, bid’ah dan churafat (TBC) di sisi lain mengembangkan,” kata Suyono.

Disampaikan Suyono, warisan yang harus diingat dan dipraktekkan dari KH.Ahmad Dahlan adalah disamping mendirikan organisasi juga menanamkan nilai-nilai fundamental yang menjadi pondasi gerakan Muhammadiyah yaitu tekun, disiplin, adil, jujur, dan berintegritas.

“Jadi mahasiswa ataupun jadi santri disamping harus cerdas juga paham agama. Karena itu yang diharapkan, kolaborasi ilmu dan agama sebab ada upaya sekulerisme agama dan pengetahuan. Jadi kalau kita belajar agama akan menghambat ilmu pengetahuan, itu pandangan sekuler, padahal itu saling menguatkan no antara ilmu pengetahuan dan agama,” jelas Suyono.(*)

Bagikan

Baca juga

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Trending

Scroll to Top