Belajar Lagi di Usia Produktif: Bukan Kemunduran, Ini Perlawanan

Ketika Lebih Dari Separuh Ketrampilan Kerja Diprediksi Usang Dalam Lima Tahun, Kembali ke Bangku kuliah Bukan Tanda Gagal, Melainkan Tanda Sadar

Oleh: Endy Setyawan | Madiun, 29 Syawal 1446 H / 17 April 2026

Saya masih ingat sore itu, saya duduk di barisan tengah sebuah ruang kelas yang dindingnya berwarna putih pucat. Di kiri saya, teman saya yang tangannya sedang bergerak cepat di keyboard. Di kanan, seseorang seusia anak saya mencatat dengan antusias. Sementara saya, dengan segala Lelah sepulang dari kerja, masih menggenggam tumbler berisi kopi yang sudah dingin, mencoba meyakinkan diri: ini nyata. Saya kembali menjadi mahasiswa. Mahasiswa kelas sore di Universitas Muhammadiyah Madiun. Pertanyaan yang paling sering muncul sejak keputusan itu sederhana, tapi menusuk: “Untuk apa kuliah lagi?”Saya tidak langsung punya jawaban. Tapi data punya.

Separuh Ilmu Anda Mungkin Sudah Kadaluarsa

World Economic Forum dalam laporan Future of Jobs 2023 menyebut bahwa 44 persen keterampilan inti tenaga kerja global akan terganggu dalam lima tahun ke depan (Kemenaker, 2025). McKinsey Global Institute memperkirakan lebih dari sekitar 800 juta pekerja di seluruh dunia yang diperkirakan akan terdampak otomasi pada 2030, tergantung skenario adopsi teknologi (Dewi, 2017). Di Indonesia, laporan Bank Dunia mengingatkan bahwa transformasi digital menuntut tenaga kerja yang tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga adaptif secara intelektual (Posadas et al., 2020).

Saya merasakannya sendiri. Sore kemarin, saya membuka kembali sebuah artikel yang saya tulis tiga tahun lalu, tulisan yang waktu itu saya anggap tajam dan komprehensif. Kini terasa seperti naskah dari era yang berbeda. Bukan karena saya salah waktu itu, tapi karena lanskap sudah bergerak, sementara saya berdiri di titik yang sama.

Ketika Pengalaman Menjadi Jebakan

Selama bertahun-tahun, saya percaya pengalaman adalah aset paling berharga. Dunia kerja memang mengajarkan hal-hal yang tidak ada di buku teks: cara membaca ruangan, cara bertahan di tekanan, cara mengambil keputusan ketika data tidak lengkap. Saya pernah yakin, bangku kuliah adalah fase yang sudah selesai. Ditutup rapi, disimpan sebagai kenangan.

Namun ada paradoks yang jarang dibicarakan: pengalaman yang tidak diperbarui bisa menjadi beban. Ia membuat kita merasa sudah tahu, padahal yang kita tahu hanyalah bagaimana dunia bekerja kemarin. Psikolog Carol Dweck menyebutnya sebagai perangkap fixed mindset, keyakinan bahwa kemampuan adalah sesuatu yang sudah jadi, bukan sesuatu yang terus dibentuk (Muhtar, 2025). Saya hampir terjebak di sana.

Kembali Belajar Butuh Keberanian, Bukan Sekadar Niat

Keputusan untuk kuliah lagi tidak datang dengan mudah. Ada rasa canggung yang nyata: harus mengangkat tangan untuk bertanya hal yang mungkin sudah diketahui semua orang di kelas. Ada malam-malam dengan tugas yang membuat saya bertanya-tanya apakah ini keputusan tepat. Dan ada suara kecil yang berbisik, kamu sudah terlalu tua untuk ini.

Puncaknya, dalam satu sesi diskusi, seorang teman sekelas, 22 tahun, dengan santai mengoreksi pemahaman saya tentang sebuah konsep yang selama bertahun-tahun saya gunakan secara keliru. Dia tidak menggurui. Dia bahkan tidak sadar sedang meluruskan seseorang yang dua kali usianya. Saya tertawa kecil. Dalam hati, ada yang runtuh, tapi anehnya, terasa lega.Itulah yang sering luput dari diskusi tentang belajar di usia dewasa: bahwa hambatan terbesar bukan waktu, bukan biaya, bukan jadwal yang padat, melainkan ego. Mengakui bahwa kita belum tahu, di hadapan orang-orang yang lebih muda, adalah latihan kerendahan hati yang tidak diajarkan di tempat kerja mana pun.

Ketika ‘Gelar Sudah Cukup’ Menjadi Dogma Berbahaya

Ada masalah struktural yang lebih besar di balik ini semua. Kita hidup dalam budaya yang memperlakukan pendidikan sebagai tiket masuk sekali pakai: sekolah, kuliah, kerja, selesai. Lifelong learning masih sebatas slogan dalam dokumen kebijakan SDM, jarang menjadi praktik nyata di organisasi. Survei LinkedIn Learning 2023 menemukan bahwa 94 persen karyawan bersedia bertahan lebih lama di perusahaan yang berinvestasi pada pengembangan mereka, tapi kenyataannya, sebagian besar perusahaan di Indonesia masih menganggap pelatihan sebagai pengeluaran, bukan investasi (Farhansyah & Jessica, 2026; Hansen, 2025).

Yang lebih memprihatinkan: stigma terhadap orang dewasa yang kembali belajar masih kuat. Kembali kuliah di usia 30-an atau 40-an masih sering dibaca sebagai tanda kegagalan karier, bukan sebagai pilihan strategis. Padahal justru sebaliknya, orang yang kembali belajar dengan kesadaran penuh membawa sesuatu yang mahasiswa muda belum miliki: konteks. Pengalaman yang membuat teori terasa hidup, bukan sekadar hafalan.

Belum Selesai, dan Itu Bukan Kelemahan

Hari ini, ketika saya duduk di kelas, kadang dengan mata mengantuk, kadang dengan pertanyaan yang belum berani saya ajukan, saya tidak lagi mempertanyakan keputusan itu. Kebingungan yang jujur terasa lebih produktif daripada kepastian yang semu.Berhenti belajar bukan tanda bahwa kita sudah tahu segalanya. Itu tanda bahwa kita sudah memilih kenyamanan di atas kejujuran.

Di tengah perubahan yang tidak akan berhenti menunggu, pertanyaannya bukan lagi apakah kita perlu terus belajar. Pertanyaannya adalah: apa yang kita takutkan untuk tidak tahu?Jadi, kenapa saya kuliah lagi?

Karena berhenti belajar adalah kemewahan yang tidak lagi bisa kita tanggung.

Daftar Pustaka:

Dewi, C. (2017, November 30). Robot Akan Gantikan 800 Juta Pekerja di Dunia pada 2030. https://www.liputan6.com/global/read/3180835/robot-akan-gantikan-800-juta-pekerja-di-dunia-pada-2030Farhansyah, J., & Jessica, L. (2026, January 9).

Bagaimana Mengelola Biaya Pelatihan Karyawan yang Efektif? https://www.talenta.co/blog/biaya-pelatihan-karyawan/Hansen, D. (2025, January 10).

Building a Culture of Continuous Learning: The Key to Employee Retention. https://www.td.org/content/atd-blog/building-a-culture-of-continuous-learning-the-key-to-employee-retentionKemenaker, B. H. (2025, June 18).

Menaker Dorong Transformasi Ketenagakerjaan yang Berpusat pada Manusia di Tengah Disrupsi Digital : Berita : Kementerian Ketenagakerjaan RI. https://kemnaker.go.id/news/detail/menaker-dorong-transformasi-ketenagakerjaan-yang-berpusat-pada-manusia-di-tengah-disrupsi-digitalMuhtar, M. (2025, June 30).

GROWTH MINDSET DAN FIXED MINDSET DALAM MENGHADAPI TANTANGAN. https://www.djkn.kemenkeu.go.id/kpknl-makassar/baca-artikel/17713/GROWTH-MINDSET-DAN-FIXED-MINDSET-DALAM-MENGHADAPI-TANTANGAN.htmlPosadas, J., World Bank, & Kemetrian bappenas. (2020). Tugas dan Keterampilan Pekerjaan Indonesia.

Bagikan

Baca juga

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Trending

Scroll to Top