Herman Lawelai: Dari Pelosok Desa Menuju Gelar Doktor

Suasana khidmat Wisuda Periode III Tahun Akademik 2025/2026 Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (9/4) semakin sarat emosi ketika nama Herman Lawelai disebut sebagai salah satu lulusan Program Doktor Ilmu Pemerintahan. Di balik toga yang dikenakannya, tersimpan perjalanan panjang penuh perjuangan dari seorang anak petani di pedalaman hingga menjadi akademisi berkelas internasional.
Lahir pada 2 November 1992 di Desa Leppangeng Kabupaten Sidenreng Rappang, Herman tumbuh dalam keterbatasan ekonomi.

Akses menuju kampung halamannya tidak mudah dengan jarak sekitar 200 kilometer dari Makassar dan waktu tempuh hingga lima jam. Keterbatasan tersebut tidak pernah memadamkan tekadnya untuk menempuh pendidikan setinggi mungkin.
Perjalanan akademiknya dimulai dari sekolah dasar di daerah hingga melanjutkan studi sarjana di Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang. Semangat belajar yang kuat membawanya meraih gelar magister dan doktor di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Pada 22 Oktober 2025 ia resmi menyelesaikan disertasinya yang berjudul Analisis Pengembangan Kelembagaan dan Efektivitas Teknologi Cybersecurity pada Makassar Smart City.


Keberhasilan tersebut tidak datang secara instan. Selama menempuh studi doktoral, Herman menunjukkan produktivitas akademik yang luar biasa. Ia berhasil menghasilkan berbagai artikel ilmiah bereputasi internasional yang terindeks Scopus dengan capaian jurnal Q1 hingga Q3 . Penelitiannya mencakup isu strategis seperti keamanan siber, tata kelola smart city, transformasi digital, dan kebijakan publik.


Selain itu, ia juga mencatatkan puluhan publikasi nasional bereputasi yang terindeks SINTA . Konsistensi tersebut menunjukkan dedikasi tinggi dalam pengembangan ilmu pemerintahan sekaligus memperkuat posisinya sebagai akademisi produktif di usia muda.
Saat ini Herman Lawelai mengemban amanah sebagai Lektor Kepala pada Program Studi Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Buton. Ia juga aktif sebagai Editor in Chief Jurnal Studi Ilmu Pemerintahan UM Buton, editor tamu di berbagai jurnal, serta reviewer pada sejumlah jurnal internasional bereputasi yang diterbitkan oleh Elsevier, Emerald, Sage, dan penerbit bereputasi lainnya.
Momen wisuda ini menjadi semakin emosional ketika Herman menyampaikan rasa syukur dan penghormatan yang mendalam kepada keluarga tercintanya. Dengan penuh haru ia menegaskan bahwa gelar doktor ini dipersembahkan untuk kedua orang tuanya Lawelai dan Sanawia, yang telah berjuang tanpa lelah, serta untuk istri dan kedua anaknya yang selalu menjadi sumber kekuatan, doa, dan semangat dalam setiap langkah perjuangannya.
Kisah hidupnya menjadi bukti nyata bahwa latar belakang bukanlah batasan. Dari keluarga petani sederhana di pelosok desa, Herman mampu menembus panggung akademik global. Ketekunan, disiplin, dan komitmen terhadap ilmu pengetahuan telah mengantarkannya pada pencapaian yang membanggakan.


Wisuda ini bukan sekadar seremoni akademik, tetapi juga simbol kemenangan atas keterbatasan. Sosok Herman Lawelai menghadirkan harapan bagi generasi muda Indonesia terutama mereka yang berasal dari daerah terpencil bahwa mimpi besar dapat diraih melalui kerja keras dan keteguhan hati.
Di tengah tepuk tangan para wisudawan, kisah Herman menjadi pengingat kuat bahwa pendidikan adalah jalan perubahan dan setiap langkah kecil dari desa dapat mengarah pada panggung dunia.

Bagikan

Baca juga

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Trending

Scroll to Top