Bencana Ilmu dan Perbedaan antara Ulama Su’ dan Ulama Akhirat

Ust. Dr.Suwardi Rosyid, M.Pd.I

Pendahuluan
Segala puji bagi Allah yang telah mengangkat derajat orang-orang beriman dan berilmu.
Allah Ta’ala berfirman:
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”
(QS. Al-Mujadilah: 11)
Ilmu merupakan cahaya yang membimbing manusia menuju ridha Allah. Namun, ilmu juga dapat menjadi sebab kebinasaan apabila digunakan untuk tujuan duniawi semata.
Karena itu para ulama membagi manusia berilmu menjadi dua golongan:
Ulama Akhirat
Ulama Su’ (ulama buruk)
Kajian ini akan membahas bahaya ilmu yang tidak diamalkan serta ciri-ciri ulama yang mencari dunia dengan ilmunya.

I. Bahaya Orang Berilmu yang Tidak Ikhlas
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata:
“Punggungku terbelah gara-gara dua orang, yaitu orang berilmu yang terbuka aibnya dan orang bodoh yang menjadi ahli ibadah.”
Penjelasan
Kedua golongan ini sangat berbahaya:

  1. Orang berilmu yang rusak akhlaknya
    Masyarakat akan mencontohnya.
    Ketika ia menyimpang, banyak orang ikut tersesat.
  2. Orang bodoh yang rajin beribadah
    Semangat ibadahnya tinggi namun tidak dibimbing ilmu.
    Akibatnya ia mudah terjatuh dalam bid’ah dan kesesatan.

II. Siapakah Ulama Su’?
Definisi
Ulama Su’ adalah orang yang memiliki ilmu agama tetapi menjadikan ilmunya sebagai alat untuk:
Mencari kedudukan
Mencari popularitas
Mencari harta
Mencari pujian manusia
Mereka menjual agama demi kepentingan dunia.
Allah berfirman:
“Janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit.”
(QS. Al-Baqarah: 41)

III. Ancaman Bagi Penuntut Ilmu yang Mencari Dunia
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barangsiapa mempelajari suatu ilmu yang semestinya untuk mencari wajah Allah, namun ia mempelajarinya hanya untuk mendapatkan dunia, maka ia tidak akan mencium bau surga pada Hari Kiamat.”
(HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad dan Ibnu Hibban)

Pelajaran Hadis
Ilmu syar’i harus diniatkan untuk:
Menghilangkan kebodohan
Mengamalkan syariat
Mengajarkan kebenaran
Mendekatkan diri kepada Allah
Bukan untuk:
Jabatan
Popularitas
Kekayaan
Kekaguman manusia
Renungan
Banyak orang belajar agama bertahun-tahun.
Namun yang menentukan nilainya bukan lamanya belajar, tetapi niatnya.

IV. Ancaman bagi Orang yang Berdebat dan Pamer Ilmu
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barangsiapa mempelajari ilmu untuk membanggakan diri di hadapan para ulama, atau mendebat orang-orang bodoh, atau agar manusia memandang dirinya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam neraka.”
(HR. At-Tirmidzi)
Tiga Penyakit Penuntut Ilmu

  1. Berbangga Diri
    Merasa paling pintar.
    Meremehkan ulama lain.
    Merasa paling benar.
    Padahal Allah berfirman:
    “Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci.”
    (QS. An-Najm: 32)
  2. Gemar Berdebat
    Tujuannya bukan mencari kebenaran.
    Tetapi ingin menang dan menjatuhkan lawan.
    Imam Malik rahimahullah berkata:
    “Perdebatan dalam agama mengeraskan hati.”
  3. Mencari Popularitas
    Senang dipuji manusia.
    Kecewa ketika tidak dihargai.
    Amalnya bergantung pada penilaian manusia.
    Ini termasuk penyakit riya’.

V. Ciri-ciri Ulama Akhirat
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa ulama akhirat memiliki karakter:

  1. Ikhlas
    Ilmunya untuk Allah.
    Bukan untuk dunia.
  2. Mengamalkan Ilmunya
    Allah membenci ilmu yang tidak diamalkan.
    Allah berfirman:
    “Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.”
    (QS. Ash-Shaff: 3)
  3. Tawadhu’
    Semakin berilmu semakin merasa kurang.
    Bukan semakin sombong.
  4. Takut kepada Allah
    Allah berfirman:
    “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.”
    (QS. Fathir: 28)

VI. Orang Berilmu Selalu Merasa Kurang
Dalam kitab disebutkan:
“Orang yang paling menyesal ketika kematian datang adalah orang berilmu yang merasa kurang ilmunya.”
Makna Ucapan Ini
Semakin luas ilmu seseorang, semakin sadar ia tentang banyaknya ilmu yang belum diketahui.
Berbeda dengan orang bodoh.
Sedikit ilmu membuatnya merasa sudah mengetahui segalanya.
Oleh sebab itu para ulama salaf selalu belajar hingga akhir hayat.

Imam Ahmad rahimahullah ketika ditanya:
“Sampai kapan seseorang mencari ilmu?”
Beliau menjawab:
“Dari buaian hingga liang lahat.”
VII. Menjaga Kesehatan untuk Menopang Ibadah
Dalam kitab juga disebutkan bahwa seorang alim tidak boleh mengabaikan kesehatan dirinya.
Tujuan menjaga kesehatan bukan untuk kemewahan.
Tetapi agar mampu:
Beribadah
Berdakwah
Mengajar
Menuntut ilmu

Atsar Sufyan Ats-Tsauri
Beliau biasa memperhatikan makanan yang baik.
Beliau berkata:
“Sesungguhnya apabila binatang melata tidak memperhatikan makanannya maka dia tidak akan bisa bekerja.”
Pelajaran
Tubuh adalah sarana ibadah.
Menjaga kesehatan termasuk bagian dari persiapan untuk beramal saleh.
Muhasabah untuk Penuntut Ilmu
Sebelum menuntut ilmu, tanyakan kepada diri kita:
✓ Apakah ilmu ini untuk Allah?
✓ Apakah saya mengamalkannya?
✓ Apakah saya senang dipuji manusia?
✓ Apakah saya marah ketika tidak dihormati?
✓ Apakah saya masih terus belajar?
✓ Apakah ilmu saya menambah rasa takut kepada Allah?
Jika jawaban-jawaban tersebut mengarah kepada keikhlasan dan ketakwaan, maka itu tanda menempuh jalan ulama akhirat.

Penutup
Ilmu adalah nikmat terbesar setelah iman. Namun ilmu dapat menjadi hujjah yang memberatkan pemiliknya apabila tidak disertai keikhlasan dan amal.
Karena itu hendaknya setiap penuntut ilmu berusaha menjadi ulama akhirat, bukan ulama dunia. Belajar untuk mencari ridha Allah, mengamalkan ilmu, berdakwah dengan hikmah, serta terus memperbaiki niat hingga akhir hayat.
Doa
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا
“Ya Allah, kami memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amal yang Engkau terima.”
Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.

Bagikan

Baca juga

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Trending

Scroll to Top