Dr. Suwardi Rosyid
Fenomena mitos sial yang menyelimuti bulan Muharram, atau yang akrab disebut bulan Suro di sebagian masyarakat Nusantara, merupakan sebuah kekeliruan budaya yang mengakar. Banyak orang merasa takut untuk mengadakan pernikahan, membangun rumah, atau memulai bisnis di bulan ini karena menganggapnya sebagai waktu yang keramat dan membawa kesialan (walat). Dalam pandangan Islam, keyakinan seperti ini disebut dengan thiyarah atau tathayyur, yaitu merasa sial karena adanya waktu, tempat, atau tanda-tanda tertentu. Perilaku ini sangat dilarang karena dapat mengikis kemurnian tauhid dan merusak ikatan akidah seorang Muslim kepada Allah SWT, Zat yang Maha Mengatur segala urusan.
Larangan Thiyarah dalam Islam
Rasulullah SAW dengan tegas melarang umatnya menggantungkan nasib pada anggapan sial. Beliau menegaskan bahwa keyakinan semacam itu tidak memiliki dasar kebenaran dan merupakan bentuk kesyirikan kecil karena menganggap ada kekuatan selain Allah yang mampu menentukan nasib. Nabi SAW bersabda:
لاَ عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ “Tidak ada penularan penyakit (dengan sendirinya) dan tidak ada thiyarah (anggapan sial).” (HR. Bukhari no. 5757 dan Muslim no. 2224).
Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW secara keras menyatakan bahwa thiyarah adalah kesyirikan karena pelakunya tidak bertawakal kepada Allah, melainkan kepada prasangka buruknya sendiri. Beliau bersabda:
الطِّيَرَةُ شِرْكٌ ، الطِّيَرَةُ شِرْكٌ “Thiyarah itu adalah kesyirikan, thiyarah itu adalah kesyirikan.” (HR. Abu Dawud no. 3910 dan Tirmidzi no. 1614).
Allah sebagai Pengatur Waktu
Islam menegaskan bahwa seluruh waktu, baik hari, bulan, maupun tahun, adalah makhluk ciptaan Allah yang bersifat netral dan tidak memiliki kekuatan mandiri untuk memberikan manfaat ataupun mudarat. Allah SWT sangat murka ketika hamba-Nya mencela waktu, karena waktu berada di bawah kendali penuh-Nya. Allah SWT berfirman dalam sebuah Hadis Qudsi:
يُؤْذِينِي ابْنُ آدَمَ يَسُبُّ الدَّهْرَ وَأَنَا الدَّهْرُ، بِيَدِي الأَمْرُ أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ “Anak Adam telah menyakiti-Ku; ia mencela waktu (masa), padahal Akulah pemilik waktu. Di tangan-Kulah segala urusan, Aku membolak-balikkan malam dan siang.” (HR. Bukhari no. 4826 dan Muslim no. 2246).
Berdasarkan hadis di atas, menyematkan sifat “sial” pada bulan Suro sama saja dengan mencela waktu yang telah diciptakan dan diatur oleh Allah SWT. Padahal, Muharram justru merupakan salah satu dari empat bulan mulia (Asyhurul Hurum) yang disucikan di dalam Al-Qur’an.
Keteraturan Kosmos adalah Tanda Kebesaran, Bukan Tanda Kesialan
Ketidaktergantungan nasib manusia pada perputaran bulan dan matahari digambarkan secara indah dalam QS. Yasin: 38-40:
وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَّهَا ۚ ذَٰلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ (38) وَالْقَمَرَ قَدَّرْنَاهُ مَنَازِلَ حَتَّىٰ عَادَ كَالْعُرْجُونِ الْقَدِيمِ (39) لَا الشَّمْسُ يَنبَغِي لَهَا أَن تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلَا اللَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ ۚ وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ (40) (38) Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan (Allah) Yang Mahaperkasa, Maha Mengetahui. (39) Dan telah Kami tetapkan tempat peredaran bagi bulan, sehingga (setelah ia sampai ke tempat peredaran yang terakhir) kembalilah ia seperti bentuk tandan yang tua. (40) Tidaklah mungkin bagi matahari mengejar bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya.
Ayat-ayat ini menjelaskan bahwa keteraturan bulan (termasuk pergantian bulan Muharram/Suro) semata-mata adalah tanda kebesaran Allah bagi manusia untuk menghitung waktu, bukan sebagai indikator sial atau beruntung. Nasib manusia ditentukan oleh amal perbuatannya sendiri dan takdir Allah, bukan oleh peredaran benda langit.
Solusi: Mengganti Mitos dengan Amal Shalih
Alih-alih menjauhi bulan Muharram dengan ketakutan, Islam justru menganjurkan kita untuk mendekat kepada Allah melalui amalan-amalan mulia. Rasulullah SAW bersabda mengenai keutamaan puasa di bulan Muharram:
أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ “Puasa yang paling utama setelah (puasa) bulan Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, yakni bulan Muharram.” (HR. Muslim no. 1163).
Dengan kembali kepada tauhid yang murni, kita meyakini bahwa setiap hari dan bulan adalah waktu yang baik untuk menjemput berkah Allah SWT. Marilah kita tinggalkan mitos-mitos yang tidak berdasar dan mengisi bulan Muharram dengan ketaatan, agar hidup kita senantiasa di bawah naungan ridha Allah SWT.






