Kisah Nabi Nuh AS (Pasca Pembuatan Bahtera) berdasarkan Tafsir Ibnu Katsir (QS. Hud: 40)

Dr. Suwardi Rosyid, M.Pd.I

*​1. Konteks Ayat: Detik-Detik Sebelum Banjir Besar*

​Dalam QS. Hud: 40, Allah SWT berfirman mengenai perintah yang diberikan kepada Nabi Nuh AS ketika tanda-tanda azab (banjir besar) sudah mulai muncul, salah satunya adalah memancarnya air dari tannur (oven/tempat pembakaran roti).

​”Hingga apabila perintah Kami datang dan dapur (tannur) telah memancarkan air, Kami berfirman: ‘Muatkanlah ke dalam air (kapal) itu dari masing-masing hewan sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman.’ Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit.”

*​2. Jumlah Penumpang Kapal Nabi Nuh AS*

​Berdasarkan pemaparan yang merujuk pada penjelasan dalam Tafsir Ibnu Katsir, terdapat riwayat yang merinci jumlah manusia yang ikut naik ke atas kapal:

*​Total Pengikut: Sebanyak 80 orang.*

*​Komposisi:* Terdiri dari 40 laki-laki dan 40 perempuan.

​Mereka adalah orang-orang mukmin yang tetap teguh memegang tauhid dan setia mendampingi dakwah Nabi Nuh AS selama ratusan tahun, di tengah maraknya ejekan dan boikot dari kaum yang kafir.

*​3. Tiga (3) Golongan Manusia pada Masa Nabi Nuh AS*

​Secara garis besar, dinamika umat Nabi Nuh AS menjelang dan saat terjadinya banjir bandang terbagi menjadi 3 golongan utama:

*​Golongan 1:* Orang-Orang Mukmin yang Selamat (Penumpang Kapal)

​Adalah golongan kecil yang mendapat rahmat Allah SWT. Mereka patuh untuk masuk ke dalam bahtera begitu tanda azab tiba.

*​Karakteristik:* Memiliki keimanan yang kokoh, sabar menghadapi intimidasi, dan taat tanpa ragu pada perintah syariat (membuat dan naik kapal meski di area yang jauh dari laut).

​Termasuk di dalamnya: Nabi Nuh AS dan para pengikutnya yang berjumlah 80 orang tadi.

*Golongan 2:* Kaum Kafir yang Menentang dan Tenggelam

​Golongan mayoritas yang menutup telinga dan hati mereka dari dakwah tauhid selama 950 tahun.

*​Karakteristik:* Sombong, rasionalis yang keliru (mengira bisa selamat hanya dengan memanjat gunung), dan suka mengejek usaha Nabi Nuh AS saat membangun kapal (“Wahai Nuh, sekarang kamu jadi tukang kayu setelah jadi Nabi?”).

​Nasib: Semuanya binasa tenggelam oleh banjir besar yang airnya memancar dari bumi dan tumpah dari langit.

*​Golongan 3:* Keluarga Nabi Nuh yang Pengkhianat (Kafir di Dalam Rumah)

​Golongan yang secara hubungan darah sangat dekat dengan Nabi, namun memilih berkhianat secara akidah. Sifat mereka menjadi ujian berat sekaligus pelajaran bahwa hidayah adalah hak prerogatif Allah SWT.

​Istri Nabi Nuh (Wali’ah): Membocorkan rahasia dakwah Nabi Nuh kepada kaumnya dan menghasut orang-orang dengan menyebut suaminya gila.

​Anak Nabi Nuh (Kan’an): Ketika diajak naik ke kapal saat air mulai meninggi, ia menolak dan berkata akan berlindung ke puncak gunung. Kan’an akhirnya tergulung ombak dan tenggelam di depan mata ayahnya sendiri.

*​Pelajaran Penting (Ibrah) dari Kajian:*

​Hubungan Darah Tidak Menjamin

*Keselamatan Akidah:* Kasus Kan’an dan Istri Nabi Nuh membuktikan bahwa kedekatan fisik/nasab dengan seorang Nabi tidak berguna jika tidak disertai iman.

*​Kepatuhan Total pada Perintah Allah:* Kapal Nabi Nuh adalah simbol syariat. Siapa yang naik (ikut syariat) akan selamat, siapa yang tertinggal (memakai logika sendiri seperti Kan’an) akan binasa

Bagikan

Baca juga

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Trending

Scroll to Top