Kisah Nabi Nuh AS Setelah Pembuatan Kapal berdasarkan Tafsir Ibnu Katsir

Dr. Suwardi Rosyid, M.Pd.I

*​1. Perintah Berlayar & Tafsir Surat Hud Ayat 41*

​Setelah kapal (bahtera) selesai dibuat atas perintah Allah dan seluruh muatan termasuk pasangan hewan serta orang-orang beriman telah naik, Nabi Nuh AS memerintahkan mereka untuk mulai berlayar dengan menyebut nama Allah.

​Allah SWT berfirman dalam Surat Hud ayat 41:

​وَقَالَ ارْكَبُوا فِيهَا بِسْمِ اللَّهِ مَجْرَاهَا وَمُرْسَاهَا ۚ إِنَّ رَبِّي لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

​Artinya: Dan dia (Nuh) berkata, “Naiklah kamu semua ke dalamnya (kapal) dengan (menyebut) nama Allah pada waktu berlayar dan berlabuhnya.” Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun, Maha Penyayang.

*Catatan Tafsir Ibnu Katsir:*

​Bismillah sebagai Pelindung: Nabi Nuh AS mengajarkan bahwa segala gerak (berlayar) dan diamnya (berlabuh) kapal tersebut mutlak berada di bawah perlindungan, berkah, dan kekuasaan Allah SWT.

​Kondisi Sifat Allah: Di tengah kedahsyatan banjir bandang yang membinasakan orang-orang kafir, Allah menutup ayat ini dengan Laghofurur Rohim (Maha Pengampun lagi Maha Penyayang) sebagai jaminan rahmat bagi hamba-hamba-Nya yang beriman di dalam kapal.

*​2. Cara Membaca (Qiraah) Lafadz “Majreha”*

​Dalam ilmu tajwid dan qiraah sab’ah, lafadz مَجْرَاهَا (majraahaa) memiliki kekhasan cara baca tergantung imam riwayat yang diikuti:

“​A. Riwayat Imam Hafs ‘an ‘Asim (Qiraah yang Umum di Indonesia)*

*​Hukum:* Diwajibkan membaca dengan hukum Imalah Kubra (menyondongkan bunyi fathah ke arah kasrah, atau bunyi ‘A’ ke arah ‘E’ seperti menyebut kata “sate” atau “besok”).

*​Cara Baca:* Lafadz tersebut dibaca “Majreeha” (bukan majraaha). Ini adalah satu-satunya ayat dalam Al-Qur’an mushaf Utsmani riwayat Hafs yang dibaca Imalah.

*​B. Riwayat Imam Abu ‘Amr (Jalur Abu Nashr / Al-Inthiqi)*

​Dalam beberapa jalur qiraah, termasuk bagaimana para perawi seperti Abu Nashr meriwayatkan dari thariq tertentu atau imam qiraah lainnya (seperti Abu ‘Amr atau Hamzah), terdapat variasi pembacaan:

​Ada yang membaca dengan Taqlil / Imalah Sughra (bunyi antara fathah dan imalah kubra).

​Ada yang tetap membaca Fathah secara murni (Tafkhim) yaitu “Majraaha” berdasarkan dialek Arab tertentu.

*​Catatan:* Ketelitian dalam melafazkan ini menunjukkan betapa terjaganya kemurnian Al-Qur’an lewat jalur periwatan ucapan (syafahi).

*​3. Adab & Doa* Naik Kendaraan (Surat Al-Mu’minun Ayat 28)

​Ust. Mujahid Sidik juga menekankan adab ketika kapal akan mulai berlayar atau saat kita menaiki kendaraan. Selain doa naik kendaraan yang biasa kita baca, Nabi Nuh AS diajarkan oleh Allah untuk mengucapkan puji syukur sebagaimana termaktub dalam Surat Al-Mu’minun ayat 28:

​فَإِذَا اسْتَوَيْتَ أَنْتَ وَمَنْ مَعَكَ عَلَى الْفُلْكِ فَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي نَجَّانَا مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

​Artinya: “Apabila engkau dan orang-orang yang bersamamu telah berada di atas kapal, maka ucapkanlah, ‘Alhamdulillahil-ladzi najjana minal-qoumizh-zhalimin’ (Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan kami dari orang-orang yang zalim).”

*​Hikmah Amalan:*

​Syukur atas Keselamatan: Doa ini adalah bentuk pengakuan bahwa selamatnya kita dari musibah, bencana, atau bahaya di perjalanan murni karena pertolongan Allah, bukan karena hebatnya kendaraan yang kita naiki.

*​Konteks Modern:* Doa ini sangat baik diamalkan bukan hanya saat naik kapal laut, tetapi juga saat kita menaiki kendaraan modern (mobil, pesawat, kereta) agar senantiasa dilindungi dari marabahaya dan orang-orang yang berniat jahat selama perjalanan.

*​Kesimpulan Kajian:*

Kisah kapal Nabi Nuh AS mengajarkan kita totalitas tawakal. Saat ujian dunia datang menerjang bak ombak yang menggulung, “kapal” penyelamat kita adalah keimanan, syariat, dan dzikir (menyebut nama Allah) di setiap awal dan akhir urusan kita.

Bagikan

Baca juga

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Trending

Scroll to Top