Madiun – Pimpinan Ranting Muhammadiyah Mojorejo Kota Madiun menggelar silaturahmi dan anjangsana yang diisi tausiyah tentang sejarah dan perkembangan Muhammadiyah, Selasa (19/5/2026) malam.Acara yang berlangsung mulai pukul 19.30 WIB tersebut menghadirkan Dr. Suwardi Rosyid, M.PdI., sebagai pembicara utama. Tausiyah bertajuk “Mengenal Muhammadiyah sebagai Gerakan Islam Berkemajuan dan Tradisi Literasi” ini langsung menjawab berbagai fitnah yang beredar bahwa Muhammadiyah adalah organisasi yang tidak jelas.
Dalam paparannya, Dr. Suwardi Rosyid menjelaskan latar belakang pendirian Muhammadiyah oleh K.H. Ahmad Dahlan (Muhammad Darwis) pada 18 November 1912 di Kampung Kauman, Yogyakarta. Tujuan utama pendirian adalah pemurnian akidah (tajdid) dari praktik tahayul, bidah, dan khurafat (TBC) serta sinkretisme yang menyimpang dari ajaran Islam murni berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah.“KH Ahmad Dahlan menegaskan bahwa mempercayai mitos dan tahayul akan menghambat kemajuan umat Islam,” ujarnya
.Pembicara juga membahas tahayul modern yang masih melekat di kalangan Gen Z, seperti ketergantungan pada ramalan zodiak yang berasal dari tradisi Majusi kuno. Ia menekankan pentingnya Muhammadiyah sebagai gerakan wasathiyah (moderat) yang berada di tengah-tengah antara kelompok anti-modernisasi dan kelompok yang terlalu liberal.Salah satu karakteristik Muhammadiyah yang diangkat adalah semangat modernisasi Islam berkemajuan. Contohnya, warga Muhammadiyah yang berkhotbah dengan baju batik menunjukkan akulturasi budaya tanpa meninggalkan nilai Islam, serta pelopor santri eksekutif yang berpakaian rapi sejak awal berdirinya Madrasah Mu’allimin.
Dr. Suwardi juga memaparkan kontribusi Muhammadiyah dalam menghargai sains dan teknologi, termasuk penelitian Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) selama delapan tahun yang melibatkan teknologi peneropongan bulan tercanggih, sehingga waktu Subuh dimundurkan delapan menit.“Metode dakwah Muhammadiyah adalah ad-dakwah bil hal, dakwah melalui perbuatan nyata, bukan hanya perdebatan furu’iyah yang tidak produktif,” katanya.Ia mencontohkan Teologi Al-Ma’un yang diajarkan KH Ahmad Dahlan, di mana murid tidak boleh pindah surat sebelum mengamalkan isinya. Semangat ini melahirkan ribuan sekolah, rumah sakit PKU, panti asuhan, Lazismu, hingga Rumah Sakit Terapung.Di bagian akhir tausiyah, Dr. Suwardi menyoroti krisis literasi di kalangan mahasiswa yang lebih memilih media sosial daripada membaca buku fisik. Ia menantang generasi emas 2045 untuk menghidupkan kembali halaqah diskusi mingguan di perpustakaan dan kampus Muhammadiyah agar tradisi keilmuan Islam dapat terus berkembang. (FJ)






