Madiun – Literasi dan karya menjadi salah satu penekanan dalam kepengurusan baru Pimpinan Ranting Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PR-IPM) MBS Prof Hamka Kampus Putri periode 2026–2027. Hal itu disampaikan Kepala SMP MBS Prof Hamka Kota Madiun, Imron Wafdurrahman, saat pelantikan PR-IPM Kampus Putri, Ahad (11/10/2026).
Dalam sambutannya, Imron mengingatkan bahwa menjadi pengurus IPM merupakan kesempatan berharga untuk belajar dan mengembangkan diri. Menurutnya, proses ber-IPM dapat membentuk mental yang berbeda dibandingkan dengan pelajar yang tidak mengikuti organisasi.
Ia menyebut kepercayaan yang diberikan teman-teman dan asatidz sebagai kesempatan istimewa bagi pengurus baru untuk berproses dan belajar.
“Kalian adalah anak-anak yang dipilih oleh teman kalian dan asatidz. Mereka semua yakin dan percaya bahwa kalian sanggup,” tuturnya.
Lebih lanjut, Imron mengajak para pengurus memahami semboyan IPM, Nuun Walqolami Wamaa Yasthuruun Ia menjelaskan bahwa semboyan tersebut mengandung pesan yang dapat menjadi pedoman bagi kader dalam menjalankan organisasi.
Menurutnya, Nuun merupakan rahasia Allah yang tidak diketahui manusia. Ia mengibaratkan bentuknya seperti mangkuk dengan titik di tengah. Imron mengajak para pengurus untuk senantiasa mengingat Allah dan menjalankan aturan-Nya dalam setiap proses berorganisasi.
Sementara itu, Walqolami dimaknai sebagai pena atau alat tulis. Bagian ini, lanjutnya, menegaskan bahwa literasi merupakan ruh gerakan IPM.
“Geraknya gerakan intelektual. Harga mati bahwa IPM harus pintar, harus cerdas. Belajar terus. Kalau bisa, buat program pengurus IPM wajib membaca satu buku dalam satu minggu,” pesannya.
Adapun Wamaa Yasthuruun berarti apa yang dituliskan. Imron menekankan bahwa kecerdasan kader IPM perlu diwujudkan dalam karya yang bermanfaat, baik berupa tulisan maupun bentuk karya lainnya.
Karena itu, ia menantang pengurus baru untuk membuat setidaknya satu program yang dapat terus dilanjutkan oleh kepengurusan berikutnya. Dengan demikian, hasil kerja pengurus tidak berhenti ketika masa jabatan berakhir, tetapi bisa menjadi pijakan bagi kepengurusan selanjutnya.
Belajar Memimpin dan Bekerja Sama
Semangat untuk terus belajar dan berkembang juga menjadi perhatian ketua PR-IPM yang baru dilantik, Shabrina Azmi Umarella. Ia mengatakan bahwa ber-IPM menjadi kesempatan untuk mempelajari banyak hal dan membentuk pribadi yang lebih bermanfaat bagi orang lain.
Ia menyadari, menjalankan organisasi tidak bisa dilakukan seorang diri. Kerja sama dan kesediaan untuk saling membantu menjadi bagian penting dalam menjalankan program.
“Saya tidak bisa sendirian, tetapi membutuhkan kerja sama semua elemen. Kalau ada kesulitan, saling membantu,” ungkapnya.
Senada dengan hal tersebut, Bidang KDI PD-IPM Kota Madiun, Amalia Nafisa Balqis mengingatkan bahwa pergantian kepengurusan merupakan kesempatan bagi kader untuk bertumbuh bersama dan belajar bekerja dalam sebuah organisasi.
“IPM bukan hanya jabatan, tetapi bertumbuh bersama dan bekerja sama. Selamat mengemban amanah,” tuturnya.
Ketua Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Kota Madiun, Sri Sumarti, mengingatkan bahwa amanah sebagai pengurus IPM memang tidak ringan. Namun, dengan menjalaninya secara bersama-sama dan penuh kesungguhan, para pengurus dapat belajar menghadapi tantangan sekaligus membawa organisasi ke arah yang lebih baik.
Menurutnya, ber-IPM juga menjadi kesempatan bagi pelajar untuk belajar menjadi pemimpin. Bekal ilmu dan pengalaman selama berorganisasi dapat membantu mereka menentukan langkah dan mencapai tujuan.
Ia mengajak pengurus baru untuk saling mendukung dan memanfaatkan masa kepengurusan sebagai ruang untuk terus belajar dan berkembang.






