Wakil Menteri Diktisaintek Kunjungi UM Jatim (UMMAD), Beri Arahan Soal Konsolidasi Idiil Membesarkan Perguruan Tinggi

MADIUN – Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, Teknologi, Prof. Dr. Fauzan, M.Pd melakukan kunjungan kerja di UM Jatim (Universitas Muhammadiyah Jawa Timur) yang sebelumnya bernama Universitas Muhammadiyah Madiun (UMMAD), Sabtu, 6 Juni 2026.

Kehadiran mantan Rektor UMM dua periode tersebut diterima civitas akademika UM Jatim terdiri dari pejabat struktural, dosen dan tendik di Ruang Rapat I Kampus I UM Jatim.

Wamen Diktisaintek menyampaikan pengarahan didepan civitas akademika UM Jatim sekitar 40 menit.

Disampaikan Fauzan, untuk membangun perguruan tinggi menjadi besar dibutuhkan budaya kerja yang produktif dan inovatif. 

“Jangan menggunakan budaya kerja yang biasa-biasa saja. Ibarat mengikuti lomba balap, kalau kita bisa lebih cepat sejak awal akan lebih bagus,” ujar Fauzan.

Namun ditekankan Fauzan, agar bisa cepat berjalan diperlukan konsolidasi, artinya merapatkan shaf layaknya imam shalat itu yang harus melihat dulu para makmum sudah rapi atau belum shaf-nya.

“Apa yang dirapatkan, tidak hanya fisik tapi juga niat. Maka harus ada konsolidasi idiil (pedoman) dengan semua terlibat dalam manajemen kampus, harus tahu arah kampus mau dibawa kemana, itu salah satu konsolidasi idiilnya,” terang Guru Besar bidang Pendidikan tersebut.

Konsolidasi idiil juga mengenai cita-cita, lalu style (gaya) kerja. Gaya kerja ini menurut Fauzan, sangat penting.

Disampaikan Fauzan, ia sengaja tidak membuka jas kerja (dalam pertemuan) karena iamenghadapi orang-orang yang dituntut kerja serius. Menurutnya, performance itu memperlihatkan keseriusan.

“Konsolidasi idiil itu adalah konsolidasi yang sifatnya non material seperti cita cita, komitmen integritas, loyalitas,” ujar Fauzan.

Soal loyalitas misalnya, Fauzan menekankan pemahaman agar civitas akademika UMJT jangan sampai tidak menunjukkan loyalitas saat berada di luar kampus.

“Jangan sekali-kali dalam lingkungan UMJT ini, saat keluar bapak ibu tidak menunjukan loyalitas.  Ini akan jadi penyakit. Rejeki yang diterima bisa jadi tidak berkah. Hal seperti ini memang harus dipahami betul,.” Ujar Fauzan.

Hal yang termasuk dalam konsolidasi idiil dalam pengelolaan perguruan tinggi adalah komitmen waktu kerja dengan menjadikan kampus sebagai rumah kedua sehingga hubungan yang tercipta bukan transaksional.

Dalam konteks UMJT (UMMAD), Fauzian menyahampaikan, mumpung masih kecil, harus bisa dipetakan hal-hal yang kecil yang harus dilakukan.

Pelayanan harus humanis, tidak hanya sekedar melayani mahasiswa tapi melayani agar mahasiswa merasa senang.

Fauzan juga mengajak, civitas akademika UMJT memiliki keyakinan bahwa nanti kampus ini akan besar.

Maka dilarang memelihara pikiran stagnan, membiarkan cara berfikir biasa-biasa saja  tapi menggunakan standar berfikir yang luar biasa.

“Kita harus merasa jika tertinggal itu rasanya gimana sih, tergopoh-gopoh untuk mengejar. Jangan sudah tertinggal merasa tidak tertinggal. Nah kita ini harus jadi orang tergopoh-gopoh mengejar ketertinggalan,” terang Fauzan. (*)

Bagikan

Baca juga

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Trending

Scroll to Top