Waspada Penyakit Nifaq

Dr. Suwardi Rosyid,M.Pd.I

*​1. Pembuka:* Waspada Penyakit Nifaq

​Sebagai pembuka, marilah kita senantiasa memohon perlindungan Allah dari sifat munafik. Rasulullah SAW telah memberikan alarm bagi kita untuk mengevaluasi diri melalui sabdanya:

​”Tanda-tanda orang munafik ada tiga: jika berbicara ia berdusta, jika berjanji ia mengingkari, dan jika diberi amanah ia berkhianat.” (HR. Bukhari & Muslim)

​Sifat munafik bukan hanya soal status agama, tapi soal integritas antara hati, lisan, dan perbuatan. Tanda lainnya ketika sholat malas jika tidak malas riya’

Kajian pagi ini mengajak kita melihat bagaimana seorang Sahabat Nabi, Said bin Amir Al-Jumahi, bertransformasi dari seorang pemuda Quraisy yang menyaksikan kekejaman menjadi seorang zahid (ahli zuhud) yang sangat takut akan pengadilan Allah.

​2. Inti Kajian: Hikmah Kisah Said bin Amir

​Sebelum masuk Islam, Said bin Amir adalah saksi mata peristiwa tragis di Tan’im, yaitu eksekusi mati seorang Sahabat Nabi bernama Khubaib bin Adi.

​Detik-Detik Eksekusi Khubaib bin Adi

​Khubaib adalah seorang mualaf yang ditawan kaum Quraisy. Said melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Khubaib tetap tenang menghadapi maut. Sebelum disalib, Khubaib meminta izin untuk salat dua rakaat. Itulah salat yang sangat tenang, khusyuk, namun singkat karena Khubaib tidak ingin dianggap takut mati.

​Doa yang Menggetarkan Arasy

​Saat tubuhnya mulai disiksa, kaum Quraisy bertanya, “Apakah kamu mau jika Muhammad menggantikan posisimu sekarang?”

Khubaib menjawab dengan tegas:

​”Demi Allah, aku tidak sudi merasa tenang bersama anak istriku, sementara Rasulullah tertusuk satu duri pun di tempat beliau berada.”

​Khubaib kemudian berdoa: “Ya Allah, hitunglah jumlah mereka, hancurkanlah mereka satu per satu, dan janganlah Engkau sisakan seorang pun!”

​3. Hikmah untuk Kehidupan Kita

​Peristiwa ini membekas di hati Said bin Amir hingga ia masuk Islam. Kelak, saat Said menjadi Gubernur di Syam, ia sering jatuh pingsan secara tiba-tiba. Ketika ditanya alasannya, ia menjawab:

​Trauma akan Pembiaran: Said merasa berdosa karena saat itu ia melihat kezaliman terhadap Khubaib tapi diam saja. Ia takut Allah tidak mengampuninya karena tidak menolong saudara seiman.

​Kekuatan Pendirian: Said belajar dari Khubaib bahwa iman yang benar adalah yang tidak goyah meski nyawa taruhannya. Ini adalah lawan dari sifat munafik yang mudah “menjual” prinsip demi keselamatan duniawi.

​Zuhud terhadap Jabatan: Meski menjadi Gubernur, Said hidup sangat sederhana hingga namanya masuk dalam daftar orang miskin yang berhak menerima zakat. Ia tidak ingin jabatan menjadi beban di akhirat.

​4. Kesimpulan & Penutup

​Dari kajian pagi ini di Masjid Baiturrahim, ada tiga poin utama yang bisa kita bawa pulang:

​Jauhi Sifat Munafik: Mari hiasi lisan dengan kejujuran agar kita tidak tergolong orang yang merugi.

​Solidaritas Muslim: Belajar dari kegelisahan Said bin Amir, kita diingatkan untuk peduli terhadap penderitaan sesama Muslim.

​Ketenangan dalam Ibadah: Contohlah salat dua rakaat Khubaib bin Adi yang menjadi sumber kekuatannya menghadapi ujian terberat.

​Semoga Allah SWT menjauhkan kita dari sifat nifaq dan mengumpulkan kita bersama para hamba-Nya yang istiqomah.

​Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Bagikan

Baca juga

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Trending

Scroll to Top