Kemampuan berbicara di depan publik masih menjadi titik lemah di banyak sekolah. Workshop public speaking di SMA Muhammadiyah Piyungan mencoba menjawab persoalan ini, sekaligus menyoroti bahwa literasi komunikasi belum menjadi prioritas utama dalam ekosistem pendidikan.
Program pengabdian masyarakat dari Prodi Ilmu Komunikasi UMY menggelar workshop public speaking di SMA Muhammadiyah Piyungan. Kegiatan ini melibatkan kepala sekolah, guru, dan siswa sebagai peserta utama, menandai pendekatan kolaboratif dalam peningkatan kapasitas komunikasi.
Erwan Sudiwijaya selaku ketua tim pengabdian masyarakat menuturkan bahwa workshop ini tidak hadir tanpa latar belakang. Observasi timnya menemukan persoalan mendasar: kemampuan public speaking di lingkungan sekolah masih rendah, terutama dalam aktivitas di luar kelas seperti presentasi promosi sekolah atau peran guru dalam kegiatan sosial sebagai pembawa acara.
Kepala sekolah SMA Muhammadiyah Piyungan, Lustia Bekti R, menilai persoalan ini berdampak langsung pada branding sekolah. Dalam praktiknya, sekolah membutuhkan figur-figur yang mampu tampil komunikatif di ruang publik, bukan sekadar kompeten secara akademik.
Kondisi ini mencerminkan masalah yang lebih luas. Banyak institusi pendidikan masih menempatkan kemampuan komunikasi sebagai keterampilan tambahan, bukan kompetensi inti. Akibatnya, siswa dan guru kerap “siap isi, tapi tidak siap tampil”.
Workshop yang dibawakan oleh Mutya Annisa, penyiar Volks Radio Jogja sekaligus alumnus Prodi Ilmu Komunikasi UMY, mencoba memecah kebuntuan tersebut melalui pendekatan praktis. Materi disusun seperti format penyiaran radio, mencakup pelatihan vokal, produksi program, dan aspek teknis siaran.
Pada sesi vokal, Mutya melatih peserta untuk melakukan pemanasan seperti humming dan lip roll, hingga mengasah artikulasi dan intonasi. Kemudian dilanjutkan denga konsep “theatre of mind” untuk membangun imajinasi audiens melalui suara. Menjadi pendekatan baru dalam pembelajaran formal di sekolah.
Sementara itu, pada aspek produksi, peserta belajar menyusun naskah dengan struktur Hook–Body–Punchline, serta teknik bridge untuk menjaga alur komunikasi. Pendekatan ini menunjukkan bahwa public speaking bukan sekadar bakat, tetapi keterampilan yang bisa dirancang secara sistematis.
Agar kemampuan public speaking ini dapat terus di asah, tim pengabdian masyarakat memanfaatkan dana hibah untuk menghidupkan kembali radio sekolah. Bekerja sama dengan teknisi radio Geyong Christianto. Radio sekolah kembali didesain agar mampu mengatur alur audio harian sekolah—dari murotal pagi, doa bersama, hingga musik saat istirahat—seperti sebuah “stasiun siaran mini” dalam lingkungan pendidikan.
Namun pertanyaannya, apakah pelatihan satu kali cukup? Testimoni kepala sekolah menyebut adanya perubahan signifikan dalam pemahaman teknis. Tetapi perubahan perilaku komunikasi membutuhkan proses yang lebih panjang dari sekadar workshop singkat.
Di tengah tuntutan era digital yang menuntut setiap individu menjadi “penyiar” bagi dirinya sendiri, kemampuan berbicara di depan publik bukan lagi pilihan. Tanpa pembenahan yang berkelanjutan, sekolah berisiko menghasilkan generasi yang mahir berpikir, tetapi masih ragu untuk bersuara di ruang publik.






