Ketika AI Turut Berdebat, KHGT, Identitas Ormas, dan Transformasi Ruang Publik Digital

KHGT Muhammadiyah madiun

Perdebatan mengenai Kalender Hijriah Global Tunggal atau KHGT yang digagas oleh Muhammadiyah kembali menghangat di platform X atau Twitter. Namun yang membuat dinamika ini berbeda dari polemik sebelumnya bukan semata substansi fikih atau astronominya, melainkan kehadiran aktor baru dalam perdebatan tersebut: kecerdasan buatan.

Dua entitas digital muncul secara terbuka dalam arena ini. Pertama, AI Noon yang diprakarsai oleh Ainun Najib. Kedua, KHGT AI Agent yang diprakarsai oleh Ismail Fahmi. Keduanya memiliki kecenderungan posisi yang berbeda terhadap KHGT dan secara aktif merespons percakapan daring yang menyebut isu tersebut maupun nama para penggagasnya. Dengan kata lain, bukan hanya manusia yang berdebat, melainkan juga sistem algoritmik yang diprogram untuk berargumen.

Fenomena ini membuka babak baru dalam studi komunikasi publik dan perubahan sosial. Jika sebelumnya AI dipersepsikan terutama sebagai pengganti pekerjaan fisik atau administratif, kini ia memasuki wilayah deliberasi, identitas kolektif, bahkan perdebatan teologis.

Dari Debat Manusia ke Debat Algoritmik

Dalam teori ruang publik Jurgen Habermas, debat rasional merupakan fondasi pembentukan opini publik. Namun dalam konteks digital, ruang publik telah mengalami transformasi menjadi apa yang sering disebut sebagai networked public sphere. Di sini, algoritma platform, bot, dan kini AI generatif menjadi bagian dari infrastruktur diskursif.

Kehadiran AI yang secara otomatis merespons isu KHGT menunjukkan bahwa produksi argumen tidak lagi sepenuhnya bersifat organik. Ia bisa direplikasi, diperbanyak, dan dipercepat secara sistematis. Perdebatan menjadi lebih cepat, lebih luas, dan berpotensi lebih terpolarisasi.

Ini mengingatkan pada konsep mediatization yang dikemukakan Stig Hjarvard, di mana institusi sosial semakin tunduk pada logika media. Dalam kasus ini, bukan hanya tunduk pada logika media, tetapi juga pada logika algoritma.

Teori Perubahan Sosial yang Relevan

Untuk memahami fenomena ini, beberapa pendekatan teori perubahan sosial dapat digunakan. Pertama, determinisme teknologi. Perspektif ini berargumen bahwa perubahan dalam teknologi komunikasi secara signifikan membentuk struktur sosial dan pola interaksi. Kehadiran AI sebagai aktor diskursif mempercepat perubahan cara masyarakat berdebat dan membangun legitimasi. Posisi ormas tidak lagi hanya dipertahankan melalui argumen manusia, tetapi juga melalui sistem otomatis yang terus siaga.

Kedua, teori konstruksi sosial teknologi atau SCOT. Dalam perspektif ini, teknologi tidak netral dan tidak berdiri sendiri. AI Noon maupun KHGT AI Agent tidak muncul di ruang hampa. Mereka adalah hasil konstruksi sosial para penggagasnya yang memiliki latar belakang identitas organisasi berbeda. Dengan demikian, AI menjadi perpanjangan dari habitus, nilai, dan kepentingan sosial pembuatnya.

Ketiga, teori masyarakat jaringan dari Manuel Castells. Dalam masyarakat jaringan, kekuasaan dibentuk oleh kemampuan mengendalikan arus informasi. AI yang mampu merespons cepat dan sistematis terhadap percakapan daring memiliki potensi memperkuat posisi narasi tertentu dalam jaringan komunikasi digital. Kekuasaan tidak lagi hanya pada otoritas formal, tetapi pada siapa yang mampu mengintervensi arus diskursus secara real time.

Keempat, teori arena sosial Pierre Bourdieu. Debat tentang KHGT dapat dipahami sebagai pertarungan dalam arena keagamaan dan simbolik. Modal simbolik berupa otoritas keilmuan dan legitimasi organisasi kini diperluas dengan modal teknologi. Mereka yang mampu memobilisasi AI sebagai alat produksi wacana memiliki tambahan modal dalam arena tersebut.

Identitas, Algoritma, dan Otoritas

Menariknya, AI dalam konteks ini tidak netral secara identitas. Publik mengetahui siapa penggagasnya dan afiliasi sosialnya. Hal ini membuat AI bukan sekadar alat, melainkan simbol representasi kelompok. Ia menjadi avatar ideologis. Ketika seseorang menyebut KHGT, lalu AI tertentu merespons secara otomatis dengan argumen pro atau kontra, maka yang terjadi bukan hanya pertukaran opini, melainkan pertunjukan kekuatan simbolik. Respons cepat dan sistematis dapat memberi kesan bahwa suatu posisi memiliki dukungan luas, terstruktur, dan rasional. Di sini muncul pertanyaan etis dan epistemologis. Apakah argumen yang dihasilkan AI memiliki bobot yang sama dengan argumen manusia? Apakah publik mampu membedakan antara diskursus spontan dan diskursus yang diproduksi mesin?

Dari Otomasi Kerja ke Otomasi Polemik

Banyak diskursus tentang AI berfokus pada ancaman terhadap pekerjaan manusia. Namun fenomena ini menunjukkan bahwa yang terotomasi bukan hanya kerja fisik atau administratif, tetapi juga kerja retoris dan polemis. Jika produksi teks dapat diotomasi, maka produksi legitimasi juga dapat dipercepat. Debat menjadi tidak lagi sekadar ekspresi spontan, melainkan bagian dari strategi komunikasi berbasis teknologi.      Dalam jangka panjang, ini bisa mengubah budaya perdebatan keagamaan di Indonesia. Polemik tidak lagi sepenuhnya berbasis otoritas personal, tetapi pada kapasitas teknologis untuk memproduksi dan mendistribusikan argumen secara masif.

Penutup

Perdebatan mengenai KHGT mungkin akan mereda atau berganti isu. Namun preseden yang tercipta melalui penggunaan AI dalam polemik ini menandai fase baru dalam ruang publik digital Indonesia. Kita sedang menyaksikan pergeseran dari debat antar manusia menuju debat hibrid antara manusia dan mesin. Dalam kerangka perubahan sosial, ini bukan sekadar fenomena teknis, melainkan transformasi struktur produksi wacana. Pertanyaan yang tersisa bukan hanya siapa yang benar dalam soal KHGT, tetapi bagaimana masyarakat akan menata ulang etika, otoritas, dan legitimasi ketika algoritma ikut serta dalam pertarungan gagasan.

Dani Fadillah, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Ahmad Dahlan dan Majelis Pustaka dan Informasi PWM DIY

Uspal Jandevi, Mahasiswa Doktoral Studi Islam Universitas Ahmad Dahlan Konsentrasi Digital dan Media Islam

Bagikan

Baca juga

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Trending

Scroll to Top