Mohsam, Sahabat yang Pergi Terlalu Cepat

Jogja, 12 Peberuari 2026. Ini hari sudah lama aku nanti. Kepastian akhirnya datang setelah sekian tahun menunggu. Sebuah Uji Kompetensi (Ukom) akan dilaksanakan Kementerian Agama nanti malam. Lokasinya di Serpong-Tangerang Selatan. Pukul 06.00 aku selesai berkeliling kampung menggendong Nau cucu ketiga. Sesampai di rumah berita di berbagai group WA membuat aku tersentak. Mataku nanar dan segera basah. Sebuah kepastian lain datang terasa menyengat. Muhammad Syamsudin seorang sahabat dekat rasa kerabat telah berangkat. Keberangkatan yang begitu cepat. Maka sebelum terbang ke Jakarta aku segera menuju PKU Muhammadiyah Gamping. Disana sudah berkumpul banyak sahabat rasa kerabat dekat lainnya. Seiring dengan prosesi penyucian dan pengkafanan berbagai memori bersama alhamrhum pun melintas tiada henti. Lalu menjadi inspirasi tulisan ini.

Pejumpaanku dengan Dr. Muhammad Syamsudin, S.Ag., M.Pd., selanjutnya aku tulis Pak Mohsam, dimulai sejak 1995. Saat itu sebagai dosen muda aku diminta Pak Dasron Rektor UMY menjadi Pembina Padepokan Al-Manaar. Asrama mahasiswa UMY ini beralamat di Jln. KHA. Dahlan 152 Jogja. Lahannya berada di tempat strategis. Meski hanya berupa bangunan Masjid Darussalam dan gedung tua memanjang yang menjadi kamar-kamar mahasiswa. Sebagai Pembina aku mengajukan konsep pengembangan. Tetapi pimpinan UMY tidak setuju. UMY mulai pindah ke Kampus Terpadu di kawasan barat kota Jogja. Ruang-ruang kosong Al-Manaar lalu dimanfaatkan untuk TK ABA Ngampilan. Sebagian ruang lainnya dimanfaatkan “Bina Mentari” lembaga konsultasi psikologi remja milik PP IRM/IPM. Salah satu dedengkotnya adalah Pak Mohsam.

Tetapi sebelumnya aku sudah kenal baik beberapa senior Pak Mohsam. Kami sesama pengurus Pimpinan Daerah IPM Kota Jogja. Sebagian dari kami adalah siswa MAN-1 Jogja. Aku sendiri berasal dari SMA Muhi. Pimpinan yang berasal dari MAN-1 ini awalnya adalah Agus Taufiqurrahman. Belakangan bergabung pula banyak adik kelas Mas Agus Taufik. Salah satunya adalah Mas Jamal kakak kandung. Selanjutnya bergabung pula Pak Mohsam adik Mas Jamal. Juga Irfan Islami, Taufiqurrahman, dan Paryanto. Mereka adalah para aktivis handal yang menjadi pengurus IPM sampai ke tingkat Pusat. Kini mereka sudah menjadi aktivis Persyarikatan di berbagai bidang di Tingkat Pusat. Dokter Agus Taufiqurrahman bahkan kini Ketua PP Muhammadiyah. Tetapi aku tidak bertemu dengan generasi di bawah dokter Agus ini. Saat itu aku sudah hijrah ke Solo mengikuti aliran nasib.

Aku baru bertemu intensif dengan Pak Mohsam Bina Mentari. Lalu kami sama-sama menjadi dosen UMY. Meski aku beberapa tahun lebih dulu. Sebagai sesama aktivis tentu kami cepat akrab. Kamipun banyak terlibat dalam pembinaan mahasiswa. Ketika pada 1999 aku sekolah S-2 jabatanku sebagai PD-3 yang membidangi kemahasiswaan diganti Pak Mohsam. Dua tahun kemudian aku selesai S-2, Pak Mohsam giliran lanjut studi, dan aku kembali menjadi PD-3. Tidak banyak memang yang mau menjadi PD-3 masa ini. Ini adalah masa reformasi yang panas. Jogja menjadi pusat demonstrasi mahasiswa dan UMY dikenal sebagai sarang demonstran. Menjadi PD-3 berarti banyak turun ke jalan. Ketika belakangan aku lanjut sekolah S-3. Pak Mohsam masih banyak terlibat sebagai pimpinan di UMY. Beliau menjadi Dekan FAI UMY fakultas kami pada 2010-2012.

Pada 2012 Pak Mohsam sudah selesai menjalankan perode sebagai dekan. Beliau lalu studi S-3 di Universitas Pendidikan Indonensia (UPI) di Bandung. Pada tahun itu aku selesai S-3 dan setahun kemudian mendapatkan amanat menjadi Dekan FAI untuk periode 2013-2017. Sebagai dekan aku membersamai kebahagiaan Pak Mohsam ketika Ujian Terbuka Doktornya di UPI. Setelah menjadi dekan satu periode aku tidak berminat menjadi pejabat struktural. Sementara Pak Mohsam yang sudah doktor menjadi Kaprodi MSI (2017-2021) pada Pasca Sarjana UMY. Ketika mencari Sekprodi aku kena batunya. Ternyata dosen bergelar doktor yang tidak menjabat tinggal aku sendiri. Maka aku kembali bersama Pak Mohsam menjadi pimpinan. Kali ini beliau menjadi atasanku langsung.

Pada periode berikutnya Mohsam menjadi Kaprodi PAI pada program S-1 (2021-2025). Jabatan ini sudah pernah beliau pegang jauh sebelum menjadi Dekan FAI. Sementara pada periode ini juga aku sempat menjadi Kaprodi MSI yang berganti nama menjadi Prodi MIAI. Aku diperintah Prof Gunawan Rektor UMY untuk memimpin antar waktu. Kaprodi sebelumnya mundur karena alasan kesehatan. Target untukku adalah membawa Prodi MIAI menjadi terakreditasi Unggul. Di UMY, apalagi di FAI, rasanya jabatan memang bukan sesuatu yang diperebutkan. Jabatan di atas, di tengah, atau di bawah tidak masalah. Dari Dekan lalu menjadi Sekprodi adalah hal yang biasa. Bahkan kalau boleh memilih banyak yang ingin non struktural saja. Semoga tradisi baik ini bisa terus bertahan di fakultas kami. Juga di UMY dan di PTM pada umumnya.

Menjadi pimpinan di kampus tidak mengurangi keaktifan Pak Mohsam di Persyarikatan. Beliau tercatat lama di MPK dan dua periode sebagai Wakil Sekretaris Majelis Dikti PP Muhammadiyah. Pada masa ini beliau ditugaskan PP Muhammadiyah membenahi dan menjadi Ketua STKIPM Kuningan-Jawa Barat. Maka beliau ibarat kitiran dimana stasiun dan bandara seakan menjadi rumah kedua. Pernah sebagai kaprodi MSI beliau mengisyaratkan padaku untuk siap naik pangkat. Beliau akan fokus di Kuningan. Tetapi aku menyarankan tidak. Dengan pembagian tugas yang jelas semua pekerjaan bisa diselesaikan. Masalahnya saat itu aku juga tidak kalah sibuk dengan beliau. Sebagai Sekprodi aku juga pengurus Lazismu Pusat. Kantornya di Menteng Raya 62 Jakarta. Awalnya sebagai wakil ketua, lalu sekrataris, dan akhirnya ketua. Pada beberapa bulan aku bahkan menjadi ketua sekaligus direktur utama.

Setahun belakangan aku kembali sering bers Pak Mohsam. Aku seakan mengikuti jejak beliau ketika diminta Majelis Dikti menjadi ketua STKIPM Sungai Penuh. Ini sama sekali tidak terbayangkan sebelumnya. Kalau Pak Mohsam bolak-balik Jogja-Kuningan hanya lintas dua propinsi. Aku harus lintas delapan propinsi dan dua pulau. Aku pun kembali banyak belajar pada Pak Mohsam. Beliau terbukti berhasil membesarkan STKIPM menjadi UM Kuningan. Untuk keperluan ini Pak Mohsam bahkan sudah sampai di Sungai Penuh. Majelis Dikti memang total mendukung tugasku ke Sungai Penuh ini. Selain Pak Mohsam, pengurus Majelis lainnya Pak Adam dan Prof Mahfud juga sudah sampai di Sungai Penuh. Ini tentu perjalanan tidak ringan. Untuk sampai di kampus kami di pedalaman Sumatera sana dari bandara aktif terdekat diperlukan perjalan darat minimal delapan jam.

Pak Mohsam memiliki energi yang luar biasa. Dia seakan tidak mengenal lelah. Beliau pernah lama menjangkau Jogja dari Wonosari. Tetapi beliau menjalani seabrek aktivitas ini tanpa mengeluh. Meski terkadang kami bertemu di kantor MSI dalam kondisi sama-sama kelelahan. Wajah kusut, suara parau, dan bau napas tidak enak. Tetapi sebagai aktivis keletihan ini sering kurang dirasakan. Aku diuntungkan karena mudah mengantuk. Kalau sudah sangat letih aku bisa bisa terlelap dimana saja. Lalu bugar kembali. Setelah menjalani MCU dua tahun lalu aku mulai kembali rutin berolahraga. Terutama jalan kaki dan sepakbola. Baik di Jogja maupun di Sungai Penuh-Kerinci. Ini yang nampaknya belum banyak dilakukan Pak Mohsam. Ujar beliau pada suatu kesempatan “paska covid olahragaku mandeg. Saiki bobotku mundak terus.”

Stasiun Gambir, tiga minggu yang lalu. Aku bersama Pak Mohsam dan Ketua BPH STKIPM-SP pulang dari Kantor PP Muhammadiyah. Disana kami mempertemukan Pak Murady pewakaf Kampus Terpadu kami dengan Ketua Majelis Dikti Prof Bambang Setiaji. Ikut bergabung Prof Irwan Akib. Di Gambir kami menunggu kereta pulang ke Jogja. Tiba-tiba Pak Mohsam menghilang. Sejenak kemudian beliau muncul lagi. Kali ini dalam kondisi badan sudah bersih dan segar. Rupanya beliau selesai mandi di lantai dua stasiun. Statisun ini sudah seperti rumah kedua baginya. Ternyata ini pertemuan terakhirku dengan Pak Mohsam. Kamarin pagi di PKU Muhammadiyah Gamping aku bersama beberapa kerabat dan sahabat dekat mengangkat jenazah beliau. Pak Mohsam nampak lebih bersih dan lebih segar. Kali ini Engkau berangkat terlalu cepat sahabat. Allaah Ta’ala ternyata lebih menyayangimu.

Grand Serpong-Tangerang, 13 Pebruari 2026
Mahli Zainuddin Tago (dosen Fakultas Studi Islam dan Peradaban Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Ketua STKIP Muhammadiyah Sungai Penuh)

Bagikan

Baca juga

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Trending

Scroll to Top