Kemeriahan Kongres Muhammadiyah di Magetan di tahun 1934

Pergerakan Muhammadiyah di karesidenan Madiun telah mendapat dukungan masyarakat sejak masa kolonialisme. Sebuah berita dari De Indische courant 6 November 1934 mengabarkan berita tentang kongres Muhammadiyah di Magetan. Kata kongres di sini merujuk pada musyawarah di tingkat kabupaten. Berikut adalah terjemahan bebas yang disesuaikan dengan ejaan terkini.

Kehidupan Rohani, Muhammadiyah

Pertemuan di Magetan

Koresponden di Magetan. Afdeling Magetan dari Muhammadiyah mengadakan kongres besar pada hari Sabtu 2 dan Minggu 3 November lalu, yang diselenggarakan di Magetan dengan minat yang luar biasa.Persiapan untuk kongres ini telah dilakukan sejak lama, sehingga semuanya berjalan dengan baik dan tertib.Pada pagi hari Minggu, 3 November, para peserta kongres sudah mulai berdatangan dalam jumlah besar. Ruangan pertemuan dipenuhi oleh anggota-anggota Muhammadiyah, baik pria maupun wanita.

Dari berbagai penjuru di seluruh Jawa, bahkan ada yang datang dari luar Jawa, mereka berkumpul di Magetan untuk mengikuti kongres ini.Pada sore hari diadakan pertemuan besar dengan program yang padat. Acara dimulai dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an, kemudian dilanjutkan dengan pidato-pidato dari para pembicara.Dalam rapat pleno tersebut, dibahas berbagai masalah penting yang menyangkut kemajuan umat dan organisasi Muhammadiyah.Ada pameran kerajinan tangan, pakaian wanita, dan berbagai hasil karya anggota Muhammadiyah yang dipamerkan dengan sangat menarik.

Para pemuda dan pemudi Muhammadiyah juga mengadakan pertunjukan seni, termasuk musik dan nyanyian yang menghibur para hadirin.Pada malam harinya diadakan pertemuan terbuka untuk umum di lapangan terbuka. Ribuan orang hadir menyaksikan acara tersebut.Para pembicara muda tampil dengan penuh semangat menyampaikan pesan-pesan keagamaan dan kebangsaan.Kongres ini berlangsung sangat meriah dan sukses. Semua peserta pulang dengan hati penuh semangat dan tekad untuk terus mengabdi kepada agama dan bangsa.

Konteks Berita

Muhammadiyah mulai masuk dan berkembang di Magetan sekitar tahun 1930-an (rentang 1932–1933), sebagai bagian dari ekspansi organisasi ini ke Jawa Timur setelah berdiri di Yogyakarta pada 1912. Pada masa itu, Muhammadiyah sedang giat memperluas cabang-cabangnya di berbagai daerah Jawa, termasuk di wilayah-wilayah seperti Madiun, Ngawi, dan Magetan yang berdekatan. Cabang atau afdeling Muhammadiyah Magetan termasuk salah satu yang relatif baru pada periode tersebut, dan kongres lokal seperti yang dilaporkan dalam berita tersebut menjadi bukti awal konsolidasi dan semangat pertumbuhan organisasi di tingkat daerah.Konteks Kongres di Magetan tahun 1934. Berita tersebut merujuk pada kongres besar afdeling Magetan pada 2–3 November 1934, mengingat gaya bahasa koran lama, ejaan Belanda seperti “Moehammadijah” dan “Magetan”, serta konteks historis ekspansi Muhammadiyah pra-kemerdekaan). Kongres semacam ini biasanya bersifat lokal/regional, bukan kongres nasional Muhammadiyah (yang biasa disebut Kongres Muhammadiyah dan diadakan di kota-kota besar seperti Yogyakarta, Solo, atau Pekalongan).Acara tersebut menunjukkan:

  • Semangat massa yang tinggi: Ratusan peserta dari berbagai penjuru Jawa (bahkan luar Jawa) berdatangan, termasuk pria dan wanita, pemuda-pemudi.
  • Aktivitas khas Muhammadiyah era awal: Pembacaan Al-Qur’an, pidato keagamaan dan kebangsaan, pameran kerajinan tangan dari perempuan yang aktif di ‘Aisyiyah, pertunjukan seni/musik oleh pemuda, serta pertemuan terbuka untuk umum di lapangan (ribuan hadirin).
  • Fokus gerakan: Kemajuan umat, organisasi, pendidikan, dan dakwah. Ini mencerminkan misi utama Muhammadiyah di masa kolonial: pembaharuan Islam (purifikasi ajaran, pendidikan modern, kesejahteraan sosial), sambil menjaga semangat nasionalisme melawan penjajahan Belanda.
  • Ada juga catatan menarik dari sumber lain bahwa pada November 1934, alun-alun Magetan menjadi arena olahraga spektakuler dalam Kongres Muhammadiyah (pertandingan sepak bola antar cabang), menunjukkan bahwa Magetan pernah menjadi lokasi acara besar Muhammadiyah di era itu.

Secara keseluruhan, berita tersebut adalah saksi awal keberhasilan Muhammadiyah menanam akar di Magetan pada masa kolonial, di lereng Gunung Lawu, yang kemudian berkembang menjadi salah satu basis kuat organisasi ini di Jawa Timur. Acara kongres itu mencerminkan semangat “hidup rohani” (geestelijk leven) yang menjadi judul berita: fokus pada pembinaan jiwa, dakwah, dan kemajuan umat di tengah penjajahan.

Fajar Junaedi, tim pengembang Universitas Muhammadiyah Madiun.

Bagikan

Baca juga

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Trending

Scroll to Top