Peran Muhammadiyah di Madiun dalam Arsip Berita di Masa Kolonial, Rencana Pembangunan Klinik di Barat Magetan

Tahun 1934 merupakan masa di mana Muhammadiyah, sejak didirikan 1912 oleh KH Ahmad Dahlan, sedang berkembang pesat sebagai organisasi modern Islam yang fokus pada pembaruan agama, pendidikan, dan pelayanan sosial. Ini terutama melalui bagian PKO atau Penolong Kesengsaraan Oemoem, yang menangani kesehatan, yatim piatu, dan bantuan sosial.

Pada 1920-an hingga 1930-an, Muhammadiyah memang aktif mendirikan poliklinik, rumah sakit kecil, sekolah, dan rumah yatim di berbagai daerah Jawa, termasuk wilayah pedesaan seperti Magetan (Madiun), untuk menjangkau masyarakat desa yang sulit akses ke fasilitas kesehatan pemerintah kolonial atau swasta. Koran De Indische Courant, edisi 15 November 1934, memuat berita berjudul „Moehammadiyah.“ Berikut terjemahan bebas dan mengalir dari berita tersebut.

Koresponden kami di Madioen melaporkan:Cabang Madioen dari Vereniging „Moehammadiyah“ telah membatalkan rencananya untuk mendirikan sebuah poliklinik kecil di wilayah Karangredjo dan Barat (Magetan) demi kepentingan penduduk di sekitar sana.Tujuan dari hal ini adalah agar penduduk desa yang tinggal di sekitar pabrik gula Magetan tidak perlu lagi terikat dan pergi ke sana untuk mendapatkan bantuan medis.Seorang mantri-verpleger (perawat/tenaga kesehatan berijazah) yang sudah terlatih telah berada di lokasi tujuan tersebut, sementara rencananya adalah untuk menempatkan satu atau dua tempat tidur (krib) di poliklinik kecil itu, sehingga pasien yang membutuhkan dapat dirawat di tempat.

Poliklinik tersebut rencananya akan didirikan di Barat sendiri. Vereniging (organisasi) ini berusaha untuk menyediakan beberapa instrumen medis dan seorang medisch-jinist (asisten medis/dokter pembantu), serta beberapa kebutuhan lainnya yang diperlukan dalam sebuah poliklinik kecil yang sederhana.Pengurus telah memberitahukan rencana ini kepada asisten-wedana (pejabat pemerintahan setempat) yang terkait. Namun, hal ini ditegaskan bahwa mereka tidak ingin bermain-main dengan kepercayaan sendiri atau bersaing dengan dokter pemerintah; kerjasama dengan pemerintah dan pengurus akan tetap dipertahankan.Ini menyangkut pemberian bantuan kepada penduduk desa dalam kasus-kasus kecil, daripada langsung melalui „Moehammadiyah“, sehingga mereka dapat dibantu, dan untuk itu seorang mantri-verpleger berijazah sangat menonjol di tempatnya.Pekerjaan sosial yang indah yang dilakukan oleh organisasi ini di kalangan penduduk bumiputera (pribumi) patut mendapat apresiasi.

Konteks Berita

De Indische Courant adalah salah satu surat kabar Belanda terkemuka di Hindia Belanda (sekarang Indonesia) pada masa kolonial, terbit di Batavia (Jakarta). Koran ini bersifat pro-pemerintah kolonial, sering kali netral hingga konservatif, dan cenderung melaporkan berita dari perspektif Eropa/Belanda. Koran ini memberi Nada berita positif dan apresiatif (“pekerjaan sosial yang indah… patut mendapat apresiasi”), yang agak jarang untuk koran kolonial ketika meliput organisasi Islam modern. Ini menunjukkan bahwa pada 1934, Muhammadiyah dipandang kooperatif karena mereka bekerja sama dengan pemerintah misalnya melibatkan dokter pemerintah dan mantri berijazah dalam memajukan kesehatan.

Berita ini melaporkan rencana cabang Madioen Muhammadiyah untuk membuka poliklinik kecil di Karangredjo dan Barat (sekitar Magetan), khusus agar petani/penduduk desa di sekitar pabrik gula tidak perlu jauh-jauh ke kota. Ini mencerminkan upaya Muhammadiyah untuk mengatasi kesenjangan kesehatan di pedesaan, di mana pabrik gula (seperti di Magetan) sering mempekerjakan buruh desa yang rentan sakit.

Nada berita positif dan apresiatif (“pekerjaan sosial yang indah… patut mendapat apresiasi”), yang agak jarang untuk koran kolonial ketika meliput organisasi Islam modern. Penggunaan istilah seperti “mantri-verpleger” (tenaga kesehatan bumiputera berijazah pemerintah) dan penekanan “tidak ingin bersaing dengan dokter pemerintah” menunjukkan Muhammadiyah berusaha menjaga hubungan baik dengan otoritas kolonial agar program sosialnya tidak dihalangi.

Secara keseluruhan, berita ini merupakan contoh bagaimana pers kolonial Belanda kadang memuji inisiatif sosial Muhammadiyah sebagai “sosial werk” yang bermanfaat bagi “Inlandsche bevolking” (penduduk pribumi), sekaligus menggarisbawahi bahwa kegiatan itu tetap dalam kerangka kooperasi dengan pemerintah Hindia Belanda. (FJ)

Bagikan

Baca juga

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Trending

Scroll to Top